Putra Jati Melayu

28 November, 2008

Peraturan Bersama Empat Menteri Kontraproduktif

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja, Politik — jundul @ 09:11:44

Terbitnya peraturan bersama empat menteri terkait pengupahan dinilai sebagai sikap reaksioner pemerintah. Peraturan itu kontraproduktif karena di satu sisi pemerintah ingin meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi di sisi lain kenaikan upah buruh yang sesuai kebutuhan hidup layak terganjal peraturan ini.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Mohamad Ikhsan Modjo mengungkapkan hal itu dalam diskusi ”Proyeksi Ekonomi: Krisis Finansial, Kontestasi Politik dan Prospek Ekonomi 2009” di Jakarta

.

Ikhsan menjelaskan, kebijakan pengupahan itu tidak relevan. Saat pemerintah berkomitmen menjaga konsumsi rumah tangga, upah buruh justru ditekan.

Menurut Indef, komponen upah pada total ongkos produksi hanya 2-30 persen, bergantung pada jenis industrinya. Kenaikan upah minimum tidak akan berdampak signifikan terhadap keuntungan perusahaan.

Menurut Ikhsan, upah minimum tahun 2009 harusnya bisa lebih tinggi jika pemerintah berorientasi pada rasa keadilan sosial. Peningkatan upah mestinya dilihat sebagai hal yang melengkapi produksi, yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas.

”Kenaikan upah dapat meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga dapat menaikkan konsumsi. Ini dibutuhkan untuk mengompensasi kejatuhan ekspor dan investasi,” ujar Ikhsan.

Pada kesempatan terpisah, terkait peraturan bersama empat menteri, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) mengancam berunjuk rasa besar-besaran awal Desember jika peraturan itu tidak dicabut.

Wakil Ketua Umum K-SPSI Mathias Tambing mengatakan, Ketua Umum K-SPSI Jacob Nuwawea telah menyurati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera mencabut peraturan bersama tersebut.

Anggota Komisi Teknis Sosial Kemanusiaan Dewan Riset Nasional Ninasapti Triaswati berpendapat, Indonesia dan negara berkembang lainnya tidak hanya membutuhkan perbaikan institusi keuangan dalam jangka menengah.

Dalam konteks makroekonomi, menurut Ninasapti, juga diperlukan solusi segera untuk mengatasi masalah likuiditas keuangan, keseimbangan pasar, serta masalah ketenagakerjaan.

22 November, 2008

Atasi Gangguan Ketika Bekerja

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 12:11:48

Seorang pengarang buku yang terkenal John Naisbitt mengemukakan tentang konsep ‘high-tech/high-touch’. Dikatakan bahwa semakin seseorang terlibat didalam aktivitas yang bersifat high-tech (seperti bekerja berjam-jam sendirian di depan komputer), maka semakin banyak dibutuhkan untuk berinteraksi yang sifatnya high-touch. Kata high-touch bukan diartikan secara harafiah, Anda tidak perlu harus memeluk rekan kerja setelah seharian bekerja di depan komputer, tetapi mungkin akan lebih ke arah pembicaraan/perbincangan yang menyenangkan dan hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kejenuhan. Karena berkaitan dengan bagaimana atasi gangguan ketika bekerja itu.

Pertanyaan berapa lama sich seseorang yang bekerja di depan komputer akan membutuhkan waktu istirahat untuk  berinteraksi dengan orang lain? Jawabannya sangat bervariasi, tergantung kepada kepribadian masing-masing orang itu dan tergantung juga pada keadaan. Waktu yang dibutuhkan mungkin bisa selama satu jam, atau satu hari penuh atau bahkan bisa lebih lama lagi. Kebutuhan untuk dapat menyeimbangkan hidup kita dengan berinteraksi yang bersifat high-touch akan semakin meningkat seiring dengan semakin dalam ketika keterlibatan tehnologi di pekerjaan kita. Dengan memahami apa yang kita perlukan, kita akan dapat menyelesaikan dua hal, yaitu: pekerjaan dan tidak tertinggal gosip/berita terkini tentang perkembangan disekitar kita khususnya di tempat kerja. Tips berikut ini untuk atasi gangguan ketika bekerja:

1. Amati jam biologis Anda

Perhatikan jika anda mulai merasakan tanda-tanda berikut; mata mulai mengalami keletihan, leher kaku, sakit kepala atau punggung terasa pegal. Gejala-gejala tersebut bisa muncul karena adanya kejenuhan ketika di depan komputer didalam waktu yang lama. Untuk mengatasinya, coba lemaskan kaki dengan berjalan kaki mengelilingi ruangan kerja atau berkunjung ke ruang rekan anda, atau hanya sekedar untuk berbincang-bincang dengan teman-teman sekantor.

2. Ukur tingkat keseimbangan high-tech dan high-touch Anda

Jika Anda akan berencana untuk bekerja seharian di depan komputer, cobalah rencanakan juga untuk menghabiskan waktu istirahat dengan berinteraksi, misal dengan teman/rekan kerja. Catat segala kegiatan tersebut selama beberapa waktu  dan perkirakan waktu rata-rata berapa lama Anda dapat tahan bekerja sebelum beristirahat. Tentukan berapa lama waktu istirahat yang Anda butuhkan untuk memenuhi kebutuhan high-touch, dan disiplinlah didalam mematuhi aturan yang telah Anda buat tersebut.

3. Jujur dan bersikap asertif dengan para pengganggu yang kronis

Ketika Anda mulai merasa terganggu kerja Anda karena ada teman yang mengajak berbincang dan pembicaraannya yang seolah-olah tidak ada ujungnya, coba utarakan secara langsung (lakukan dengan cara halus dan sopan agar tidak menimbulkan masalah kemudian). Jangan berharap bahwa mereka akan dapat membaca pikiran atau bahasa tubuh yang Anda tunjukkan.

4. Fahami bahwa ‘gangguan’ yang dilakukan oleh rekan Anda itu, mungkin merupakan salah satu cara mereka untuk memenuhi kebutuhan high-touch mereka.

Hadapi ‘gangguan’ tersebut dengan lebih sabar, tetapi Anda sendiri harus mendahulukan apa yang telah menjadi komitmen Anda sejak awal. Jangan biarkan pekerjaan Anda terbengkalai hanya karena Anda dapat memahami kenapa rekan kerja Anda bertindak seperti itu. Beranikan diri Anda untuk menyela pembicaraan jika Anda merasa bahwa pembicaraan tersebut akan memakan waktu yang lama, sedangkan Anda sudah harus kembali melakukan pekerjaan yang sedang Anda kerjakan.

Pengaruh Gairah Kerja dan Musik

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 12:11:45

Sudah sering kita mendengar atau mengetahui bahwa pasangan muda sekarang ketika sang calon orang tua sedang mangandung, beramai-ramai mendengarkan musik klasik untuk bayi yang sedang dikandung. Bagaimana pengaruh gairah kerja dan musik, para ahli telah membuktikan bahwa musik klasik ternyata mampu merangsang perkembangan otak bayi/anak. Bahkan tidak saja dikandungan tetapi anak balita yang sering didengarkan musik klasik secara klinis lebih kreatif daripada anak yang tidak mendengarkan musik. Tetapi kita tahu juga ada kasus dimana anak muda terpicu melakukan bunuh diri atau pembunuhan setelah mendengarkan satu musik tertentu.

Memang musik memiliki efek yang beraneka-ragam, tetapi sisi baik buruknya masih bisa dikendalikan. Hal ini yang menyebabkan para ahli psikologi di Amerika menemukan suatu metode khusus menggunakan musik untuk berbagai keperluan di setiap sektor kehidupan. Bahkan mereka membuat terobosan inovasi dengan menggunakan musik di kantor-kantor untuk meningkatkan performa kerja karyawan, sehingga sudah menjadi pemandangan yang biasa di sana.

Nah bagaimana pengaruh gairah kerja dan musik itu bisa terjadi? Musik bisa merangsang salah satu bagian dari otak kita untuk bekerja sesuai dengan jenis musik. Misal seperti musik dengan irama yang sedikit keras dan cepat (seperti rock) dapat memacu otak kita untuk bekerja atau tampil dengan lebih bersemangat. Bahkan ada beberapa restoran yang pernah menggunakan jenis musik ini ketika pelanggannya sedang makan, dan hasilnya mereka akan makan lebih cepat dan omset restoran pun meningkat karena jumlah pelanggan yang lebih banyak juga. Tetapi sayangnya jenis musik seperti ini tidak terlalu efektif ketika digunakan di perkantoran (khususnya jika dilakukan terus-menerus), hal ini disebabkan karena keterbatasan energi yang dimiliki oleh manusia. Ketika energinya menurun, maka performa kerjanya akan ikut menurun. Sedangkan musik yang berirama slow/menenangkan (seperti musik klasik dan sejenisnya) terbukti dapat meningkatkan performa kerja seseorang secara optimal. Sebenarnya lagu-lagu yang berirama slow mampu melakukan hal yang sama, namun adakalanya jenis lagu seperti ini bisa membius pendengarnya dengan perasaan sehingga malah dapat memperlambat kerja (karena sesuai dengan mood lagunya).

Bekerja Keras

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja, Enterpreneurship — jundul @ 12:11:33

Nasib seorang wiraswastawan tidak mudah. Anda harus bekerja keras. Namun, karena Anda bekerja disebagian besar waktu Anda, pasti ada harga yang harus dibayar. Korban pertama adalah kehidupan sosial Anda. Waktu untuk berkencan, untuk keluarga, bahkan untuk bersenang-sengang tidak akan anda miliki pada masa-masa awal menjalankan bisnis anda.. Bisa-bisa ini menjadi sebuah kehidupan yang sunyi.

Dalam keadaan seperti ini Anda sangat beruntung apabila memiliki kekasih atau seorang istri yang setia menemani dalam suka maupun duka. Karena menjadi seorang wirausahawan juga adalah masalah daya tahan. Seperti mendung di musim hujan. Setelah hujan pun turun, langit akan menjadi cerah kembali.

Ada kompensasi. Semakin keras Anda bekerja, maka Anda akan semakin beruntung. Sebagai contoh seorang rekan,  Dia, ”cuma” reporter di tabloid keluarga muslim. Sebagai employee — kalau mengikuti teori kuadran Robert T. Kiyosaki – berkat dorongan saya, dan ”keahlian interpersonalnya”, berkomunikasi, ia saya desak menjadi jurnalis ”semi-bisnis” dalam arti, memfungsikan ketrampilan jurnalistik dan lobbynya untuk menulis soft advertorial. Meski awalnya agak ogah-ogahan, ia memula peran-peran semacam copywriter, penulis artikel soft advertorial di tabloidnya (maksudnya: rubrik bernuansa promotif, dengan dua macam kompensasi: penjualan langsung dalam jumlah minimal tertentu, atau semi-iklan). Rekan ini, meskipun masih sayang profesi jurnalistiknya, mulai menjalankan tugas barunya.

Hasilnya? Luar biasa untuk reporter yang sepanjang empat tahunan bekerja, murni sebagai jurnalis.  Rekani ini berhasil mencapai targetnya. Ia memang bekerja keras, dan agak mengorbankan waktunya untuk keluarga. Bukan itu saja. Ia ”tebal muka” dicibiri sebagai ”jurnalis matre” (materialis, Pen.), karena artikelnya kian selektif pada isu-isu yang ”bergizi” alias bisa menghasilkan ”penjualan langsung” ataupun ”semi advertorial”. Akibat lanjutnya, bisa ditebak. Dari ”main-main” jadi serius. Bossnya, pemimpin perusahaan tabloid muslim, malah menargetkan jumlah tertentu perminggunya harus ia capai. target itu, tercapai, bahkan beberapa kali terlampaui. Apa yang ia kerjakan, semua orang di perusahaannya tahu. Meski pun berisiko dilecehkan, rekan ini tahan banting. The show must go on. Apa yang dikerjakannya, menginspirasi unit bisnis lainnya di bawah payung holding yang sama.

”Syukur, istri saya sangat pengertian. Untuk kerja keras itu, saya bisa menabung dengan nilai yang lumayan dibanding rekan selevel saya. Saya bisa membeli sepeda motor secara tunai, dalam tahun kedua saya bekerja. Itu sesuatu yang tidak saya bayangkan sama sekali, bahwa saya mampu membelinya.” Itulah rekan ini, yang karena masih sayang pada profesi jurnalistiknya, mengaku baru menggunakan belum separuh dari potensi enterprenership yang ada dalam dirinya.

”Seseorang yang bekerja 16 jam sehari akan sampai ke tempat yang ingin dicapainya dua kali lebih cepat daripada orang yang bekerja 8 jam sehari.”

21 November, 2008

Ciri-ciri Pemimpin Luar Biasa

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 11:11:09

ingin menjadi seorang pemimpin yang t.o.p atau luar biasa??pastinya semua orang menginginkan hal yang sama yaitu menjadi seorang pemimpin yang t.o.p dilingkunannya, jika kita telaah ada beberapa ciri yang harus benar-benar dimiliki seorang pemimpin, apakah anda termasuk dalam kriteria pemimpin yang memiliki ciri seperti yang terurai di bawah ini?? bila tidak bersiaplah untuk merubahnya…

Coba simak ciri-ciri pemimpin luar biasa berikut ini, siapa tau pemimpin Anda memilikinya:

* Integritas

Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda. Integritas adalah penepatan janji-janji Anda. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti Anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa Anda akan membawa mereka kepada tujuan yang Anda janjikan.

* Optimisme

Tak ada orang yang mau menjadi pengikut Anda bila Anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu.

* Menyukai perubahan

Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikannya dengan para pengikut mereka. Jika Anda tidak berubah, Anda takkan berkembang.

* Berani menghadapi resiko

Kebanyakan orang menghindari resiko. Padahal, kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita harus siap menghadapi resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik.

* Ulet

Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, “Jika Anda gagal di langkah pertama, menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain.” Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha.

* Katalistis

Pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan para pengikut.

* Berdedikasi dan komit

Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan.

Apakah pemimpin Anda memiliki ciri-ciri tersebut? Bila ya, syukurlah, berarti Anda telah menjadi pengikut dari seorang pemimpin yang tepat! Tapi jika Anda seorang pemimpin dan belum memiliki ciri-ciri itu, tak ada salahnya perbaruilah diri Anda dengan pedoman tersebut.

Perlunya bersikap assertive di dunia kerja

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 11:11:42

Assertive berasal dari bahasa Inggris, yang berarti tegas. Assertion= pernyataan yang tegas.Dalam kamus KBBI, tegas diartikan sebagai tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar lagi).

Di dunia kerja, kita menghadapi berbagai macam sifat manusia, yang harus dapat kita kelola. Tidak terkecuali, kita juga akan mengalami berbagai macam sifat atasan yang memimpin kita. Mengapa kita perlu bersikap assertive? Agar siapapun akan memahami sikap dan perilaku kita dengan jelas dan tanpa ragu-ragu. Sikap assertive ini tak hanya diperlukan kita sebagai bawahan, tetapi juga sebagai atasan perlu bersikap assertive agar anak buah tidak mengartikan hal yang lain.

Mengapa kita perlu bersikap assertive kepada setiap perintah atasan?

1. Atasan juga manusia

Atasan adalah manusia biasa, yang tak selalu ingat semua peraturan yang berlaku. Oleh karena itu adalah hal yang sangat wajar jika bawahan mengingatkan atasan, ada peraturan yang sudah tak berlaku, dan bahwa perintahnya tak dapat dilaksanakan karena akan melanggar peraturan yang ada. Yang perlu diingat, jangan hanya mengatakan “tidak” tapi berikan solusinya. Pelajari dulu apakah perintah tersebut masuk akal, apa tujuannya, dan jika memang tujuan untuk kepentingan perusahaan, maka sebagai bawahan kita wajib ikut mencari jalan keluar. Percayalah atasan akan sangat menghargai bawahan yang bersikap assertive, serta mencarikan jalan keluar atas permasalahan yang ada agar tetap sesuai peraturan yang berlaku.

2. Analisis apakah perintah atasan layak untuk dipatuhi

Sebagai pekerja di perusahaan, pisahkan; a) loyal kepada atasan, b) loyal kepada organisasi/perusahaan. Dalam hal menyikapi perintah atasan, maka perlu dipertimbangkan kedua hal tersebut. Kalau loyal pada atasan, padahal setiap saat atasan akan berganti, maka jika perintah atasan tidak sesuai kebijakan, hal ini akan jadi bumerang. Memang diperlukan kemampuan komunikasi yang baik, sehingga keberatan kita dapat dinyatakan secara halus namun tegas, sehingga tidak menyinggung perasaan atasan. Hal ini akan lebih mudah jika perintah atasan melalui disposisi (instruksi tertulis), karena bawahan mempunyai waktu untuk menyatakan pikiran dan analisisnya. Yang tetap diingat, adalah selalu mencari jalan keluarnya.

3. Pelajari sistem dan prosedur, peraturan yang berlaku, serta legalitas setiap perintah

Sebagai pekerja, kita wajib memahami setiap peraturan yang berlaku diperusahaan itu, maupun peraturan2 lain yang wajib ditaati sesuai undang-undang ataupun peraturan lain yang diterbitkan oleh pemerintah atau instansi yang berwenang.

4.Ada beberapa hal yang belum diatur secara khusus, namun secara bisnis layak dilakukan.

Secara umum diketahui, bahwa peraturan tentang hukum berjalan seperti deret hitung, sedangkan bisnis berjalan seperti deret ukur, sehingga sering tidak ketemu. Bagaimana dunia bisnis menyikapi hal ini? Padahal secara bisnis kegiatan layak dilakukan, karena menguntungkan perusahaan?

Sebagai contoh: pada tahun 1990 an, pemerintah belum menerbitkan peraturan tentang Commercial Paper (CP), namun karena kebutuhan bisnis banyak perusahaan yang menerbitkan CP dan meminta Bank untuk melakukan endorsement. Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa jika bank telah meng endorse CP yang diterbitkan perusahaan (umumnya nasabah Bank tsb), artinya Bank telah ikut menyetujui dan menjamin, serta ikut bertanggung jawab sebesar nilai CP yang di endorse nya.

Bagaimana jalan keluarnya? Bank yang meng endorse CP perlu menambahkan aturan tertulis, apa-apa yang perlu diperhatikan dan langkah2/prosedur yang wajib dilakukan sehubungan dengan CP. Karena bank ikut bertanggung jawab, rekening kredit perusahaan diblog sebesar nilai CP tersebut, sehingga kalau terjadi sesuatu dikemudian hari, telah ada payung yang melindungi kepentingan Bank.

5. Ada beberapa hal yang telah diatur, namun penerapan dilapangan sulit

Peraturan Bank Indonesia (PBI) membolehkan Bank melakukan restrukturisasi kepada nasabah dengan cara equity participation, atau menempatkan salah satu pegawai Bank duduk dalam jajaran manajemen di perusahaan tersebut, pada umumnya sebagai Direktur Keuangan.

Dengan equity participation, Bank tidak memperoleh bunga ( karena Bank ikut sebagai pemilik perusahaan tersebut). Di satu sisi, pegawai Bank yang menjadi Direktur Keuangan pada perusahaan nasabah akan ikut tunduk pada aturan/ Undang-undang Perseroan Terbatas, sehingga kalau di perusahaan terjadi apa-apa, dia bisa ikut dituntut. Padahal sebagai pegawai Bank, tunduk pada Undang-undang Perbankan.

Dalam case ini, bawahan perlu membuat analisis pro’s dan con’s apabila perusahaan akan melakukan tindakan ini. Apapun keputusannya, telah memperhitungkan risiko yang ada. Dengan analisis yang akurat, maka akan memudahkan atasan untuk menjawab jika timbul pertanyaan dari instansi yang berwenang, mengapa Bank memilih atau tidak memilih menggunakan pola ini.

Pada dasarnya, jika bawahan mendapatkan instruksi tertulis atau perintah dari atasan, usahakan agar setiap tindakan telah dilakukan analisis sehingga tidak akan merugikan perusahaan atau diri kita sendiri di kemudian hari. Dengan latihan yang teratur, dan selalu membaca peraturan-peraturan yang berlaku, maka dengan mudah akan bisa memberikan masukan, dan atasan akan lebih menghargai bawahan yang bersikap seperti ini.

KETULUSAN DALAM DUNIA KERJA

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 10:11:44

Benarkah ketulusan hati itu ada didunia kerja? atau apakah ketulusan ini bisa kita ibaratkan sebagai kejujuran tanpa kemunafikan? Kerelaan mengakui kemampuan orang lain? Kebesaran jiwa mengakui keberhasilan rekan kerja? Ketika kita melihat sikap rekan kerja yang sangat berlawanan dengan apa yang kerap kali diucapkannya, maka kita perlu mempertanyakan ketulusan hatinya.

Ketika anda memberikan hasil pekerjaan kepada pimpinan kemudian pimpinan anda mengatakan “terima kasih, well done” akan tetapi pada saat pimpinan mengatakan hal tersebut beliau tidak memandang ke anda dan hanya terpaku ke pekerjaanya, disini anda bisa mempertanyakan, apakah ucapan itu bisa dikategorikan sebagai ucapan yang tulus? sebaliknya sebagai cermin diri maka anda juga harus bertanya kepada diri sendiri “ apakah saya bersikap yang sama terhadap rekan kerja? atau kepada bawahan anda?

Disisi lain, penghargaan atau sanjungan setinggi apapun juga akan kehilangan arti jika diarahkan kepada orang tertentu saja yang dekat dengan anda, ungkapan yang berlebihan juga tidak terlalu baik.

Satu hal yang terpenting jika anda ingin menunjukan ketulusan hati anda dengan membuat komitment terhadap diri sendiri, lakukan semua pekerjaan yang memang sudah anda rencanakan, usahakan selalu tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan anda, jika anda memang ingin memberikan informasi kepada rekan kerja maka lakukan seperti yang sudah anda rencanakan. Janganlah komitment berubah sesuai dengan siapa anda berhadapan, atau dengan maksud dan tujuan tertentu.

Jangan sekali-sekali “menjilat” untuk mencari nama baik atau keinginan tertentu, tindakan yang hanya dilakukan untuk mendapat penghargaan sesaat sangat kurang baik, terlebih jika anda terlalu memaksakan diri dalam melakukan pekerjaan tersebut.

Dengan bersikap konsisten, akan menunjukan sikap profesionalisme anda, reputasi profesionalisme kerja anda dinilai tidak hanya dari satu tindakan melainkan dari tindakan-tindakan yang simultan dan dijalankan bereksinambungan.

Tunjukan selalu sikap yang tulus dalam bekerja, sehingga akan datang dengan sendirinya penilaian yang tulus dari rekan kerja maupun pimpinan, dan secara lebih luas anda membantu meningkatkan citra perusahaan anda bekerja.

Jadi Pebisnis IT, Siapa Takut?

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja, Enterpreneurship — jundul @ 10:11:53

Pada suatu pagi di musim dingin tahun 1974, dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul World’s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models. Artikel ini memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates, dan mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer-komputer tersebut sangat dibutuhkan. Bill Gates kemudian menghubungi perusahaan pembuat Altair, yaitu MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dan hebatnya dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap diimplementasikan dan bekerja sempurna di Altair. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard, dan bersama dengan Paul Allen mendirikan Microsoft.

Kisah berbeda datang dari Jerry Yang, yang pada tahun 1990 menjalani program doktor di Stanford University. Bersama dengan sahabatnya David Filo, mereka lebih menyukai kegiatan surfing di Internet, daripada aktifitas dan penelitian program doktor yang mereka ikuti. Mereka mulai mengumpulkan link situs-situs yang menarik, sampai akhirnya list yang mereka buat telah menjadi terlalu panjang dan terlalu banyak. Mereka kemudian membaginya menjadi banyak kategori dan subkategori. Inilah peristiwa bersejarah yang mengawali lahirlah perusahaan besar bernama Yahoo!. Yahoo merupakan singkatan dari Yet another Hierarchical Officious Oracle. Awalnya, yang mengakses ke direktori Yahoo! hanya Yang, Filo, dan beberapa teman dekat mereka di Stanford University. Namun, dari obrolan mulut ke mulut, orang mengakses ke Yahoo! menjadi semakin banyak. Mengetahui bahwa orang yang mengakses ke Yahoo! menjadi sangat banyak, mereka akhirnya menjadikan Yahoo! sebagai bisnis.

Dua kisah diatas tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah bisnis Information Technology (IT) dapat terlahir. Dan masih banyak kisah-kisah lain tentang kesuksesan bisnis IT, yang kadang dimulai dari sesuatu yang sederhana, dari sebuah hobi atau kemampuan kita membaca kebutuhan masyarakat terhadap suatu solusi. Bidang IT termasuk bidang yang unik, karena banyak sekali pebisnis dan tokoh-tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter dan kreatifitas.

Nah, keunggulan yang diperoleh seseorang karena pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk, ide dan perjoeangan yang dilakukan adalah merupakan keunggulan defacto. Sebaliknya keunggulan yang diperoleh seseorang karena gelar (degree), sertifikasi (certification) dan pengakuan formal, sering saya sebut sebagai keunggulan dejure. Bisnis dan peluangnya bisa lahir dari keunggulan defacto maupun dejure, dan keduanya bisa saling melengkapi.

Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy, adalah nama-nama yang besar di dunia IT karena keunggulan defacto mereka. Orang mungkin juga lupa bahwa Jerry Yang adalah seorang akademisi yang menguasai dengan baik teori-teori dasar komputasi. Meskipun dia lebih terkenal karena sebagai founder dari Yahoo.Com. William Joy yang lulusan the University of California Barkeley, justru lebih terkenal karena sebagai pendiri dari Sun Microsystems. Bill Gates dan Kevin Mitnik juga memberikan nyata bagaimana keunggulan defacto menjadi sesuatu hal yang dominan dalam terlahirnya sebuah bisnis.

Menariknya fenomena ini juga dikaji secara mendalam laporan khusus Gartner 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special Report), meskipun dengan terminologi yang berbeda. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis IT akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Dengan degree dan sertifikasi, kita mungkin akan bisa menjadi seorang spesialis dalam suatu bidang (keunggulan defacto). Tapi ternyata ini saja tidak cukup, diperlukan kemampuan verbal, komunikasi memberi solusi dan berhubungan dengan orang lain (keunggulan defacto). Ini yang disebut dengan seorang versatilis, dan versatilis bukanlah generalis yang tahu banyak hal tapi dangkal atau hanya kulit-kulitnya saja.

Inilah jalan untuk survive dan menjadi seorang entrepreneur di dunia IT. Dan Sumber Daya Manusia (SDM) IT Indonesia, sejak dini sebaiknya diarahkan untuk memiliki kombinasi kedua keunggulan tersebut. Di satu sisi kita selalu encourage mahasiswa-mahasiswa kita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain kita ajak untuk aktif dan kreatif lewat kerja-kerja unik yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Memberi kesempatan mereka untuk mengerjakan berbagai project atau mengembangkan produk yang bisa mereka jual. Dan pengalaman itu mematangkan teori dan konsep yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Pesan terakhir untuk rekan-rekan generasi muda yang ingin mendaki jalan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang IT:

  • Sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah  sebuah tool (alat) yang harus kita kuasai dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool tersebut bersifat tidak kekal, dan bukanlah agama yang harus dianut atau difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap keputusan yang diambil dalam hidup harus memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar. Ketika kita harus mengambil cuti kuliah untuk mengerjakan sebuah project IT, harus diperhitungkan benar seberapa jauh cost yang kita keluarkan untuk mendapatkan pengalaman tesebut.
  • Pembelian buku dan komputer harus kita anggap sebagai sebuah investasi. Kita harus produktif menggunakan buku dan komputer untuk menghasilkan keuntungan baik material maupun pengalaman.
  • Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
  • Mengambil kesempatan kerja part time atau full time sebagai proses pembelajaran dan melatih diri secara riil di dunia industri.
  • Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan berkomunikasi dengan mesin (komputer), tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam sekalipun.
  • Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain, siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita, meskipung kadang-kadang tidak langsung datang seketika.

Siapapun kita, apapun degree kita, apapun bidang kerja kita, asal kita sudah berniat untuk terjun di bisnis dan industri IT, kita bisa mulai dari keunggulan defacto dan dejure yang kita miliki. Jadi pebisnis IT, siapa takut?

Memancing Kreativitas

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 10:11:41

Berapa kali Anda merasa otak tiba-tiba kosong dan tidak tahu harus melakukan apa, yang sialnya selalu terjadi saat Anda dikejar deadline laporan yang harus diberikan pada atasan?

Bukan hanya itu, Anda tidak bisa menulis apa-apa karena tidak ada bayangan apa yang harus ditulis, sehingga hanya mampu menatap kertas kosong dengan perasaan tak berdaya. Ups, jangan panik dulu. Ini bukan pertanda Anda mulai pikun (dan percaya deh, Anda tidak mengidap penyakit Alzheimer yang menyerang secara mendadak). Bisa jadi, hal ini disebabkan karena Anda harus mulai menyesuaikan diri dengan keadaan baru tersebut.

Jadi bagi Anda yang mungkin saat ini sedang pusing karena terlalu sibuk, istirahat dulu sebentar dan simak artikel berikut. Siapa tahu akan membantu.

1. Lakukan pada waktu yang tepat, Kebanyakan orang yang telah berumur berpikir lebih jernih pada pagi hari; sedangkan mereka yang lebih muda, pada siang hari. Temukan kapan waktu Anda yang tepat, dan selesaikan masalah-masalah yang memerlukan pemikiran di waktu-waktu tersebut.

2. Pendidikan tinggi — namun jangan terlalu berlebihan, Pendidikan sekolah memiliki pengaruh besar dalam memupuk kreativitas seseorang terutama pada masa-masa akhir kuliah, namun pengaruh tersebut mulai menurun setelah lulus. Pendidikan memang sangat penting, namun hal itu tidak menjamin kesuksesan Anda di bidang tersebut (alias banyak hal-hal lain yang harus diperhatikan).

3. Mengikuti nasehat Konfusius, salah satu petunjuk mengingat yang selalu digunakan oleh para ahli yang melakukan penelitian tentang ingatan : Supaya tidak lupa bila ada hal penting, tulis di secarik kertas. Sebagaimana kata pepatah Cina, tulisan yang tintanya tidak jelas bertahan lebih lama daripada ingatan paling kuat sekalipun.

4. Tampil bersemangat dengan doping, Penelitian menunjukkan kadar kafein dalam secangkir kopi dapat membantu kita berkonsentrasi terhadap sesuatu hal dengan lebih baik. Namun bagi Anda yang rentan atau mudah terkena depresi, sebaiknya jauhkan diri dari sentuhan kopi karena akan berakibat buruk bagi sel-sel otak.

5. Hubungkan hal baru dengan yang lama, Dengan menghubungkan informasi atau hal-hal baru dengan apa yang telah Anda ketahui, percaya deh, akan lebih mudah untuk mengingatnya kembali.

6. Berlatih terus, Belajar dan melatih kemampuan yang baru didapat dengan berulang-ulang akan mengubah organisasi internal otak, yang pada akhirnya akan sangat membantu dalam melakukan proses mengingat. Jadi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

7. Beri kesempatan pada ide- ide baru, Kebanyakan dari kita memperoleh kelebihan kemampuan yang dengan cepat menyaring fakta yang ada dan dengan cepat pula memutuskan “ya-atau-tidak”. Kreativitas memerlukan lebih banyak waktu senggang atau pendekatan yang lebih santai — yaitu dengan memberikan ruang bagi ide- ide gila Anda.

8. Pilih profesi yang menghadirkan tantangan bagi otak dan pasangan yang cerdas, Orang-orang yang berkarir di bidang yang memerlukan tingkat konsentrasi atau penggunaan intelegensi tinggi besar kemungkinannya untuk dapat mempertahankan kognisinya di level tertinggi. Selain itu, menikahi seseorang yang pintar juga dapat membantu Anda untuk terus mendapat stimulasi tingkat tinggi.

9. Jangan ragu untuk mengetahui hal- hal baru, Kreativitas kerap diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengadaptasikan satu cara penyelesaian masalah ke masalah lain yang berbeda. Banyak sekali contoh kreativitas manusia yang bermula dari hal-hal kecil (namun menjadi besar), misalnya ide membuat pin untuk membuka kaleng minuman ringan yang berasal dari cara seseorang membuka kulit pisang.

10. Belajar dari pengalaman Da Vinci, Seperti halnya Da Vinci yang terkenal dengan ide-ide revolusionernya (dan membuatnya dijuluki sebagai pelopor jaman rennaisance), tidak ada salahnya melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, yang tujuannya adalah untuk merangsang stimulasi otak. Beberapa diantaranya misalnya melakukan juggling bola atau menulis dengan tangan kiri (atau kanan bagi Anda yang kidal).

11. Perhatian, Pernah mengalami lupa nama seseorang beberapa saat setelah Anda bertemu atau berkenalan dengannya? Masalahnya bukan pada ingatan Anda, namun lebih ke arahkonsentrasi yang tercurah saat itu. Dengan bertambahnya umur, kita harus lebih sering mengulang-ulang informasi yang baru didapat supaya masuk ke pusat penyimpanan data yang terletak di dalam otak kita.

12. Mendengarkan musik klasik, Seorang psiolog eksperimental menemukan sebuah bukti yang mendukung adanya “Efek Mozart” — otak yang terekspos (dalam hal ini mendengarkan) musik klasik (contohnya Mozart) akan dirangsang saedemikian rupa sehingga informasi yang kita peroleh dapat masuk lebih cepat ke dalam otak.

13. Menjaga kebugaran badan, Banyak yang percaya bahwa dengan berolah raga, maka kemampuan berpikir/mengingat juga akan semakin menguat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kadar oksigen dan nutrisi yang dialirkan ke dalam otak, sehingga merangsang sel-sel otak untuk tumbuh lebih pesat. Meski penelitian belum membuktikan pandangan ini akurat, rasanya tidak ada salahnya kalau dicoba.

14. Mencoba sesuatu yang baru, Dalam sebuah studi yang membandingkan orang-orang yang mudah mengalami burnout dengan mereka yang dapat mempertahankan kreativitasnya, diketahui bahwa kelompok yang terakhir dapat mempertahankan penampilannya karena terus berusaha menambah pengetahuannya. Jadi, siapa bilang membaca itu tidak penting?

15. Hindari hal-hal yang bisa membuat Anda tidak fokus, Saat berada dalam situasi chaos atau berisik di mana banyak hal-hal di sekitar yang mampu mengganggu konsentrasi. Seandainya harus mengerjakan sesuatu yang penting, akan lebih baik bila Anda mampu menjauh dari lingkungan tersebut, misalnya dengan menyendiri di tempat sepi supaya lebih berkonsentrasi. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah untuk tetap mengobarkan semangat (rasa cinta) Anda terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan! Dalam sebuah penelitian yang dilakukan seorang psikolog Belanda terhadap master dan grandmaster catur menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecerdasan diantara mereka. Satu-satunya yang membedakan adalah : para grandmaster menyukai dan menghayati permainan catur. Ini menunjukkan bahwa semangat seseorang adalah pemicu yang paling baik bagi kreativitas. Coba saja kalau tidak percaya!

25 Oktober, 2008

41 Juta Pekerja Tidak Terlindungi

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja — jundul @ 03:10:49

Sekitar 41 juta pekerja informal di Indonesia saat ini tidak dilindungi Asuransi Kesejahteraan Sosial atau Askesos. Akibatnya, jika mereka sakit, mengalami kecelakaan atau tewas, mereka kesulitan biaya dan bahkan keluarganya bisa terlantarkan.

Jika kondisi ini dibiarkan, jumlah rakyat miskin di Indonesia bisa bertambah dari 76 juta jiwa menjadi 117 juta jiwa,” kata Direktur Jaminan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial, Akifah E, Kamis (23/10), di Jakarta.

Kelompok masyarakat pekerja sektor informal ini, antara lain pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, buruh bangunan, buruh tani, nelayan, tukang ojek, serta pekerja kasar lainnya. Ekonomi keluarga mereka sangat rentan terguncang, jika mengalami gangguan.

Untuk mengatasi persoalan inilah, lanjut Akifah, Departemen Sosial meluncurkan program Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askesos). Mereka akan dilindungi asuransi jika sakit, mengalami kecelakaan atau tewas.

”Bukan biaya rumah sakit yang ditanggung karena ada program lain yang melindungi kesehatan keluarga miskin,” kata Akifah.

Program Askesos adalah memberikan bantuan sosial untuk biaya hidup sehari-hari, selama ada anggota keluarga miskin yang dirawat di rumah sakit atau meninggal dunia.

Dengan membayar premi Rp 5.000 per bulan, peserta premi yang masuk pada tahun pertama akan mendapat Rp 100.000 jika dirawat di rumah sakit, serta Rp 200.000 jika meninggal dunia. Jika masuk pada tahun kedua akan mendapat Rp 400.000 dan pada tahun ketiga Rp 600.000.

”Premi ini sekaligus sebagai tabungan, jika tak dilakukan klaim, sehingga memberikan perlindungan ekstra di masa datang,” kata Akifah.

76 juta jiwa

Berdasarkan data Departemen Sosial per 2006, jumlah rumah tangga miskin di 33 provinsi di Indonesia mencapai 19,10 juta keluarga atau 76 juta jiwa (dengan asumsi 4 jiwa per keluarga). Jumlah ini setara dengan 35 persen dari total populasi Indonesia. Jika yang 41 juta pekerja sektor informal ini tidak diberikan program Askesos, mereka bisa jatuh ke level rumah tangga miskin.

Askesos baru diterapkan menyeluruh sejak tahun 2007, sedangkan ujicoba sudah ada sejak 1997. Hingga September 2008, program Askesos baru berhasil mencakup 144.600 kepala keluarga dengan 671 lembaga pelaksana Askesos. Tahun 2008 pelaksanaan Askesos di 33 provinsi ditargetkan bisa bertambah 42.600 kepala keluarga dengan 195 lembaga pelaksana. Tahun 2009 ditargetkan peserta Askesos bertambah 60.000 kepala keluarga dengan 300 lembaga pelaksana.

Untuk jadi peserta Askesos ini, penghasilan minimal Rp300.000 per bulan, usia 21-60 tahun atau sudah menikah dan memiliki identitas diri yang sah.

Menurut Akifah, dengan mengikuti Askesos, kelompok masyarakat yang bekerja di sektor informal mendapat perlindungan sosial yang sama dengan kelompok masyarakat lain yang bekerja di sektor formal. Selain itu, dengan belajar asuransi plus menabung ini, kelompok masyarakat informal ini diharapkan memperoleh tahapan kesejahteraan sosial yang lebih baik secara jangka panjang.

Askesos ini, lanjut Afikah, baru memperkenalkan bagaimana mereka peduli dengan asuransi. ”Ini dalam taraf pendidikan buat masyarakat,” kata Akifah.

Biaya klaim Askesos ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN), sekitar Rp 22 miliar, termasuk juga untuk program Bantuan Kesejahteraan Sosial Permanen (BKSP). Program ini bagi anggota masyarakat miskin yang masuk kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seperti orang lanjut usia, penyandang cacat mental dan fisik, dan penyandang psikotik atau eks penyakit kronis yang terlantar.

Ada badan pengawas

Secara terpisah, sosiolog dari Universitas Indonesia Imam B Prasodjo menilai, program Askesos bagi pekerja sektor informal itu harus ada badan pengawas, serta mitra independen yang bisa membantu pekerja itu untuk mendapatkan hak-haknya sebagaimana dijanjikan.

“Yang jadi kenyataan selama ini, yang namanya asuransi itu ada kecenderungan mempersulit akses informasi dan klaim asuransi. Belum tentu pekerja itu dengan mudah mengakses informasi dan mendapatkan hak-haknya. Seringkali prosedurnya berbelit-belit,” katanya.

Iman mengambil contoh sejumlah kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI), di mana ketika ada TKI yang bermasalah, pemerintah diam saja. Jamsostek yang sudah menghimpun uang triliunan rupiah, masih cenderung berbelit-belit dan mempersulit.

”Apa salahnya Jamsostek membuka konter di bandara dan setiap rumah sakit, misalnya, sehingga dapat memudahkan peserta Jamsostek untuk mengajukan klaim,” ujarnya.

Ia berharap program ini bukan sekedar untuk menghimpun dana dari masyarakat.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.