Putra Jati Melayu

14 September, 2008

Depkes Lanjutkan Pendataan Hepatitis C

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 09:09:17

Departemen Kesehatan kembali meluncurkan Program Pendataan Penyakit Hepatitis C dalam rangka pengembangan Sistem Suveilans di Indonesia. Program pendataan tahap II ini akan berlangsung mulai 1 Oktober hingga 31 Maret 2009 di 10 provinsi dengan dengan 135 unit pelapor yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menteri Kesehatan dalam sambutan di acara peluncuran program, Kamis (10/9), di Jakarta mengharapkan pengumpulan data dan informasi tentang hepatitis C dapat mendukung pelaksanaan surveilans (pengawasan) epidemiologi Hepatitis C di Indonesia.

” Data yang diperoleh secara berkala dan berkesinambungan untuk diolah, dianalisi dan diseminasikan dan dijadikan dasar pengambilan keputusan serta penyusunan kebijakan pengendalian Hepatitis C di Indonesia termasuk pencegahannnya,” ungkap Menkes dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pengendalian Faktor Risiko Penyakit, dr Indriano Tantoro.

Dari program tahap pertama, Depkes telah berhasil mengumpulkan data hepatitis C dari 11 provinsi. Dengan penambahan 10 provinsi tahun ini, Depkes diharapkan akan memiliki data dari 21 provinsi atai 60 persen dari seluruh provinsi yang ada.

“Dengan makin luasnya provinsi yang dicakup, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan bermakna tentang epidemiologi, karakteristik dan permasalahan Hepatitis C di Indonesia,” tambahnya.

Pada tahap I, program pendataan dilaksanakan tahun lalu di 11 provinsi dengan 49 unit pelapor. Provinsi tersebut adalah DKI, Sumut, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Sulses, Sulut, Bali, Kalbar dan Papua. Pada tahap ini, tingkat partisipasi unit yang terlibat mencapai 96persen melampaui target yang ditentukan.

Menkes menegaskan ada tiga kunci utama dalam penanganan hepatitis C yakni pencegahan, pengobatan dan suveilans. “Kita harus terus melakukan peningkatan dalam ketiga area tersebut apabila kita ingian mengurangi penyebaran hepatitis C, mengurangi beban yang terkait dengan penyakit ini dan meningkatkan pemahaman kiat tentang virus dan faktor-faktor risiko di negara kita,” ujarnya.

Tinggi, Kasus Hepatitis C Akibat Narkoba Suntik

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 08:09:29

Data terbaru Departemen Kesehatan (Depkes) menunjukkan kasus hepatitis C di Indonesia paling banyak ditemukan di kalangan pengguna jarum suntik narkoba. Berdasarkan hasil Evaluasi Pengumpulan Data Hepatitis C Tahap I yang dilakukan Depkes terungkap bahwa hampir 40 persen pasien hepatitis C yang terdata mengaku menggunakan jarum suntik narkoba. Sedangkan kasus yang disebabkan perilaku seks tidak aman, tato, transfusi darah, penularan dari keluarga yang positif dan lain-lain persentasenya relatif lebih kecil.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) Depkes, DR. Dr. Tjandra Yoga Aditama, menyatakan tinggi kasus yang disebabkan penggunaan jarum suntik ini menjadi catatan penting yang harus ditindaklanjuti. Dari total sebanyak 5.870 kasus hepatitis di Indonesia berdasarkan hasil pendataan tahap pertama yang dilakukan Oktober 2007 hingga 9 September 2008, 40 persen di antaranya berasal dari pengguna jarum suntik.

“Dari kasus yang dilaporkan berdasarkan pengakuan pasien, 40 persen kasus hepatitis C berasal dari pengguna jarum suntik. Ini adalah masalah besar untuk penularan penyakit, bukan hanya HIV AIDS tetapi juga hepatitis ” ujar Tjanda di sela-sela Peluncuran Program Pendataan Penyakit Hepatitis C Tahap II di Jakarta, Kamis (11/10).

Pada tahap I, program pendataan hepatitis C telah dilaksanakan di 11 provinsi dengan 49 unit pelapor terdiri dari 13 rumah sakit, 24 laboratorium dan 12 unit transfusi darah. Provinsi tersebut adalah DKI, Sumut, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Sulsel, Sulut, Bali, Kalbar dan Papua. Pada tahap ini, tingkat partisipasi unit yang terlibat mencapai 96 persen melampaui target yang ditentukan.

Program pendataan penyakit Hepatitis C merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) dan PT Roche Indonesia. Program tahap II akan berlangsung dari tanggal 1 Oktober sampai 31 Maret di 10 provinsi dengan 135 unit pelapor yang tersebar.

28 Agustus, 2008

Infeksi Hepatitis Intai Wanita Hamil

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 08:08:53

PARA calon ibu yang tengah mengandung rentan terkena penyakit karena dominasi hormon estrogen. Yang perlu diwaspadai adalah hepatitis B dan batu empedu.

Kehamilan adalah berkah yang membahagiakan pasangan suami istri (pasutri). Apalagi jika mereka sudah menginginkan kehadiran buah hati. Kabar kehamilan pun selalu dinanti dan layak dirayakan bersama. Saat menjalani masa kehamilan bukanlah pekerjaan ringan. Butuh kesabaran dan kehati-hatian dalam menjaga kesehatan, baik ibu maupun janin dalam kandungan.

Banyak hal bisa mengganggu kondisi ibu hamil. Berbagai penyakit bisa datang dalam kondisi tersebut. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah infeksi hepatitis B dan batu empedu. Infeksi hepatis B pada ibu hamil merupakan masalah yang serius. Penularannya melalui cara horizontal yaitu melalui parenteral. Antara lain saat terpapar darah, semen, sekresi vagina, dan air ludah atau saliva. Penularan secara vertikal dapat melalui beberapa cara, yaitu melalui plasenta, kontaminasi darah selama melahirkan, dan transmisi melalui laktasi.

Kasus infeksi virus hepatitis B merupakan penyebab 50% ikterus atau bayi kuning pada kelahiran. Di sejumlah negara berkembang, angka kematian akibat infeksi itu mencapai 10% hingga 45%. Gambaran klinis virus hepatitis pada kehamilan tidak berbeda dengan gambaran klinis virus hepatitis pada umumnya. Semula diduga bahwa infeksi hepatitis selama kehamilan lebih berat dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil.

Gejala penyakit biasanya seperti mual, muntah, nafsu makan menurun dan gejala flu. ”Sebanyak 50% hepatitis B terjadi pada wanita hamil. Kalau si ibu sudah terjangkit hepatitis, ketika melahirkan bayinya akan langsung diberi vaksin itu untuk memberikan kekebalan pada si bayi,” kata Internal Department School of Medicine Universitas Gajah Mada Yogyakarta Siti Nurdjanah.

Dia memaparkan, penularan terhadap bayi tergantung usia kehamilannya. Infeksi yang terjadi pada kehamilan trimester pertama dan kedua, angka penularannya kurang dari 10%. Adapun pada trimester ketiga, angka penularannya mencapai 70%.

”Semakin cepat terdeteksi, risiko bayi tertular bisa diperkecil,” kata Siti dalam acara Liver Update ke-4.

Penyakit lainnya yang sering menyerang wanita yang sedang hamil adalah batu empedu. Penyakit ini selama kehamilan meningkat karena peningkatan kolesterol dan penurunan asam deoksiribonukleik pada kandung empedu selama periode tingginya konsentrasi estrogen dan pengurangan fungsi pengosongan kandung empedu selama kehamilan.

”Pada ibu hamil, terjadi gangguan hormonal sehingga terkadang juga mengalami gangguan aliran empedu hati ke tubuh. Akibatnya, empedu tertahan di dalam hati yang bisa menyebabkan kerusakan hati,” kata dokter Mitra Internasional Jakarta dan Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, Widarjati Sudarto.

Widarjati menyebutkan, batu empedu terjadi pada lebih kurang 6% kehamilan.

Hal itu disebabkan kehamilan merangsang perubahan komposisi asam empedu sehingga terbentuk batu empedu. Gejala batu empedu pada kehamilan tidak berbeda dengan tanpa kehamilan. ”Terapi pembedahan umumnya aman pada trimester pertama dan dua. Selain itu lebih baik dihindari pada trimester tiga,” katanya.

27 Juli, 2008

Hepatitis C Berisiko Diabetes II

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 02:07:51

Orang yang terinfeksi virus hepatitis C menghadapi peningkatan resiko terserang dibatetes tipe 2, atau “yang menyerang orang dewasa”. Resiko tersebut sangat tinggi di kalangan generasi muda yang memiliki tubuh gemuk, kata beberapa peneliti dari Taiwan.

Oleh karena itu, pemeriksaan untuk mengetahui dan pencegahaan diabetes pada orang-orang yang terinfeksi HCV dapat dimulai lebih dini dibandingkan yang disarankan pada usia 45 tahun atau lebih.

Usia tersebut merupakan saran bagi masyarakat pada umumnya, terutama bagi pasien bertubuh lebih gemuk atau yang memiliki faktor resiko terserang diabetes, kata Dr. Chong-Shan Wang dari National Yang-Ming University, Taipeh, dan rekannya di dalam American Journal of Epidemiology.

Di antara 4.958 orang yang berusia 45 tahun atau lebih tanpa diabetes, 3.486 diperiksa negatif dan 812 dinyatakan positif HCV. Sebanyak 116 orang lagi terserang HCV dan infeksi HCV, dan 544 orang terbukti positif terserang hepatitis B.

Sebanyak 474 orang terserang diabetes selama 7 tahun mereka diperiksa. Setelah penyesuain data dengan perkiraan bagi faktor pasti resiko diabetes, serangan diabetes ialah 70 persen lebih tinggi pada orang-orang yang terinfeksi HCV dibandingkan dengan mereka yang tak terinfeksi HCV, kata Dr Wang dan rekannya.

“Orang-orang yang terinfeksi HBV dan penularan-HCV serta anti-HCV+saja memiliki resiko yang hampir sama, yang menunjukkan infeksi HCV meningkatkan resiko diabetes tapi infeksi HBV tidak,” kata para penulis studi tersebut. “Temuan ini sejalan dengan studi masa lalu yang memperlihatkan infeksi HCV sangat berhubungan dengan diabetes,” kata mereka.

Setelah meneliti resiko diabetes berdasarkan usia, tim Taiwan itu menyatakan, kelompok yang lebih muda dengan infeksi HCV menghadapi resiko lebih besar terserang diabetes.

Infeksi HCV ditambah kelebihan berat badan atau kegemukan menambah besar resiko diabetes sampai sekitar tiga kali lipat dibandingkan dengan orang yang tak terinfeksi dengan berat tubuh normal.

Mereka menyimpulkan bahwa pemeriksan dibates secara rutin bagi orang yang terinfeksi HCV mesti dimulai pada usia lebih muda, terutama bagi mereka yang memiliki faktor resiko lain.

Penyakit Hepatitis

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 01:07:56

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C. namun disini kita akan membahas pada fokus artikel penyakit Hepatitis A,B dan C.

Penyakit Hepatitis A


Hepatitis A adalah golongan penyakit Hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian, Virus hepatitis A (VHA=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran/tinja penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkomtaminasi, bukan melalui aktivitas sexual atau melalui darah. Sebagai contoh, ikan atau kerang yang berasal dari kawasan air yang dicemari oleh kotoran manusia penderita.

Penyakit Hepatitis A memiliki masa inkubasi 2 sampai 6 minggu sejak penularan terjadi, barulah kemudian penderita menunjukkan beberapa tanda dan gejala terserang penyakit Hepatitis A.

1. Gejala Hepatitis A
Pada minggu pertama, individu yang dijangkiti akan mengalami sakit seperti kuning, keletihan, demam, hilang selera makan, muntah-muntah, pusing dan kencing yang berwarna hitam pekat. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis A
Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya diatas, diharapkan untuk tidak banyak beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual dan muntah.

Sedangkah langkah-langkah yang dapat diambil sebagai usaha pencegahan adalah dengan mencuci tangan dengan teliti, dan suntikan imunisasi dianjurkan bagi seseorang yang berada disekitar penderita.

Penyakit Hepatitis B


Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Adapun beberapa hal yang menjadi pola penularan antara lain penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama. Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, akan tetapi umumnya bagi mereka yang berusia produktif akan lebih beresiko terkena penyakit ini.

1. Gejala Hepatitis B
Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis B
Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.
a. Pengobatan oral yang terkenal adalah ;
- Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
- Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
- Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan stabil.

b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah ;
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.

Langkah-langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit Hepatitis B adalah pemberian vaksin terutama pada orang-orang yang beresiko tinggi terkena virus ini, seperti mereka yang berprilaku sex kurang baik (ganti-ganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan mereka yang berada didaerah rentan banyak kasus Hepatitis B.
Penyakit Hepatitis C


Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun.

1. Gejala Hepatitis C
Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang samar diantaranya adalah ; Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi gelap dan Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut “jaundice” (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis C
Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa, Pegylated interferon alfa dan Ribavirin. Adapun tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati. Pengobatan pada penderita Hepatitis C memerlukan waktu yang cukup lama bahkan pada penderita tertentu hal ini tidak dapat menolong, untuk itu perlu penanganan pada stadium awalnya. [sumber : Khomsah]

Hepatitis C Dapat Meningkatkan Resiko Limfoma Non-Hodgkin

Diarsipkan di bawah: Hepatitis — jundul @ 01:07:57

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang terinfeksi dengan hepatitis C mungkin berisiko lebih tinggi terhadap kanker limfoma non-Hodgkin. Dokter sudah lama mengetahui hubungan antara hepatitis C dan hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati. Penelitian baru kali ini adalah yang terbesar yang menemukan hubungan antara hepatitis C dan limfoma, John Niederhuber mengatakan, direktur dari National Cancer Institute (NCI), yang membantu mendanai penelitian ini bersama Michael E. DeBakey dari Veterans Affairs Medical Center di Houston, AS.

Para peneliti mengkaji kembali rekam medis pasien di Department of Veterans Affairs (VA), termasuk 146.000 dengan hepatitis C dan 572.000 pasien yang tidak terinfeksi. Setelah lebih dari lima tahun masa tindak lanjut, para peneliti menemukan bahwa pasien dengan hepatitis C adalah 20-30 persen lebih cenderung mengembangkan limfoma non-Hodgkin. Penelitian ini menemukan bahwa hepatitis C meningkatkan risiko tiga kali lipat terhadap limfoma yang sangat jarang, makroglobulinemia Waldenstrom, yang berdampak pada 1.500 orang setiap tahun.

Eric Engels dari NCI, penulis penelitian ini, mengatakan risiko kanker pada pasien secara keseluruhan tetap rendah: Apabila dokter memantau 500 pasien dengan hepatitis C selama sepuluh tahun, mereka akan menemukan virus ini menyebabkan hanya satu kasus limfoma non-Hodgkin tambahan, meningkatkan jumlah pasien yang terdampak dari lima menjadi enam. Engels mengatakan dokter dapat mengurangi risiko kanker dan penyakit lain pada pasien hepatitis C dengan mengobatinya dengan antiviral.

Pasien dalam penelitian ini hanya datang dari rumah sakit VA, dan sebagian besar adalah laki-laki kulit putih. Pasien yang terinfeksi dengan hepatitis C sepertinya adalah kebanyakan yang pernah bertugas di era perang Vietnam. Para penulis mengatakan mungkin hubungan antara hepatitis C dan kanker sedikit berbeda pada pasien dari latar belakang lain.

Artikel asli: Hepatitis C May Boost Risk for Non-Hodgkin’s Lymphoma

Blog pada WordPress.com.