Berhubungan seks dengan pasangan seksual yang lebih tua berhubungan dengan peningkatan risiko dari infeksi HIV pada pria gay yang lebih muda, dan laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL), para peneliti dari Carolina Utara melaporkan pada Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes versi internet.

Setelah memperhitungkan faktor risiko lainnya untuk infeksi HIV, para peneliti menemukan bahwa seorang pria berusia di bawah 23 tahun yang melaporkan pasangan seks berusia lima tahun lebih tua dari dirinya, memiliki risiko lebih dari dua kali lipat untuk terinfeksi HIV.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan mitra seks yang lebih tua secara signifikan terkait dengan infeksi HIV primer di antara sampel laki-laki muda yang berhubungan seks dengan laki-laki di Carolina Utara”, komentar para peneliti.

Gay dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki tetap merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak oleh HIV. Peningkatan prevalensi pada populasi ini sesuai dengan umur. Penelitian yang dilakukan di AS pada pertengahan tahun 1990 menemukan bahwa pria yang melaporkan pasangan seks laki-laki yang lebih tua secara bermakna lebih mungkin HIV-positif.

Hampir dua pertiga dari diagnosa HIV baru di kalangan gay dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki di Carolina Utara adalah di antara mereka yang berusia di bawah 25 tahun.

Oleh karena itu, peneliti dari Social Networks and Partnership Study (SNAP) melakukan studi untuk melihat apakah umur pasangan seks adalah faktor risiko untuk infeksi baru dengan HIV.

Sebanyak 74 laki-laki direkrut untuk penelitian, 20 dari mereka baru saja terinfeksi HIV. 54 orang adalah HIV-negatif.

Peserta penelitian memberikan informasi sosio-demografis, rincian dari perilaku seksual dan penggunaan narkoba, dan usia dari tiga pasangan seksual terakhir mereka.

Tiga perempat dari para peserta penelitian tersebut berusia di bawah 25 tahun. Usia rata-rata orang-orang dengan infeksi HIV baru adalah 25 tahun, sedangkan laki-laki HIV-negatif memiliki usia rata-rata sedikit lebih rendah yaitu 22,5 tahun.

Ada perbedaan rasial yang signifikan antara dua kelompok studi. Pria dengan HIV secara bermakna lebih mungkin bukan pria berkulit putih daripada laki-laki HIV-negatif (60% vs 33%, p = 0,03).

Pria yang melaporkan melakukan hubungan seks setelah menggunakan narkoba atau alkohol lebih mungkin baru terinfeksi HIV (p <0,001). Tidak mengherankan, perlindungan seks anal dengan pasangan HIV-positif, atau pasangan status tidak diketahui, merupakan faktor risiko yang signifikan untuk infeksi HIV baru (p <0,05). Para peneliti juga menemukan bahwa orang dengan infeksi primer lebih mungkin melaporkan seks dengan pasangan yang dikenal memiliki HIV (p = 0,01).

Usia juga muncul sebagai faktor risiko yang signifikan.

Para pasangan dari laki-laki yang baru terinfeksi HIV adalah rata-rata enam tahun lebih tua daripada pasangan dari laki-laki HIV-negatif (30 tahun vs 24 tahun, p <0,01).

Laki-laki HIV-negatif melaporkan perbedaan usia pasangan seks adalah rata-rata empat bulan. Namun, usia rata-rata dari pasangan laki-laki HIV-positif adalah hampir empat tahun lebih tua.

Setelah menyesuaikan untuk ras, seks di bawah pengaruh obat atau alkohol, dan hubungan serodiskordan, para peneliti menemukan bahwa risiko infeksi HIV adalah dua kali lipat jika seorang pria melaporkan memiliki pasangan seks yang berusia lima tahun lebih tua darinya (CI 95%: 1,2-3,3).

Para peserta penelitian tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang berusia di bawah 23 tahun dan lebih dari 23 tahun.

Seorang pria yang berusia 23 tahun atau lebih muda memiliki peningkatan 2,5 kali dari risiko HIV jika ia memiliki pasangan seksual berusia 28 tahun atau lebih tua (95% CI, 1,2-5,4). Untuk pria berusia 24 tahun atau lebih tua, risiko tersebut meningkat dua kali lipat (95% CI, 0,06-6,1), tapi hal ini tidak signifikan.

“Singkatnya, laki-laki muda yang berhubungan seks dengan laki-laki di Carolina Utara yang memilih pasangan seks yang lebih tua memiliki peluang lebih besar tertular HIV, bahkan setelah mengendalikan perilaku berisiko tinggi yang spesifik”, para peneliti menyimpulkan.

Dalam sebuah artikel Invited Response, para pembuat model epidemiologi, Brian Coburn dan Sally Blower, mencatat bahwa hanya berdasarkan distribusi umur laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, pria muda lebih cenderung memilih pasangan lebih tua dari usia mereka sendiri.

Pemodelan berdasarkan populasi San Francisco oleh Sally Blower yang diterbitkan pada tahun 1997 menemukan bahwa MSM muda adalah empat kali lebih mungkin untuk memilih pasangan lebih tua dari rentang usia mereka sendiri, dan analisis penulis terhadap risiko penularan HIV di penelitian San Francisco Men’s Health Study menemukan bahwa, bagi seorang pria yang berusia di bawah 30 tahun, risiko terinfeksi HIV adalah dua kali lipat jika pasangannya berusia di atas 30 tahun, dan risiko ini meningkat lima kali lipat jika semua pasangannya berusia di atas 30 tahun.

Mereka berkomentar: “Pejabat kesehatan masyarakat perlu membuat LSL sadar bahwa pencampuran usia merupakan faktor risiko untuk infeksi HIV. Selain itu, LSL muda perlu diberitahu besarnya risiko infeksi HIV karena pencampuran usia dibandingkan dengan besarnya risiko karena faktor-faktor risiko tradisional lainnya … Mudah-mudahan penelitian ini membuat faktor risiko yang tidak diakui ini untuk menerima perhatian yang layak.”