Putra Jati Melayu

24 November, 2008

Serba-Serbi Diabetes

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:33

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius. Karena jika tidak, dampak dari penyakit tersebut akan membawa berbagai komplikasi penyakit serius lainnya, seperti penyakit jantung, stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal, kerusakan system syaraf dan penyakit lainnya.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan keenam di dunia sebagai negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitusnya terbanyak setelah India, China, Uni Sovyet, Jepang, dan Brasil. Tercatat pada tahun 1995, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 5 juta dengan peningkatan sebanyak 230.000 pasien diabetes per tahunnya, sehingga pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 12 juta penderita.

Diabetes Mellitus itu sendiri didefinisikan sebagai penyakit dimana tubuh penderita tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, sehingga terjadi kelebihan gula di dalam tubuh. Kelebihan gula yang kronis di dalam darah (hiperglikemia) ini menjadi racun bagi tubuh.

Dua Tipe Diabetes

1. Diabetes Tipe I (IDDM/ tergantung insulin)

Seseorang dikatakan Diabetes tipe I, jika tubuh perlu pasokan insulin dari luar. Hal ini disebabkan karena sel-sel beta dari pulau-pulau Langerhans telah mengalami kerusakan, sehingga pancreas berhenti memproduksi insulin. Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa.

2. Diabetes Tipe II (NIDDM/ tidak tergantung insulin)

Diabetes tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pancreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Biasanya orang yang terkena penyakit diabetes tipe ini yaitu orang dewasa.

Gejala – Gejala Diabetes

Gejala diabetes tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak (di bawah 20 tahun), sebagai akibat dari adanya kelainan genetika, sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan baik. Gejala-gejala diabetes tipe I, antara lain :

• Berat badan menurun
• Kelelahan
• Penglihatan kabur
• Sering buang air kecil
• Terus menerus lapar dan haus
• Meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni

Sedangkan gejala-gejala diabetes tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaannya sama seperti gejala diabetes tipe I.

Penyebab Diabetes

Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik). Selain itu, adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes.

Pencegahan Diabetes

Penyakit ini dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine setiap tahun.

Cara Mengatasi Diabetes

Kalau sudah positif diabetes, maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter dan ikuti anjuran dokter dengan penuh disiplin. Selain itu, perlu melakukan diet, karena diet merupakan langkah awal dari usaha untuk mengendalikan diabetes. Namun, sebaiknya ketika melakukan diet, perlu juga dibarengi dengan olah raga secara teratur. Dan terakhir, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar gula Diabetes, yang merupakan suatu gangguan kelainan kadar gula darah karena rusaknya sel beta pankreas, sehingga perlu dikontrol dengan cermat.

Diabetes Pada saat Ibu Hamil

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:17

Bayi yang terlalu besar dalam kandungan bisa diakibatkan diabetes gestasional (diabetes pada saat ibu hamil) yang tidak terkontrol. Persalinan perlu tindakan operasi sesar. “Diabetes” gestasional dapat sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan. Namun Anda masih berisiko tinggi untuk mengalami lagi kelak.

Sebaliknya, diabetes pregestasional dapat mengakibatkan berat badan bayi terlalu kecil, mengalami cacat lahir atau meninggal saat dilahirkan. Jika Anda menderita diabetes, segera konsultasikan dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan.

Atau bila anda sedang hamil, hubungi dokter segera bila :

  • Kadar gula darah tidak normal.
  • Menurunnya gerakan bayi dalam kandungan.
  • Pendarahan.
  • Kontraki.

Sekedar tips untuk latihan pernapasan menjelang melahirkan agar bisa membantu memperlancar sirkulasi oksigen ke seluruh tubuh serta ke janin saat persalinan. Caranya;

  • Duduklah dengan posisi bersila dan punggung tegak.
  • Lemaskan seluruh tubuh.
  • Kemudian, tarik napas melalui hidung dan lepas napas melalui mulut.
  • Jangan lupa menarik napas dalam-dalam pada awal dan akhir.
  • Latihan ini juga bisa dilakukan dengan duduk bersandar di dinding dengan kaki diselonjorkan atau berbaring telentang dan kaki agak dilipat.

Penyakit Mata Retinopati Diabetes

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:43

Retinopati diabetes adalah penyakit mata yang sering terjadi pada penderita diabetes. Mereka yang menderita diabetes juga beresiko tinggi untuk mengidap penyakit mata lainnya seperti glaukoma dan katarak. Semua penyakit mata ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan berat hingga kebutaan.

Proses penyakit retinopati diabetik terjadi akibat perubahan-perubahan yang terjadi pada pembuluh darah retina, yaitu suatu membran tipis yang terbentuk dari sel-sel saraf yang berjejer di belakang 2/3 bola mata. Sel-sel saraf pada retina akan menerima cahaya dan mengirimkan sinyal ke otak tentang apa yang dilihat oleh mata.

Retinopati diabetik terdiri dari 2 stadium, yaitu :

  • Retinopati nonproliferatif
  • Merupakan stadium awal dari proses penyakit ini. Selama menderita diabetes, keadaan ini menyebabkan dinding pembuluh darah kecil pada mata melemah. Timbul tonjolan kecil pada pembuluh darah tersebut (mikroaneurisma) yang dapat pecah sehingga membocorkan cairan dan protein ke dalam retina. Menurunnya aliran darah ke retina menyebabkan pembentukan bercak berbentuk “cotton wool” berwarna abu-abu atau putih. Endapan lemak protein yang berwarna putih kuning (eksudat yang keras) juga terbentuk pada retina. Perubahan ini mungkin tidak mempengaruhi penglihatan kecuali cairan dan protein dari pembuluh darah yang rusak menyebabkan pembengkakan pada pusat retina (makula). Keadaan ini yang disebut makula edema, yang dapat memperparah pusat penglihatan seseorang.

  • Retinopati proliferatif.
  • Retinopati nonproliferatif dapat berkembang menjadi retinopati proliferatif yaitu stadium yang lebih berat pada penyakit retinopati diabetik. Bentuk utama dari retinopati proliferatif adalah pertumbuhan (proliferasi) dari pembuluh darah yang rapuh pada permukaan retina. Pembuluh darah yang abnormal ini mudah pecah, terjadi perdarahan pada pertengahan bola mata sehingga menghalangi penglihatan. Juga akan terbentuk jaringan parut yang dapat menarik retina sehingga retina terlepas dari tempatnya. Jika tidak diobati, retinopati proliferatif dapat merusak retina secara permanen serta bahagian-bahagian lain dari mata sehingga mengakibatkan kehilangan penglihatan yang berat atau kebutaan.

Retinopati diabetik biasanya berkembang menjadi beberapa tingkatan pada kebanyakan penderita diabetes tipe 1 dan sejumlah penderita diabetes tipe 2. Pengawasan kadar gula darah yang ketat dapat mencegah resiko perkembangan retinopati menjadi parah serta kehilangan penglihatan. Jika terjadi retinopati, maka deteksi awal dan pengobatan yang tepat (paling sering dengan laser) dapat membantu mencegah, menghambat atau merubah kehilangan penglihatan.

Mereka yang menderita diabetes, harus memeriksakan matanya pada seorang dokter mata (oftalmologis) setiap tahun, bahkan bila mereka tidak memiliki keluhan penyakit mata sekalipun. Asosiasi dibetes Amerika menyarankan pemeriksaan sekali (mulai dalam 3 hingga 5 tahun setelah didiagnosis menderita diabetes tipe 1 dan segera setelah didiagnosis menderita diabetes tipe2) dengan alasan sebagai berikut :

  • Seseorang yang mengidap retinopati diabetik tanpa disadari karena penyakit ini tidak selalu menyebabkan gejala-gejala hingga kerusakan retina makin parah.

  • Pengobatan akan lebih efektif jika dilakukan sebelum gejala-gejala dan komplikasi retinopati berkembang.

  • Dengan pemeriksaan mata yang teratur, seorang dokter mata dapat mengetahui dan mengobati sebelum tanda-tanda retinopati berlanjut.

Sayangnya banyak penderita diabetes yang tidak memeriksakan matanya setahun sekali untuk mengetahui apakah telah mengalami retinopati (atau penyakit mata lainnya yang disebabkan diabetes). Akibatnya, mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah mengidap retinopati sampai akhirnya kehilangan penglihatan yang signifikan. Retinopati diabetik merupakan penyebab utama dari kebutaan baru pada orang-orang yang berusia antara 20 hingga 74 tahun. Para ahli percaya banyak kasus-kasus kehilangan penglihatan dan kebutaan sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan mata tahunan pada penderita diabetes.

Faktor penyebab Diabetes

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:36

Secara singkat dapat dituliskan faktor-faktor apa yang mempertinggi risiko diabetes atau “faktor penyebab dari diabetes” adalah:

• Kelainan Genetika

Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena kelainan gen yang mengakibatkan tubuh tak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Selain itu, faktor resiko lainnya yaitu faktor kelebihan berat badan, stress, dan kurang bergerak.

• Usia

Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun dan pada mereka yang berat badannya berlebih sehingga tubuhnya tidak peka terhadap insulin.

• Gaya hidup stres

Stres kronis yang cenderung membuat seseorang mencari makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar lemak seretonin otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak itulah yang berbahaya bagi mereka yang berisiko kena diabetes.


• Pola makan yang salah

Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan risiko kena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebih) mengakibatkan gangguan kerja insulin (retensi insulin). Kurang gizi dapat terjadi selama kehamilan, masa anak-anak, dan pada usia dewasa akibat diet ketat berlebih. Sedangkan kurang gizi pada janin mungkin terjadi karena ibunya merokok atau mengkonsumsi alkohol selama hamilnya.

Sebaliknya, obesitas bukan karena makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga cadangan gula darah yang disimpan di dalam tubuh sangat berlebihan. Sekitar 80% penderita diabetes tipe II adalah mereka yang tergolong gemuk.

Tipe Penyakit Diabetes

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:17

Penyakit diabetes yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab juga memiliki tipe diabetes ini. Nah untuk mengetahui apa saja tipe penyakit diabetes itu, mari kita simak tulisan berikut ini.

• Diabetes Tipe I, tergantung pada insulin

Diabetes Tipe I ini adalah bila tubuh perlu pasokan insulin dari luar, karena sel-sel beta dari pulau-pulau Laangerhans telah mengalami kerusakan, sehingga pankreas berhenti memproduksi insulin. Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa.

Diabetes Tipe I ini diidap oleh sekitar 10-15% penderita diabetes di Amerika Serikat. Penderitanya harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari selama hidupnya, sehingga dikenal dengan istilah Insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM) atau diabetes mellitus yang tergantung pada insulin untuk mengatur metabolisme gula dalam darah. Dari kondisinya, inilah jenis diabetes yang paling parah.

Diabetes Tipe I ini biasanya ditemukan pada penderita yang mulai mengalami diabetes sejak anak-anak atau remaja, sehingga pada zaman dulu para dokter menyebutnya sebagai diabetes anak muda. Separuh dari penderita diabetes yang mengidapnya adalah usia dewasa, tetapi tidak berbadan gemuk seperti umumnya penderita Diabetes Tipe II. Para periset menyebutnya sebagai Diabetes Tipe 1,5, yang disebut sebagai LADA (latent autoimmune diabetes in adults), karena sistem imun menyerang (reaksi autoimun) sel-sel beta pankreas secara perlahan-lahan sehingga berhenti memproduksi insulin.

Penderita Diabetes Tipe I sangat rentan terhadap komplikasi jangka pendek yang berbahaya dari penyakit ini, yakni dua komplikasi yang erat berhubungan dengan perubahan kadar gula darah, yaitu terlalu banayak gula darah (hiperglikemia) atau kekurangan gula darah (hipoglikemia). Risiko lain penderita diabetes tipe I ini adalah keracunan senyawa keton yang berbahaya dari hasil samping metabolisme tubuh yang menumpuk (ketoasidosis), dengan risiko mengalami koma diabetik.

• Diabetes Tipe II, tidak tergantung pada insulin

Diabetes Tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Diabetes Tipe II ini merupakan tipe diabetes yang paling sering umum dijumpai, juga sering disebut diabetes yang dimulai pada masa dewasa, dikenal sebagai NIDDM (Non-insulin dependent diabetes mellitus). Jenis diabetes ini mewakili sekitar 90% dari seluruh kasus diabetes, karena umumnya 4 sampai 5 orang penderita Diabetes Tipe II ini memiliki kelebihan berat badan, maka obesitas sering dijadikan sebagai indikator bagi penderita diabetes.

Diabetes Tipe II ini dapat menurun dari orangtua yang penderita diabetes. Tetapi risiko terkena penyakit ini akan semakin tinggi jika memiliki kelebihan berat badan dan memiliki gaya hidup yang membuat anda kurang bergerak. Jadi pada Diabetes Tipe II ini yang menjadi pencetus utama adalah faktor obesitas (gemuk berlebih). Faktor penyebab lain adalah pola makan yang salah, proses penuaan, dan stress yang mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Juga mungkin terjadi karena salah gizi (malnutrisi) selama kehamilan, selama masa anak-anak, dan pada usia dewasa.

• Diabetes Tipe III, baru ditemukan

Para ahli di US percaya bahwa mereka telah menemukan tipe baru diabetes setelah menemukan bahwa insulin juga diproduksi di otak dan dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit Alzheimer. Penelitian yang dilakukan oleh Suzanne de la Monde bersama rekannya yang seorang professor di bidang patologi di Brown Medical Schoolini menemukan hubungan antara penyakit diabetes dan Alzheimer. Suzanne mengemukakan bahwa insulin yang diproduksi dalam otak, dibutuhkan tubuh untuk kelangsungan hidup sel-sel otak. Bila jumlahnya kurang, maka sel-sel otak pun akan mengalami degenerasi dan akhirnya memicu timbulnya penyakit Alzheimer. Hasil penelitian ini diperkuat lagi dengan dilakukannya penelitian pada jaringan otak dari mayat yang sebelumnya telah di diagnosa menderita penyakit Alzheimer. Hasilnya jumlah insulin dan IGF I berkurang di daerah cortex, hippocampus, dan hipotalamus.

Seluk-Beluk Diabetes Melitus

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:11:21

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.

Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus

Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 – 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.

Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :

1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1.

Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.

Tipe Penyakit Diabetes Mellitus

1. Diabetes mellitus tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin,dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.

Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.

2. Diabetes mellitus tipe 2

Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.

Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.

Kadar Gula Dalam Darah

Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 – 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 – 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.

Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.

Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.

Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus, ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.

Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes

Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan, selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet).

Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.

14 September, 2008

Pria Penderita Diabetes Harus Lebih Waspada

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 09:09:47

Pria penderita diabetes ternyata lebih sering tidak menyadari kondisi fisik, emosi dan masalah seks-nya. Hal ini diungkapkan dalam penelitian yang didukung oleh Asosiasi Penderita Diabetes di Amerika.

Lembaga advokasi nirlaba ini memberikan pendidikan yang fokus kepada pria penderita diabetes setelah melakukan survei kepda 1000 orang pria penderita diabetes. Dari analisa ditemukan bahwa pria penderita diabetes banyak yang tidak memperhatikan kondisi hati, ginjal dan penyakit lainnya.

“Pria penderita diabetes sedikit lebih memperhatikan resiko mata dan penyakit ginjal, tapi mereka hampir tidak tahu tentang emosi, masalah seks atau kualitas kehidupan mereka.” ujar Wakil Presiden American Diabetes Association Richard Bergenstal, dalam wawancaranya dengan Bloomberg.

Di Amerika terdapat 24 juta penderita diabetes, yang ketika tubuhnya lemas mereka menyuntikkan insulin untuk memberikan energi ke dalam darahnya. Kebanyakan dari penderita ini menrupakan penyakit Diabetes tipe 2, yang pada umumnya didapat setelah dewasa. Penyakit ini, menjadi pembunuh nomor tujuh di Amerika. Diabetes juga menggandakan resiko depresi, gangguan tidur, dan kadar testosterone-nya rendah yang akan meningkatka peluang impoten.

Mengenai kualiatas hidup penderita Diabetes, Bergenstal yang juga Direktur Eksekutif International Diabetes Center, mengatakan bahwa satu dari tiga penderita diabetes akan mengalami depresi berat. “Dan kalau depresi tidak ditangani dengan baik maka dia tidak dapat mengatur pola hidup yang baik pula.

Terobosan Baru Terapi Diabetes Melitus dengan Insulin Analog

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 08:09:38

Diabetes melitus adalah penyakit yang serius dan progresif, dengan jumlah penderita yang semakin banyak di Indonesia, yaitu kira-kira 14,7% penduduk perkotaan, dan 7,2% di pedesaan. Hampir sebagian besar diabetesi tsb tergolong diabetes tipe 2, dimana penyebabnya adalah kurangnya sekresi insulin pangkreas dan adanya resistensi tubuh terhadap insulin.

Banyak penelitian membuktikan bahwa tubuh tidak akan mampu menahan laju kerusakan sel-sel beta sehingga semakin lama, fungsi pangkreas dalam memproduksi insulin semakin menurun. Maka dari itu, lambat laun pasien akan mengalami kegagalan terapi dengan obat anti diabetikoral, dan pada akhirnya pasien diabetes akan membutuhkan terapi insulin.

Berangkat dari fakta tsb, teknologi farmasi kemudian beralih menciptakan inovasi terbaru dalam pengobatan insulin. Penggunaan insulin sudah mulai sejak 1922, yang bermula dari insulin hewan. Sekitar 1980-an mulai ditemukan insulin manusia, dan pada awal 1990-an ditemukan insulin analog, yang merupakan generasi insulin terbaru dengan profil kerja yang sangat mirip dengan insulin alamiah.

Menurut penjelasan Prof.dr.Slamet Suyono Sp.PD KEMD pada acara Insulin Analogue : New Tool Against Challenges in Diabetes, proses pembuatan insulin analog dibuat sedemikian rupa yaitu rangkaian asam aminonya berubah, sehingga menghasilkan efek penyerapan, distribusi.

Ada 3 jenis insulin analog yang dibagi berdasarkan durasi kerjanya, yakni insulin analog kerja sangat cepat (NovoRapid). Insulin Analog campuran/premixed (NovoMix) dan insulin analog kerja panjang (Levemir). Insulin analog kerja sangat cepat disuntikkan setiap kali sebelum makan utama dan berguna untuk menurunkan gula darah setelah makan (prandial glucose). Insulin analog kerja panjang disuntikkan sekali sehari sebelum tidur malam dan berguna untuk menurunkan gula darah puasa (fasting glucose). Sedangkan insulin analog campuran/premixed disuntikkan 1-3 kali sehari sesaat sebelum makan utama, sesuai kebutuhan dan berguna untuk menurunkan gula darah puasa dan juga gula darah setelah makan.

Ketiga jenis insulin analog tsb sudah banyak diteliti dan dibuktikan efikasi dan keamanannya. Studi oleh Garber dkk (2006) menunjukan bahwa terapi insulin analog campuran/premixed (NovoMix) mampu menurunkan HbA1c < 7%. Heller dkk (2004) menunjukkan bahwa terapi insulin analog kerja sangat cepat (NovoRapid) menurunkan insiden hipoglikemia sebanyak 72% bila dibandingkan dengan terapi insulin manusia generasi lama. Satu lagi studi oleh Russel Jones (2007) menunjukkan bahwa insulin kerja panjang, Levemir, memiliki efek penambahan berat badan yang sangat minimal sehingga ditoleransi pasien lebih baik.

Masing-masing insulin analog tersebut dikemas dalam kemasan pena disposable atau dikemas sekali pakai (Flexpen) yang sangat mudah dan praktis penggunaanya. Dengan profil yang sangat mirip dengan insulin fisiologis sehingga menghasilkan kendali glukosa darah yang lebih baik, lengkapi kemudahan cara pakai, maka diharapkan insulin analog dapat menjadi terhindar dari komplikasi-komplikasi diabetes yang mematikan.

Referensi ;
1. BPS-Statistics Indonesia Data, 2003
2. Garber AJ et al. Attainment of gly-caemic goals in type 2 diabetes …(The 1-2-3 study)     Diabetes Obes metab 2006;8:58-66
3. Heller et al. Hypoglycaemia with insulin aspart …Diabet Med 2004;21 (7):769-75
4. Russel – jones et al.Insulin Associated weight gain in diabetes….Diabetes, obes Metab     2007:9:799-812

Diabetes Mellitus Incar Usia Produktif

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 08:09:24

Meski penyakit diabetes mellitus tidak asing lagi di tengah masyarakat, namun pasien penyakit ini dari tahun terus bertambah. Tidak hanya usia di atas 50 tahun yang rentan terserang, kelompok usia produktif sekitar 20-30 tahun pun kini rentan terkena penyakit diabetes mellitus. Hal ini disebabkan pola hidup yang berubah, di mana orang dengan mengkonsumsi berbagai jenis makanan.

Hal ini disampaikan dr Roy Panusunan SpPD-KEMD, Wakil Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), di sela-sela Talkshow Kendali Diabetes, Cegah Komplikasi-Tetap Sehat Dengan Diabetes Mellitus yang digelar Laboratorium Klinik Prodia, Sabtu (30/8) di Hotel The Sunan Solo.

“Perubahan gaya hidup membuat pasien diabetes berkembang. Kalau dulu pasien yang terkena penyakit diabetes di atas usia 50-an, tetapi sekarang banyak usia muda sudah kena diabetes,” ujarnya.

Mengapa demikian, Roy menegaskan karena saat ini orang bisa dengan mudah mendapat makanan dan langsung mengkonsumsinya, tanpa mempedulikan akibat dari konsumsi makanan tersebut.

Bagaimana mengendalikan dan mencegahnya, semua itu tergantung pada pasien. Oleh karena itu sebaiknya sejak awal berkonsultasi dengan dokter dan menerapkan gaya hidup sehat.

Selain Roy, talkshow ini juga menghadirkan pembicara Dr dr Djoko Hardiman SpPD. Dalam talkshow ini peserta diberikan penjelasan bagaimana mengenali diabetes mellitus dan mencegah komplikasinya, gaya hidup sehat diabetisi, serta demo senam diabetesi

9 September, 2008

MENGENAL DIABETES

Diarsipkan di bawah: Diabetes — jundul @ 11:09:04

Angka penyandang diabetes meningkat seiring epidemi obesitas. Skrining diabetes karena gejalanya kadang tidak terasa. Dunia berputar,gaya hidup berubah.Sayangnya, perubahan tak selalu berdampak positif. Makin banyaknya orang obesitas (bobot badan berlebih) merupakan salah satu efek gaya hidup modern yang serba praktis dan instan. Padahal, kegemukan adalah biang penyakit, termasuk diabetes.

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit tingginya kadar glukosa (gula sederhana) dalam darah karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Seseorang dikategorikan diabetesi (penyandang diabetes) bila kadar glukosa darahnya di atas 120 mg/dl dalam kondisi berpuasa, dan di atas 200 mg/dl setelah dua jam makan.

Terdapat empat kala atau tipe diabetes,yakni tipe 1,tipe 2, tipe lain (disebabkan adanya penyakit atau sebab lain), dan DM pada kehamilan (gestasional). Diabetes tipe 1 bisa dialami sejak kanak-kanak atau remaja. Si penyandang harus mendapat asupan insulin rutin seumur hidup, baik melalui injeksi atau inhalasi.

Namun, DM tipe 1 umumnya tidak terkait obesitas. Sementara DM tipe 2 rata-rata dialami orang dewasa dan tidak tergantung insulin. Ini sering terjadi pada orang obesitas, yaitu orang dengan indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2 atau kelebihan lemak minimal 20% dari berat badan ideal. Diet dan olahraga merupakan penatalaksanaan paling tepat untuk golongan ini. Seiring peningkatan angka obesitas, WHO memperkirakan tahun 2030 sekitar 21,3 juta orang Indonesia terkena diabetes.

Gejala umum penyakit gula ini antara lain sering kencing, mudah lapar dan haus, berat badan turun, cepat lelah dan mengantuk, luka sulit sembuh, penglihatan kabur, gatal-gatal (terutama di sekitar kemaluan), impoten, kesemutan. Wanita diabetesi juga berisiko melahirkan bayi berbobot 4 kg atau lebih.

”Waspadalah jika di malam hari sewaktu tidur, Anda terbangun lebih dari 2 kali untuk buang air kecil. Amati juga apakah di kamar mandi atau kloset sering terdapat banyak semut berkerumun,” saran ketua Indonesian Diabetes Association (Persadia), Prof Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE. Gejala yang menyertai diabetes tidak selalu sama antara pasien satu dan lainnya.

Bahkan, bisa jadi tanpa gejala berarti. ”Waktu diperiksa kadar gula darah puasa saya 220 mg/dl, tapi saya tidak merasakan gejala apa pun.Minum seperti biasa, buang air kecil lancar dan kalau luka juga cepat sembuhnya,” tutur Riana, 54, diabetesi asal Jakarta yang bulan lalu memeriksakan kesehatannya di laboratorium klinik. Menurut Sidartawan, gejala yang datang kadang memang tidak ?menakutkan?.

Pasien merasakan nafsu makannya baik, buang air kecil lancar, minum banyak, sehingga tidak menyadarinya. ”Tahu-tahu penyakit berlanjut dan timbul mual, kesemutan, atau stroke,” ungkapnya. Untuk itu, jika dalam keluarga ada riwayat diabetesi, segeralah sedini mungkin cek kadar gula darah.

”Jangan tunggu sampai muncul keluhan, sebab kadang gejala tidak terasa,”  tandas dokter yang aktif di INDINA (Institut Diabetes Indonesia) ini. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika juga melaporkan bahwa di Amerika terdapat lebih dari 14 juta orang terdiagnosis diabetes, dan 6 juta yang belum terdiagnosis.

Direktur The American Association of Clinical Endocrinologists, Richard Hellman MD, berniat mempromosikan skrining prediabetes, terutama pada orang dengan resistensi insulin atau gejala sindrom metabolik.

Blog pada WordPress.com.