Putra Jati Melayu

22 November, 2008

7 Kesalahan Terbesar Yang Dilakukan Pengusaha Kecil & Cara Mengatasinya

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 01:11:59

Ya…usaha kecil bisa saja meraih sukses! Keberhasilan usaha Anda tidak tergantung pada ukurannya. Namun pada mutu pelaksanaan dan implementasinya.

Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang dilakukan pengusaha dan bagaimana menghindarkannya.

a. Fokus Pada Pekerjaan.

Banyak pengusaha kecil yang kebanjiran pekerjaan yang tidak penting. Sehingga memiliki sedikit waktu untuk membuat strategi dan keputusan bisnis yang lebih penting. Jauh lebih penting untuk tidak terjebak dalam hal-hal kecil, urusan bisnis sehari-hari yang sepele. Namun, Anda perlu tetap fokus pada kompetensi inti dan mengarahkan bisnis kedepan. Jika staff Anda kurang, pertimbangkan outsourcing untuk pekerjaan non inti.

b.Tidak Membuat Penilaian Yang Jujur.

Kebanyakan pengusaha kecil tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam bisnis mereka. Kebanyakan mereka menganggap telah mengetahuinya. Namun pada kenyataannya mereka tidak pernah tahu semua hal-hal yang penting. Menilai dengan jujur keadaan bisnis Anda saat ini merupakan hal yang penting. Lakukan survey karyawan atau minta bawahan serta kolega untuk memberikan umpan-balik dengan jujur. Hal ini akan memberikan penilaian yang jujur yang diperlukan dalam situasi perusahaan terkini.

c.Tidak Menetapkan Batasan Waktu.

Kebanyakan meeting berakhir tanpa memenuhi sasaran. Alasannya terletak pada perencanaan dan pelaksanaan meeting untuk memastikan tanggung jawab masing-masing yang diimplementasikan dalam kerangka waktu. Maka, tetapkan sasaran yang realistis dan batasan waktu untuk masing-masing rencana. Delegasikan pekerjaan menurut keterampilan. Hal ini juga akan memastikan semua karyawan akan senang dengan tanggung-jawab dan ketrampilan kerjanya.

d.Tidak Melakukan Tindak Lanjut.

Penentu kesuksesan yang penting adalah seberapa banyak Anda menindaklanjuti dan memastikan implementasi. Melakukan tindak lanjut dan memastikan semua tugas diselesaikan tepat waktu merupakan hal yang penting. Sisanya, rencana yang tidak memerlukan penyelesaian dalam waktu dekat. Jadi, pastikan untuk tetap mengingatkan bawahan pada rencana yang ada. Jika Anda tidak bisa melakukannya, delegasikan tanggung jawab ke orang lain.

e. Lebih Banyak Investasi Teknologi Daripada Manusia.

Satu kesalahan besar yang dilakukan pengusaha kecil adalah investasi besar-besaran di teknologi baru untuk menandingi karyawan. Karyawan perusahaan adalah yang mengendalikan bisnis kedepan, mendapatkan pelanggan serta kontak baru. Merupakan langkah bisnis yang bijak untuk lebih banyak berinvestasi/merekrut karyawan daripada teknologi.

f. Tidak Menggaji Diri Sendiri Dengan Baik.

Kebanyakan pengusaha kecil adalah orang yang multitasking. Hal ini dikarenakan kurangnya modal, sumber daya dsb. Namun, apapun alasannya, ketika saatnya gajian, pastikan Anda menggaji diri sendiri berdasarkan upaya yang telah Anda lakukan. Kebanyakan pengusaha menilai rendah dirinya dan memberikan gaji yang kurang. Jangan membuat kesalahan ini. Gaji diri Anda dengan baik, dengan demikian Anda juga akan termotivasi.

g. Resiko Keseimbangan Kehidupan Pribadi dan Kerja.

Kebanyakan CEO yang berhasil masuk Fortune 500, memiliki dukungan keluarga yang bahagia dibelakangnya. Jika ingin bisnis Anda maju, pastikan untuk tidak berkompromi dengan kehidupan pribadi Anda. Jaga keseimbagan antara waktu kerja dan keluarga. Dengan melihat keseimbangan holistik, Anda dapat memperkaya pertumbuhan bisnis dalam waktu yang pendek.

Sekarang Anda tahu kesalahan-kesalahan tersebut. Segera ambil langkah untuk menghindarinya. Ini adalah perangkap yang sering menjebak pengusaha. Jadi, ingat baik-baik agar Anda tetap terhindar!.

Sumber: Doug dan Claudia Brown

Doug dan Claudia Brown menggunakan pengalaman 40 tahun dalam membangun bisnis untuk mengedukasi orang dan bisnis agar pendapatan mereka meningkat.

12 Ketrampilan Bisnis yang Perlu Anda Kuasai.

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 01:11:22

Keberhasilan memerlukan lebih dari sekedar kerja keras, tahan banting, dan memiliki pengalaman di bidangnya. Untuk meraihnya, Anda perlu memahami dan memiliki ketrampilan dasar bisnis. Mengembangkan sebuah usaha kecil agar menjadi usaha yang besar dan berhasil memerlukan lebih dari sekedar passion/hasrat. Lebih dari separo usaha baru gagal karena pengusaha tidak mampu menerjemahkan passion mereka kedalam keterampilan bisnis praktis.

Menjalankan usaha kecil akan menjadikan Anda sebagai orang yang serba tahu. Merupakan hal penting untuk mengetahui ketrampilan apa saja yang telah Anda miliki dan yang harus dipelajari atau didelegasikan ke orang lain. Pada saat melakukan pekerjaan dimana Anda kurang terampil, Anda dapat mempelajarinya sendiri seiring perjalanan waktu atau menyewa orang yang ahli di bidang tertentu.

Berikut adalah esensi dari soft skills (kemampuan seseorang atau yang sejenis yang bukan ketrampilan teknis) yang perlu dipelajari atau dapatkan untuk membantu keberhasilan bisnis:

1. Ketrampilan Pendelegasian : delegasi melibatkan penunjukan tanggungjawab orang lain dalam pemenuhan pekerjaan. Posisi ideal yang ingin Anda dapatkan adalah, staff melakukan aktivitas rutin dari bisnis anda. Pendelegasian yang efektif melibatkan pencapaian keseimbangan yang tepat antara pengendalian yang efektif dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya secara efektif. Elemen kuncinya adalah mengetahui bagaimana bisnis Anda berjalan, daripada bisnis bekerja untuk Anda!

2. Ketrampilan Berkomunikasi: komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan. Pada saat Anda memikirkannya, hampir semua yang Anda lakukan memerlukan peningkatan komunikasi. Agar bisnis berjalan efektif, Anda harus mengkomunikasikannya dengan baik. Ketika anda merekrut pegawai baru, ketrampilan komunikasi yang baik membantu Anda untuk memilih orang yang tepat. Ketika Anda berkomunikasi dengan pemegang saham yang beragam, Anda harus dapat menjelaskan ekspektasi Anda dengan jelas dan menjadi sensitif ketika terjadi masalah. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana mengkomunikasikan visi secara efektif dengan passion dan keyakinan.

3. Ketrampilan Bernegosiasi: tanpa disadari, semua orang bernegosiasi secara tidak resmi dalam kehidupan sehari-hari. Negosiasi formal adalah ketrampilan yang dapat dipelajari melalui pengalaman dan praktek. Orang yang sering bernegosiasi akan lebih terampil daripada orang yang tidak berpartisipasi dalam negosiasi formal/informal. Orang yang berpengalaman akan tahu apa yang dikatakan, kapan saat yang tepat untuk mengatakannya, atau kapan saat yang tepat untuk membuat konsesi. Kuncinya adalah bagaimana mengembangkan pendekatan win-win dalam bernegosiasi dengan semua pihak. Namun pada saat yang bersamaan, ingatlah bahwa Anda juga ingin mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi diri Anda sendiri.

4. Perencanaan Stratejik: perencanaan stratejik sangat penting dalam aktivitas bisnis. Perencanaan stratejik adalah proses mendefinisikan strategi atau arah perusahaan dan membuat keputusan alokasi sumber modal dan manusia. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana memproyeksikan kinerja perusahaan dimasa datang, dalam kerangka kerja tiga hingga lima tahun mendatang, didukung dengan perencanaan bisnis yang terdefinisi dengan jelas.

5. Ketrampilan Kepemimpinan: kepemimpinan adalah proses penyelesaian pekerjaan melalui orang. Kepemimpinan merupakan ketrampilan manajemen yang sangat penting, kemampuan untuk memotavisi sekelompok orang dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan juga berarti kemampuan melakukan tugas, membangun, memobilisasi, dan memotivasi tim. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana menempa hubungan jangka panjang dengan prospek, konsumen, supplier, karyawan, dan investor.

6. Ketrampilan Membangun Tim: ketrampilan membangun tim dan kerja tim adalah hal yang penting bagi wirausahawan saat ini. Orang yang bekerja sesuai potensinya didalam tim memberikan solusi yang lebih baik dan lebih produktif daripada bekerja secara independen. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana membentuk tim karyawan, rekan, penasehat, dan investor yang akan membantu bisnis Anda di tingkat selanjutnya.

7. Ketrampilan Analisa: pada saat ini tempat kerja memiliki teknologi yang canggih dan komplek. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, kebutuhan analisa juga meningkat. Kemampuan analisa adalah kemampuan yang secara objektif menilai keberadaan bisnis Anda, untuk menetapkan dimana bisnis akan berada dimasa depan, dan apa yang harus dilakukan untuk menutup gap pertumbuhan bisnis saat ini dan yang akan datang. Kuncinya adalah tahu bagaimana mengumpulkan, meninjau, dan mengevaluasi data yang diperlukan untuk merumuskan dan mengumpulkan argumen.

8. Ketrampilan sales dan marketing: menetapkan metode dan kebijakan sales dan marketing yang berhasil – dari menentukan harga dan periklanan hingga teknik penjualan – penting untuk meningkatkan bisnis Anda. Kemampuan untuk menganalisa kompetisi, pasar, dan kecenderungan industri penting bagi pengembangan strategi marketing. Kuncinya adalah tahu bagaimana membentuk dan menyampaikan pesan pada target audien yang tepat yang dapat mengenerate bisnis baru, dan akan mambangun aliran pendapatan yang menguntungkan.

9. Kemampuan General Manager: manajemen melibatkan pengarahan dan pengendalian sekelompok orang atau lebih untuk tujuan mengkoordinasi kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan. Manajemen mengarahkan pada penjabaran dan arah sumber daya manusia, finansial, dan teknologi. Kuncinya adalah tahu bagaimana mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen yang dapat dikerjakan yang akan mengatur operasional keseharian, memelihara pemegang saham , dan mendukung pertumbuhan bisnis.

10. Keterampilan Manajemen Cash Flow : cash flow biasanya menyita banyak perhatian bisnis kecil dan menengah. Dalam bentuk yang paling sederhana, cash flow adalah pergerakan uang masuk dan keluar dari bisnis Anda. Cash flow adalah aliran darah bisnis yang tumbuh dan merupakan indikator penting bisnis yang sehat. Dampak dari cash flow adalah hal yang nyata, dan jika terjadi kekeliruan, akan benar-benar hancur. Kuncinya adalah bagaimana memonitor, melindungi, mengendalikan dan meletakkan kas untuk bekerja.

11. Keterampilan Manajemen Finansial : aktivitas finansial adalah aplikasi serangkaian teknik yang digunakan individu dan bisnis untuk mengatur uang mereka, khususnya selisih antara pendapatan dan pengeluaran, serta resiko investasi. Kebutuhan penganggaran dan pelaporan kinerja keuangan adalah hal terpenting. Kuncinya adalah tahu bagaimana menginterpretasikan dan menganalisa laporan keuangan Anda, seperti mengidentifikasi item-item yang dapat mempengaruhi keuntungan.

12. Keterampilan Manajemen Waktu : manajemen waktu adalah keterampilan umum yang membantu Anda untuk menggunakan waktu dengan cara yang paling efektif dan produktif. Manajemen waktu adalah keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai. Dengan mempelajari keterampilan ini akan mendukung Anda untuk mencapai lebih banyak dan mengunakan waktu dengan bijak. Kuncinya adalah tahu bagaimana mengatur waktu Anda dengan efisien dan fokus pada aktivitas yang memberikan nilai bagi bisnis Anda.

10 Pertanyaan Penting – Apakah Anda Seorang Entrepreneur ?

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 01:11:47

Berikut ini adalah 10 pertanyaan yang harus Anda tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda seorang Entrepreneur atau bukan.

Pertanyaan-pertanyaan ini dibuat oleh Lilian Katz, yang lebih dikenal sebagai Lilian Vernon, dia adalah pendiri perusahaan Lilian Vernon sebuah lembaga pemasaran langsung (Direct marketing) dengan nilai perusahaan sebesar US$258 juta (Th 2001).

No. Pertanyaan Komentar Lillian Vernon
1. Apakah Anda memiliki Komitmen yang dibutuhkan? Untuk sukses, Anda harus memiliki hasrat yang sangat kuat tentang pekerjaan yang telah Anda pilih. Antusiasme yang ala kadarnya tidak akan membuat Anda bertahan menghadapi tantangan yang akan Anda hadapi saat memulai suatu usaha.
2. Apakah Anda siap bekerja extra keras? Memulai usaha sendiri membutuhkan kerja extra keras dengan waktu yang extra lama. Apakah Anda siap untuk mengorbankan waktu terbaik Anda bersama teman dan keluarga ? Untuk mengembangkan bisnis yang sukses Anda harus memfokuskan seluruh energi yang ada.
3. Apakah Anda memiliki stamina mental dan konsentrasi yang pas sesuai dengan tuntutan pekerjaan? Jika perhatian Anda selalu berubah-ubah, itu akan bisa membahayakan keberuntungan Anda.
4. Apakah Anda :
a. Menerima ide dengan mudah?
b. Menghormati ide orang lain?
c. Mudah membuat keputusan?
Seorang pengusaha harus berpikir terbuka (open-minded), fleksibel dan mudah merespon ide-ide baru.
5. Apakah Anda selalu menyediakan waktu untuk menganalisa masalah dan mencari solusinya? Tidak perduli seberapa hati-hati Anda membuat rencana, Anda akan dihadapkan oleh masalah yang tidak dapat diduga baik saat ini maupun dimasa datang. Selalu bersiap-siaplah untuk mengatasi situasi tersebut (waspada).
6. Apakah Anda siap untuk komitmen jangka panjang? Kesuksesan sebuah perusahaan bukanlah suatu keajaiban yang bisa terjadi dalam satu malam. Ini adalah salah satu alasan mengapa Anda harus yakin bahwa Anda mencintai pekerjaan Anda, masih banyak yang harus Anda kerjakan untuk sukses.
7. Apakah Anda memiliki sumber daya yang memadai? Institusi keuangan sangat jarang mendanai usaha yang baru berdiri. Apakah ada anggota keluarga atau teman yang berinvestasi diperusahaan Anda atau setidaknya mendukung Anda dimasa-masa sulit (hutang-talangan dana) ?
8. Apakah Anda senang berkonsentrasi pada detail? Seringkali, tidak ada seorangpun kecuali Anda yang akan menangani urusan – urusan detail. Kehidupan seorang pengusaha tidak semata mengurusi ide saja.
9. Apakah Anda siap untuk duduk dan menulis suatu analisa prospek bisnis secara hati-hati? Jika Anda tidak membuat dan mempersiapkan diri untuk skenario terbaik dan terburuk yang diperlukan untuk membimbing Anda pada tahun-tahun pertama, Anda akan dikejutkan oleh satu atau dua kejutan yang tidak. Waspada dan bersiaplah.
10. Apakah Anda seorang yang optimis secara alamiah ? Kesalahan dan kemunduran sudah wajar terjadi. Bisakah Anda belajar dari kesalahan tanpa patah semangat dan berkecil hati?

Bekerja Keras

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja, Enterpreneurship — jundul @ 12:11:33

Nasib seorang wiraswastawan tidak mudah. Anda harus bekerja keras. Namun, karena Anda bekerja disebagian besar waktu Anda, pasti ada harga yang harus dibayar. Korban pertama adalah kehidupan sosial Anda. Waktu untuk berkencan, untuk keluarga, bahkan untuk bersenang-sengang tidak akan anda miliki pada masa-masa awal menjalankan bisnis anda.. Bisa-bisa ini menjadi sebuah kehidupan yang sunyi.

Dalam keadaan seperti ini Anda sangat beruntung apabila memiliki kekasih atau seorang istri yang setia menemani dalam suka maupun duka. Karena menjadi seorang wirausahawan juga adalah masalah daya tahan. Seperti mendung di musim hujan. Setelah hujan pun turun, langit akan menjadi cerah kembali.

Ada kompensasi. Semakin keras Anda bekerja, maka Anda akan semakin beruntung. Sebagai contoh seorang rekan,  Dia, ”cuma” reporter di tabloid keluarga muslim. Sebagai employee — kalau mengikuti teori kuadran Robert T. Kiyosaki – berkat dorongan saya, dan ”keahlian interpersonalnya”, berkomunikasi, ia saya desak menjadi jurnalis ”semi-bisnis” dalam arti, memfungsikan ketrampilan jurnalistik dan lobbynya untuk menulis soft advertorial. Meski awalnya agak ogah-ogahan, ia memula peran-peran semacam copywriter, penulis artikel soft advertorial di tabloidnya (maksudnya: rubrik bernuansa promotif, dengan dua macam kompensasi: penjualan langsung dalam jumlah minimal tertentu, atau semi-iklan). Rekan ini, meskipun masih sayang profesi jurnalistiknya, mulai menjalankan tugas barunya.

Hasilnya? Luar biasa untuk reporter yang sepanjang empat tahunan bekerja, murni sebagai jurnalis.  Rekani ini berhasil mencapai targetnya. Ia memang bekerja keras, dan agak mengorbankan waktunya untuk keluarga. Bukan itu saja. Ia ”tebal muka” dicibiri sebagai ”jurnalis matre” (materialis, Pen.), karena artikelnya kian selektif pada isu-isu yang ”bergizi” alias bisa menghasilkan ”penjualan langsung” ataupun ”semi advertorial”. Akibat lanjutnya, bisa ditebak. Dari ”main-main” jadi serius. Bossnya, pemimpin perusahaan tabloid muslim, malah menargetkan jumlah tertentu perminggunya harus ia capai. target itu, tercapai, bahkan beberapa kali terlampaui. Apa yang ia kerjakan, semua orang di perusahaannya tahu. Meski pun berisiko dilecehkan, rekan ini tahan banting. The show must go on. Apa yang dikerjakannya, menginspirasi unit bisnis lainnya di bawah payung holding yang sama.

”Syukur, istri saya sangat pengertian. Untuk kerja keras itu, saya bisa menabung dengan nilai yang lumayan dibanding rekan selevel saya. Saya bisa membeli sepeda motor secara tunai, dalam tahun kedua saya bekerja. Itu sesuatu yang tidak saya bayangkan sama sekali, bahwa saya mampu membelinya.” Itulah rekan ini, yang karena masih sayang pada profesi jurnalistiknya, mengaku baru menggunakan belum separuh dari potensi enterprenership yang ada dalam dirinya.

”Seseorang yang bekerja 16 jam sehari akan sampai ke tempat yang ingin dicapainya dua kali lebih cepat daripada orang yang bekerja 8 jam sehari.”

21 November, 2008

Jadi Pebisnis IT, Siapa Takut?

Diarsipkan di bawah: Dunia Kerja, Enterpreneurship — jundul @ 10:11:53

Pada suatu pagi di musim dingin tahun 1974, dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul World’s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models. Artikel ini memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates, dan mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer-komputer tersebut sangat dibutuhkan. Bill Gates kemudian menghubungi perusahaan pembuat Altair, yaitu MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dan hebatnya dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap diimplementasikan dan bekerja sempurna di Altair. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard, dan bersama dengan Paul Allen mendirikan Microsoft.

Kisah berbeda datang dari Jerry Yang, yang pada tahun 1990 menjalani program doktor di Stanford University. Bersama dengan sahabatnya David Filo, mereka lebih menyukai kegiatan surfing di Internet, daripada aktifitas dan penelitian program doktor yang mereka ikuti. Mereka mulai mengumpulkan link situs-situs yang menarik, sampai akhirnya list yang mereka buat telah menjadi terlalu panjang dan terlalu banyak. Mereka kemudian membaginya menjadi banyak kategori dan subkategori. Inilah peristiwa bersejarah yang mengawali lahirlah perusahaan besar bernama Yahoo!. Yahoo merupakan singkatan dari Yet another Hierarchical Officious Oracle. Awalnya, yang mengakses ke direktori Yahoo! hanya Yang, Filo, dan beberapa teman dekat mereka di Stanford University. Namun, dari obrolan mulut ke mulut, orang mengakses ke Yahoo! menjadi semakin banyak. Mengetahui bahwa orang yang mengakses ke Yahoo! menjadi sangat banyak, mereka akhirnya menjadikan Yahoo! sebagai bisnis.

Dua kisah diatas tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah bisnis Information Technology (IT) dapat terlahir. Dan masih banyak kisah-kisah lain tentang kesuksesan bisnis IT, yang kadang dimulai dari sesuatu yang sederhana, dari sebuah hobi atau kemampuan kita membaca kebutuhan masyarakat terhadap suatu solusi. Bidang IT termasuk bidang yang unik, karena banyak sekali pebisnis dan tokoh-tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter dan kreatifitas.

Nah, keunggulan yang diperoleh seseorang karena pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk, ide dan perjoeangan yang dilakukan adalah merupakan keunggulan defacto. Sebaliknya keunggulan yang diperoleh seseorang karena gelar (degree), sertifikasi (certification) dan pengakuan formal, sering saya sebut sebagai keunggulan dejure. Bisnis dan peluangnya bisa lahir dari keunggulan defacto maupun dejure, dan keduanya bisa saling melengkapi.

Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy, adalah nama-nama yang besar di dunia IT karena keunggulan defacto mereka. Orang mungkin juga lupa bahwa Jerry Yang adalah seorang akademisi yang menguasai dengan baik teori-teori dasar komputasi. Meskipun dia lebih terkenal karena sebagai founder dari Yahoo.Com. William Joy yang lulusan the University of California Barkeley, justru lebih terkenal karena sebagai pendiri dari Sun Microsystems. Bill Gates dan Kevin Mitnik juga memberikan nyata bagaimana keunggulan defacto menjadi sesuatu hal yang dominan dalam terlahirnya sebuah bisnis.

Menariknya fenomena ini juga dikaji secara mendalam laporan khusus Gartner 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special Report), meskipun dengan terminologi yang berbeda. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis IT akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Dengan degree dan sertifikasi, kita mungkin akan bisa menjadi seorang spesialis dalam suatu bidang (keunggulan defacto). Tapi ternyata ini saja tidak cukup, diperlukan kemampuan verbal, komunikasi memberi solusi dan berhubungan dengan orang lain (keunggulan defacto). Ini yang disebut dengan seorang versatilis, dan versatilis bukanlah generalis yang tahu banyak hal tapi dangkal atau hanya kulit-kulitnya saja.

Inilah jalan untuk survive dan menjadi seorang entrepreneur di dunia IT. Dan Sumber Daya Manusia (SDM) IT Indonesia, sejak dini sebaiknya diarahkan untuk memiliki kombinasi kedua keunggulan tersebut. Di satu sisi kita selalu encourage mahasiswa-mahasiswa kita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain kita ajak untuk aktif dan kreatif lewat kerja-kerja unik yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Memberi kesempatan mereka untuk mengerjakan berbagai project atau mengembangkan produk yang bisa mereka jual. Dan pengalaman itu mematangkan teori dan konsep yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Pesan terakhir untuk rekan-rekan generasi muda yang ingin mendaki jalan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang IT:

  • Sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah  sebuah tool (alat) yang harus kita kuasai dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool tersebut bersifat tidak kekal, dan bukanlah agama yang harus dianut atau difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap keputusan yang diambil dalam hidup harus memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar. Ketika kita harus mengambil cuti kuliah untuk mengerjakan sebuah project IT, harus diperhitungkan benar seberapa jauh cost yang kita keluarkan untuk mendapatkan pengalaman tesebut.
  • Pembelian buku dan komputer harus kita anggap sebagai sebuah investasi. Kita harus produktif menggunakan buku dan komputer untuk menghasilkan keuntungan baik material maupun pengalaman.
  • Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
  • Mengambil kesempatan kerja part time atau full time sebagai proses pembelajaran dan melatih diri secara riil di dunia industri.
  • Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan berkomunikasi dengan mesin (komputer), tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam sekalipun.
  • Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain, siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita, meskipung kadang-kadang tidak langsung datang seketika.

Siapapun kita, apapun degree kita, apapun bidang kerja kita, asal kita sudah berniat untuk terjun di bisnis dan industri IT, kita bisa mulai dari keunggulan defacto dan dejure yang kita miliki. Jadi pebisnis IT, siapa takut?

31 Agustus, 2008

Angka Hoki Kepribadian Enterpreneur

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 11:08:36

9 Tipe Kepribadian Entrepreneur – Yang Manakah Tipe Kepribadian Anda?

1. The Improver.

Anda memiliki kepribadian ini jika Anda menjalankan bisnis dengan menonjolkan gaya improver alias ingin selalu memperbaiki. Anda menggunakan perusahaan Anda untuk ‘memperbaiki dunia’. Improver memiliki kemampuan yang kokoh dalam menjalankan bisnis. Mereka juga memiliki intergritas dan etika yang tinggi.

Personality Alert: Waspadai sifat Anda yang cenderung menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap karyawan dan pelanggan Anda. Contoh Entrepreneur: Anita Roddick, pendiri The Body Shop.

2. The Advisor.

Tipe kepribadian pebisnis seperti ini bersedia memberikan bantuan dan saran tingkat tinggi bagi para pelanggannya. Motto dari advisor ini yaitu pelanggan adalah benar dan kita harus melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka.

Personality Alert: Seorang advisor bisa jadi terlalu fokus pada kebutuhan bisnis mereka dan pelanggan, sehingga cenderung mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan bisa-bisa malah cape hati sendiri. Contoh Entrepreneur: John W. Nordstrom, pendiri Nordstorm.

3. The Superstar.

Inilah bisnis yang pusatnya dikelilingi oleh karisma dan energi  tinggi dari Sang CEO Superstar. Pebisnis dengan kepribadian seperti ini biasanya membangun bisnis mereka dengan personal brand mereka sendiri.

Personality Alert: Pebisnis dengan tipe ini bisa menjadi terlalu kompetitif dan workaholics.

Contoh Entrepreneur: Donald Trump, CEO Trump Hotels & Casino Resorts.

4. The Artist.

Kepribadian pebisnis seperti ini biasanya senang menyendiri tapi memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka biasanya sering kali ditemukan di bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti pada perusahaan agen periklanan, web design, dll.

Personality Alert: Pebisnis tipe ini bisa jadi terlalu sensitif terhadap respon pelanggan Anda, walaupun kritik dari mereka bersifat membangun.

Contoh Entrepreneur: Scott Adams, pendiri dan penggagas Dilbert.

5. The Visionary.

Sebuah bisnis yang dibangun oleh seorang visioner biasanya berdasarkan visi masa depan dan pemikiran pendirinya. Anda memiliki keingintahuan yang tinggi untuk mengerti dunia di sekeliling Anda dan akan membuat rencana untuk menghindari segala macam rintangan.

Personality Alert: Seorang visioner bisa jadi terlalu fokus pada mimpi mereka dan kurang berpijak pada realitas. Dan jangan lupa, menyertai visi Anda dengan melakukan tindakan nyata. Contoh Entrepreneur: Bill Gates, pendiri MicroSoft Inc.

6. The Analyst.

Jika Anda menjalankan bisnis sebagai seorang analis, perusahaan Anda biasanya memfokuskan pada penyelesaian masalah dalam suatu cara sistematis. Seringkali berbasis pada ilmu pengetahuan, keahlian teknis atau komputer, seorang analis perusahaan biasanya hebat dalam memecahkan masalah.

Personality Alert: Hati-hati dengan kelumpuhan analisa. Bekerjalah dengan mempercayai orang lain. Contoh Entrepreneur: Gordon Moore, pendiri Intel.

7. The Fireball.

Sebuah bisnis yang dimiliki oleh si ‘Bola Api’ ini biasanya  dioperasikan dengan penuh hidup, energi dan optimisme. Pelanggan merasa perusahaan Anda dijalankan dengan tingkah laku yang fun.

Personality Alert: Anda bisa jadi berkomitmen yang berlebihan terhadap tim Anda dan bertingkah laku terlalu impulsif. Seimbangkan keimpulsivan Anda dengan rencana bisnis.

Contoh Entrepreneur: Malcolm Forbes, penerbit dan pendiri Forbes Magazine.

8. The Hero.

Anda memiliki kemauan dan kemampuan yang luar biasa dalam memimpin dunia dan bisnis Anda melalui segala macam tantangan.  Anda adalah inti dari kewirausahaaan dan bisa mengumpulkan banyak perusahaan besar.

Personality Alert: Terlalu mengumbar janji dan menggunakan taktik kekuatan penuh untuk mendapatkan sesuatu dengan cara Anda tidak akan berhasil dalam jangka waktu panjang. Untuk
menjadi sukses, percayailah keterampilan kepemimpinan Anda untuk menolong orang lain menemukan jalan mereka.

Contoh Entrepreneur: Jack Welch, CEO GE.

9. The Healer.

Jika Anda adalah seorang ‘penyembuh’, Anda bersifat pengasuh dan penjaga keharmonisan dalam bisnis Anda. Anda memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan keteguhan disertai dengan ketenangan dari dalam.

Personality Alert: Karena sifat perhatian Anda dan ‘kepenyembuhan’ Anda dalam menjalankan bisnis, Anda bisa jadi menghindari realitas di luar sana dan selalu terlalu berharap. Gunakan skenario perencanaan untuk persiapan datangnya masalah.

Contoh Entrepreneur: Ben Cohen, salah satu pendiri Ben & Jerry’s Ice Cream.

Nah, dengan mengetahui 9 tipe kepribadian dalam menjalankan sebuah bisnis, Anda bisa lebih terarah dalam membangun bisnis . Tapi yang tak kalah pentingnya adalah pengetahuan mengenai seluk beluk bisnis itu sendiri, termasuk  bagaimana cara memasarkannya .

12 Agustus, 2008

Trend, Sebuah Peluang atau Tantangan ?

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 04:08:02
foto berita artikelSeperti kita tahu, terjadi euforia besar-besaran di dunia bisnis terutama di bidang agribisnis. Begitu banyak orang berpindah dari core bisnis sebelumnya ke agribisnis. Agribisnis yang tadinya dipandang sebelah mata menjadi lahan yang empuk untuk investasi.

Begitu banyak produk agribisnis menjadi trend di masyarakat akhir-akhir ini. Lihat saja bagaimana orang beramai-ramai mengusahakan cacing karena tergiur pesan bahwa terbuka pasar ekspor untuk cacing. Tetapi pada kenyataannya tidak ada serapan untuk pasar cacing selain untuk pakan ikan dan umpan memancing. Kasus yang lain adalah bagaimana orang  tergiur tawaran mengusahakan ikan lou han karena tertarik isu bahwa “ikan bertato” ini membawa rejeki pada pemiliknya. Sehingga tidak jarang orang mulai memandang berjam-jam bentuk marking di tubuh ikan ini untuk mengetahui apakah berbentuk huruf dan bisa dibaca, dengan harapan jika dapat dibaca pasti laku mahal. Akhirnya marking yang tidak jelas pun dianggap jelas oleh pemiliknya dan mulai diartikan dengan kata tertentu. Euforia terakhir adalah kasus anthurium. Sebuah tanaman dengan daun lebar dan besar ini dibandrol ratusan juta bahkan terkadang seharga sebuah rumah dan mobil.

Trend yang semacam ini merupakan peluang untuk masuknya berbagai macam lini bisnis. Mulai dari on farm nya hingga ke marketingnya. Banyak orang menuai hasil dari produk yang mereka usahakan. Bahkan banyak orang yang tidak memiliki pun bisa menuai hasil. dengan bermodalkan handphone berkamera, banyak orang berkeliaran mencari produk, memotretnya dan kemudian menawarkan kepada pembeli. Tentu saja dengan memperoleh bagian dari hasil penjualan. Begitu menggiurkannya agribisnis hingga orang berpindah dari usaha lamanya. Begitu banyak middle man tanah atau mobil (yang kita kenal sebagai makelar) berpindah untuk menawarkan produk agribisnis.

Daya tarik trend yang luar biasa ini mengubah dunia bisnis di negeri ini. Tetapi sayang, banyak juga yang jatuh karena trend ini. Banyak orang berinvestasi di dunia cacing dan lobster air tawar, namun pada kenyataannya harganya “terjun bebas” karena tidak ada end user-nya. Bagaimana di bidang tanaman? Tidak banyak pula orang telah menginvestasikan uangnya di dunia tanaman, tetapi setelah dibeli dengan harga mahal ternyata di kemudian hari harganya mulai menurun dan akhirnya hanya menjadi pajangan di rumah.

Dari semua kenyataan ini, apakah tren itu sebuah peluang? atau ancaman?
Jawabannya tergantung dari sisi mana saudara melihat. Dengan berpikir positif, apapun trend itu sebenarnya semua bisa menjadi peluang, tapi harus diingat satu hal :
“being trend setter not the follower” maka trend akan menghasilkan banyak uang bagi saudara.

Anda boleh memilih dimana posisi Saudara.
seorang trend setter akan memiliki keuntungan paling besar dalam sebuah trend dibandingkan dengan pengikut trend. Walau bukan berarti pengikut trend tidak menguntungkan, tetapi jika dibandingkan dengan para trend setter akan sangat jauh berbeda.

Lalu bagaimana jika Saudara memilih berada di luar trend? Apakah merugikan? Tidak juga.
bukankah tidak semua orang mencari barang yang ada dalam trend? Bukankah ada pasar yang justru terbuka di luar trend? Tidak ada yang tidak menguntungkan di dunia bisnis, jika saudara berada di tempat dan posisi yang tepat dengan waktu yang tepat.

Silahkan Memilih.
[sumber : Panuwun Budi Raharjo ]

9 Agustus, 2008

4 Jenis Warna Kepribadian

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 06:08:24

Warna dapat digunakan sebagai alat interaksi yang penting dalam percetakan atau desain dengan pesan yang bagus, biasanya untuk brosur, koran, iklan, layout website dan publikasi lainnya. Warna boleh dikatakan sebagai komunikasi non-verbal yang dapat membentuk reaksi physical dan emosional kepribadian. Terdapat tiga jenis warna :

  • Cool color, biasanya akan memancarkan efek ketenangan, dingin, impersonal, kenyamanan, sifat pemeliharaan dan, dan seperti antiseptic. Termasuk Cool color :
  • Biru : berarti kuat, penting, damai, cerdas
  • Hijau : berarti tumbuh, sehat, lingkungan, harmoni

Warm color, biasanya membawa sisi emosional, seperti mulai dari optimism hingga kekerasan yang kuat. Warna merah, kuning, pink atau oranye dapat membuat kegemparan ataupun kemarahan. Termasuk dalam Warm color :

  • Merah : berarti love, nafsu, panas, kegembiraan, power
  • Pink : berarti manis, menyenangkan, romantis, lembut, lucu
  • Kuning : berarti ceria, gembira, menyenangkan, kenangan
  • Emas : berarti kaya, terang, tradisional, boros
  • Oranye : berarti energy, perubahan yang hangat, kesehatan

Perpaduan Cool dan Warm color, biasanya memadukan ketenangan dan keramaian. Warna yang muncul dari perpaduan keduanya, seperti biru dan merah atau biru dengan kuning. Untuk hijau di bawah ini, lebih kepada perpaduan dari Cool dan Warm color. Termasuk perpaduan Warm dan Cool color :

  • Ungu : berarti royal, indah, romantis, suci
  • Lavender (lembayung muda) : berarti anggun, elegan, lembut, feminin
  • Hijau : berarti tumbuh, sehat, lingkungan, harmoni
  • Turquoise (biru-hijau) : berarti feminine, pintar, kemunduran
  • Beige (abu-abu – coklat) : berarti konservatif, santai

Neutral color, biasanya akan membantu memfokuskan warna lain atau menurunkan warna yang mungkin sangat kuat melebihi yang lain. Untuk warna hitam, coklat, emas, beige lebih ke warna warm color, sedangkan putih, silver, dan abu-abu lebih mengarah ke cool color. Untuk Warm dan Cool color tersebut, lebih fleksibel daripada merha ataupun biru. Termasuk Neutral color :

  • Hitam : berarti konservatif, misterius, pintar
  • Abu-abu : berarti formal, konservatif, cerdas
  • Silver : berarti halus, glamour, kaya
  • Putih : berarti murni, polos, kelembutan
  • Gading : berarti sunyi, elegan, menyenangkan
  • Coklat : berarti membumi, simple, friendly, sehat
  • Beige : berarti konservatif, santai

[sumber : beritanet.com]

31 Juli, 2008

Panel Data : Riset Perilaku Konsumen dan Pemasaran

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 02:07:53

Dalam bidang riset pemasaran, para peneliti sering menggunakan panel data untuk menganalisa perilaku konsumen di pasar. Dengan menganalisa panel data, peneliti dapat memperdalam pemahamannya tentang berbagai karakteristik dan keteraturan perilaku konsumen dalam menentukan apakah harus membeli barang atau tidak, menentukan waktu pembelian, kuantitas yang harus dibeli, pemilihan brand, dan lain-lain. Pemahaman ini berguna bagi para peneliti dalam mengajukan berbagai macam strategi pemasaran untuk menaikkan jumlah penjualan atau keuntungan perusahaan.

Pesatnya penggunaan panel data telah membawa perubahan besar dalam riset perilaku konsumen dan pemasaran. Sebelum panel data muncul, riset di bidang ini hanya terbatas pada pengujian hipotesa melalui eksperimen dan wawancara. Namun setelah berkembangnya panel data, peneliti dapat menganalisa perilaku riil konsumen di pasar karena panel data memberikan informasi siapa, kapan, dimana, dan apa yang dibeli serta variabel-variabel yang dapat mempengaruhi pembelian seperti harga, potongan harga dan iklan. Munculnya panel data juga telah merangsang perkembangan berbagai metode dan model baru untuk menjelaskan perilaku konsumen yang dapat berguna bagi para praktisi dalam menentukan kebijaksanaan pemasaran.

1. Pengertian panel data

Menurut definisi, panel data adalah catatan nilai variabel-variabel yang diambil dalam jangka waktu tertentu dari suatu kelompok target sampel (panel) yang telah ditentukan. Variabel-variabel tersebut bisa berupa keadaan atau aksi yang dilakukan oleh panel yang dapat berubah seiring dengan waktu. Dengan kata lain panel data adalah gabungan dari cross-sectional data dan time series data. Misalnya data yang memuat catatan tahunan pendapatan dan konsumsi suatu produk dari suatu komunitas tertentu. Di sini pendapatan dan konsumsi adalah cross-sectional variable yang nilainya bisa bervariasi tergantung dari panel. Kedua variabel tersebut dapat berubah dalam jangka waktu tertentu.

Panel data yang dipakai dalam riset perilaku konsumen dan pemasaran biasanya disebut consumer panel data. Data ini merupakan catatan pembelian dari para panel yang diambil secara berkelanjutan selama jangka waktu pengumpulan data. Umumnya data ini memuat, nomor panel, tanggal pembelian, brand atau produk yang dibeli, kuantitas brand yang dibeli, dan harga brand tersebut. Sebagai tambahan, consumer panel data biasanya dilengkapi dengan data demografik dari para panel seperti umur, pendapatan, dan jumlah anggota keluarga. Data ini berguna untuk menjelaskan apakah pengambilan keputusan dalam membeli produk dipengaruhi oleh faktor-faktor demografik tersebut. Pada Tabel 1 disajikan contoh dari potongan consumer panel data dari produk kopi instant di pasar Jepang.

Tabel 1. Contoh panel data pembelian kopi instant di pasar jepang

2. Sejarah perkembangan penggunaan consumer panel data

Pada awalnya potensi dari consumer panel data kurang begitu diperhatikan oleh para peneliti. Pada masa itu perusahaan atau instansi yang mengumpulkan data membuat perjanjian dengan para calon panel untuk dijadikan sampel. Para panel diminta untuk mencatat produk dan harga dari produk yang mereka beli dan melaporkannya pada perusahaan pengumpul data. Namun pengumpulan data seperti ini mempunyai beberapa kelemahan seperti tidak lengkapnya data yang terkumpul dikarenakan panel lupa mencatat atau enggan mencatat produk tertentu yang mereka beli. Ketidaklengkapan ini dapat menurunkan tingkat kepercayaan dari data tersebut dan mengakibatkan para peneliti kurang meliriknya. Selain itu, karena cara pengumpulan data seperti ini cukup memberikan beban kepada panel, jumlah orang yang bersedia untuk dijadikan panel kurang begitu signifikan.

Pada pertengahan tahun 80-an, di supermarket dan toko eceran di Amerika berkembang penggunaan Unit Product Code Scanner. Alat ini adalah alat pembaca produk yang telah diberi kode berupa garis-garis yang sama panjang namun berbeda ketebalan sesuai dengan produk tersebut. Di Jepang kode seperti ini dikenal dengan nama bar code. Kode ini biasanya tercantum dalam bungkus setiap produk kalau kita belanja di supermarket. Di kebanyakan supermarket biasanya konsumen yang menjadi anggota diberi kartu pengenal yang juga mencantumkan bar code yang memuat data profil konsumen tersebut. Pada setiap pembelian kartu tersebut akan discan bersama barang-barang yang dia beli sehingga data barang beserta pembelinya bisa dikumpulkan.

Menyebarnya sistem ini membawa angin segar bagi pengumpulan panel data. Dengan menggunakan sistem ini resiko akan ketidaklengkapan data akibat panel lupa atau enggan mencatat produk yang dia beli dapat dihindari karena produk-produk tersebut akan discan dan direkam dalam data base. Juga karena setiap konsumen yang menjadi anggota di supermarket secara otomatis menjadi panel tanpa harus mencatat produk-produk yang dia beli, sample bisa diambil dalam jumlah yang signifikan. Faktor-faktor diatas telah menaikan tingkat kepercayaan panel data dan menarik perhatian para peneliti untuk menggunakannya dalam menganalisa perilaku konsumen. Sejak saat itu jumlah karya-karya ilmiah dengan menggunakan panel data berkembang dengan pesat.

3. Pengaruh panel data pada riset perilaku konsumen dan pemasaran

Sebelum berkembangnya penggunaan panel data, penelitian perilaku konsumen lebih banyak menggunakan pendekatan behavioral science seperti psikologi dan sosiologi. Pada masa itu pusat perhatian para peneliti adalah pengujian berbagai teori dan hipotesa mengenai perilaku konsumen dengan cara mengadakan eksperimen atau wawancara. Misalnya untuk menyelidiki tingkat kemampuan konsumen dalam mengingat harga, diadakan eksperimen terhadap beberapa subyek dengan cara menanyakan harga beberapa barang yang telah diperlihatkan kepada mereka beberapa hari sebelumnya. Contoh lainnya adalah analisa segmentasi pasar berdasarkan stratifikasi sosial atau life cycle.

Para peneliti yang menggunakan metode seperti ini telah banyak memberikan kontribusi dalam membangun teori-teori perilaku konsumen. Hanya sayang, akibat terlalu memfokuskan pada pengujian teori dan hipotesa, tujuan riset bergeser dari pencarian pemahaman perilaku konsumen untuk menaikan penjualan dan keuntungan perusahaan menjadi pengujian hipotesa. Teori-teori yang baru dibangun untuk menguatkan teori-teori yang sudah ada dan bukan untuk diaplikasikan di pasar yang nyata. Trend riset seperti ini telah memperlebar jurang pemisah antara peneliti dan praktisi pemasaran.

Munculnya panel data dengan segudang informasi yang dimilikinya meniupkan angin perubahan terhadap arah penelitian perilaku konsumen dan pemasaran. Karena panel data merupakan data kegiatan riil konsumen di pasar, para peneliti dapat memfokuskan penelitiannya pada perilaku nyata konsumen dan menghubungkannya dengan jumlah penjualan dan keuntungan perusahaan. Berbagai metode dan model baru dikembangkan untuk menjelaskan hubungan antara variabel pemasaran dengan proses pengambilan keputusan oleh konsumen. Sekarang telah banyak hasil riset yang sudah diaplikasikan di dunia bisnis seperti brand choice model yang berguna untuk mengetahui efektivitas strategi pemasaran dalam pemilihan brand, memprediksi permintaan produk, dan menyelidiki struktur pasar.

4. Riset perilaku konsumen dan pemasaran dengan menggunakan panel data

Sampai sekarang telah ribuan karya ilmiah dibidang pemasaran yang dihasilkan dengan menggunakan panel data. Pada umumnya karya-karya tersebut dipublikasikan di majalah-majalah ilmiah yang beraliran sains seperti Journal of Marketing Research dan Marketing Science. Isu utama yang menjadi pusat perhatian peneliti dalam menganalisa panel data adalah efektivitas strategi pemasaran seperti strategi harga, potongan harga dan iklan terhadap pengambilan keputusan oleh konsumen dalam membeli produk. Apabila efek dari variabel-variabel di atas dapat diketahui, manager pemasaran dapat mengontrol variabel-variabel tersebut untuk memaksimalkan penjualan atau keutungan perusahaan.

Sebagai contoh dari riset-riset diatas misalnya penggunaan multinomial logit model untuk mengidentifikasi perilaku konsumen dalam memilih brand. Dengan model ini kita bisa tahu bagaimana harga dan diskon mempengaruhi konsumen dalam memilih brand. Kita juga bisa tahu bagaimana apakah loyalitas terhadap brand mempengaruhi perilaku tersebut. Contoh lain adalah penggunaan negative binomial distribution dan hazard model untuk menjelaskan bagaimana jangka waktu antar pembelian dipengaruhi variabel pemasaran. Mengenai efektivitas iklan TV, beberapa peneliti mengaplikasikan tobit model untuk mengetahui hubungan antara panjang waktu melihat iklan dengan pemilihan brand.

5. Keterbatasan dalam penggunaan panel data

Walaupun panel data menyimpan banyak potensi yang berguna untuk memahami perilaku konsumen, bukan berarti tidak ada keterbatasan dalam penggunaannya. Memang benar panel data memberikan informasi tentang kegiatan riil konsumen di pasar. Tetapi kita tidak bisa mengetahui apa yang ada dalam benak konsumen ketika mereka menghadapi pengambilan keputusan. Misalnya kita tidak bisa mengetahui persepsi mereka terhadap kualitas, harga, atau fungsi dari produk yang mereka beli. Informasi seperti itu bisa kita peroleh hanya lewat eksperimen atau wawancara yang beberapa sudah dikukuhkan sebagai teori. Akibatnya kita tidak bisa mengtahui bagaimana peranan persepsi konsumen dalam proses pengambilan keputusan apabila menggunakan panel data saja. Idealnya, riset perilaku konsumen dilakukan dengan menggunakan panel data yang didasari oleh teori-teori yang dihasilkan lewat eksperimen atau wawancara.

Kalau kita andaikan pengetahuan perilaku konsumen sebagai harta karun yang tersembunyi di dasar lautan, maka panel data adalah kapal utuk mengarungi lautan dan teori-teori perilaku konsumen adalah peta menuju harta karun. Kekurangan salah satu metode di atas akan sulit untuk mendapatkan harta karun tersebut.

[sumber : Dony Dahana Wirawan, Doktor bidang Riset Pemasaran dari Tohoku University, staf pengajar di Graduate School of Economics, Osaka University, dan anggota ISTECS chapter Jepang ]

26 Juli, 2008

Awalnya Selalu Bukan Uang

Diarsipkan di bawah: Enterpreneurship — jundul @ 09:07:50

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah. [Sumber : Reinhald Kasali]

Blog pada WordPress.com.