Putra Jati Melayu

4 Desember, 2008

Warga Surabaya Usul Perda Penanggulangan AIDS

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 07:12:48

Tingginya jumlah penderita AIDS di Surabaya mendorong sejumlah pihak mengusulkan pemberlakuan peraturan daerah tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS. Perda itu akan berisi regulasi dan tugas serta tanggung jawab Pemerintah Kota dalam mencegah dan menanggulangi penyebaran HIV.

Direktur Yayasan Media Ian Sujianto mengatakan, perda itu akan berfungsi sebagai payung hukum bagi Pemkot Surabaya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan AIDS. Dengan adanya perda ini Pemkot wajib menyediakan layanan kesehatan bagi penderita AIDS ataupun kelompok yang memiliki risiko tinggi terjangkit virus mematikan tersebut.

Menurut Ian Sujianto, Yayasan Media sebagai organisasi pendamping penderita AIDS Surabaya bersama Komisi Perlindungan AIDS Kota Surabaya akan melakukan pembahasan internal penyusunan draft perda yang akan diajukan ke DPRD.

Berdasarkan catatan Yayasan Media, jumlah penderita AIDS di Surabaya tahun 2008 meningkat 45%. Dari 1.400 penderita AIDS di Jawa Timur, 700 di antaranya berada di Surabaya. Jumlah pengidap HIV di Surabaya mayoritas warga usia produktif, 17 – 30 tahun. Sekitar 60% kasus penularan disebabkan penggunaan jarum suntik narkotika, selebihnya melalui hubungan seks bebas dan penularan ibu penderita AIDS kepada anaknya.

“Dengan kondisi seperti ini saya meminta Pemkot dan DPRD Surabaya segera membuat perda tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS. Saya khawatir, jika tidak ada payung hukum yang jelas, jumlah penderita AIDS di Surabaya akan terus meningkat,” ujar Ian Sujianto.

Komisi D DPRD Surabaya mendukung rencana pengajuan perda pencegahan dan penanggulangan AIDS. Wakil Ketua Komisi D Baktiono mengaku siap membantu dan menfasilitasi penyusunan dan penetapan perda itu. “Pokoknya kami akan mendukung keinginan masyarakat soal pemberlakuan perda tentang pencegahan dan penanggulangan AIDS. Kami akan mengimbau Pemkot Surabaya segera mengambil kebijakan untuk mengatasi berkembangnya penyakit mematikan ini,” katanya.

Baktiono berjanji akan mengusulkan kepada Panitia Anggaran DPRD agar membuat anggaran khusus terkait penanggulangan AIDS. Dana tersebut akan digunakan untuk membantu lembaga atau yayasan yang mendampingi penderita AIDS dan membangun klinik khusus.

27 November, 2008

AIDS Sembuh Berkat Transplantasi Sel

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 02:11:16

Seorang pria pengidap AIDS dilaporkan sembuh setelah selama 20 bulan menjalani transplantasi sel induk dari sumsum tulang (bone marrow transplantation) yang biasanya digunakan untuk mengatasi penyakit leukemia.

Dr. Gero Huetter dokter dari RS Charite di Berlin Jerman mengabarkan bahwa salah satu pasiennya asal Amerika Serikat menunjukkan kesembuhan setelah mengidap penyakit mematikan itu selama lebih dari delapan tahun.

Dalam kurun waktu 20 bulan setelah menjalani transplantasi sel induk dari sumsum tulang yang diseleksi secara genetika, pasien berusia 42 tahun itu kini tak lagi menunjukkan tanda-tanda mengidap virus  yang melemahkan kekebalan tubuh tersebut.

“Kami menunggu setiap hari bila ada tanda-tanda yang buruk ,” ungkap Huetter seperti dikutip AP, Kamis (13/11).

Namun tanda-tanda tersebut tidak juga muncul. Kesembuhan itu didukung pula oleh pemeriksaan para ahli di rumah sakit dan fakultas kedokteran tersebut. Hasil uji lab menunjukkan sumsum tulang, darah, jaringan organ lain pasien semuanya telah bersih dari virus.

Peneliti lain — dan bahkan Huetter sendiri  —  menilai kasus kesembuhan ini mungkin hanyalah suatu keberuntungan. Walau demikian, kasus in memberi inspirasi lebih besar terhadap potensi terapi gen untuk mengatasi penyakit yang membunuh sekitar 2 juta orang per tahun ini.

Dr. Andrew Badley, direktur riset  HIV dan immunologi di Mayo Clinic Rochester, Minnesotta, menilai pemeriksaan yang dilakukan tim Huetter mungkin saja tidak terlalu lengkap dan menyeluruh.

“Sangat banyak bentuk pemeriksaaan dari begitu beragam sampel biologis yang dibutuhkan untuk menyatakan bahwa virus itu tidak lagi hadir dalam tubuh,” tegas Badley.

Teknik transplantasi yang dilakukan Huetter bukanlah yang pertama untuk menyembuhkan AIDS atau infeksi HIV. Pada 1999, sebuah artikel dalam the jurnal Medical Hypotheses melakukan tinjauan terhadap hasil  32 kali uji coba  yang dilakukan antara 1982  hingga 1996. Pada dua kasus, HIV tampaknya berhasil diatasi.

Pasien Huetter sebenarnya tengah menjalani pengobatan di Charite untuk menyembuhkan dua penyakit sekaligus yakni AIDS dan leukemia. Ketika tengah menyiapkan pengobatan untuk mengatasi leukemia dengan transplantasi sumsum tulang, Huetter – yang juga ahli penyakit hati – teringa bahwa mutasi genetika tampaknya bisa membuat pasien menjadi resisten terhadap infeksi HIV.

Apabila mutasi, yang disebut Delta 32, menurun dari kedua orang tuanya, hal itu dapat mencegah  HIV untuk menempel pada sel-sel dengan cara menghambat CCR5, sejenis reseptor yang berperan seperti pintu  gerbang.

20 November, 2008

Sifilis dan pengembangan penyakit HIV

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS, Penyakit Kelamin — jundul @ 01:11:40

Dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi 1 Maret 2007, para peneliti Spanyol melaporkan hasil penelitian yang menilai dampak sifilis terhadap viral load HIV dan jumlah CD4.

Disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sifilis menimbulkan berbagai gejala. Sifilis primer atau sifilis awal dicirikan dengan luka kelamin yang tidak menyakitkan dikenal sebagai chancre; biasanya sembuh tanpa diobati, tetapi bakteri sifilis tetap ada dalam tubuh. Sifilis sekunder dicirikan dengan ruam kulit, termasuk pada telapak tangan dan kaki; pasien mungkin mengalami gejala serupa flu. Sifilis tertier atau stadium lanjut dapat merusak organ tubuh, termasuk otak, jantung dan mata, mungkin dapat mengakibatkan kebutaan dan demensia. Pengobatan yang baku untuk sifilis awal adalah suntikan penisilin benzatin satu kali.

Penelitian retrospektif ini melibatkan 118 peserta HIV-positif (96% laki-laki, rata-rata berusia 38 tahun) di 12 rumah sakit di Spanyol, yang didiagnosis dengan sifilis awal antara Januari 2004 dan Desember 2005. Separuhnya memakai terapi antiretroviral (ART) saat sifilis didiagnosis; mereka yang memulai ART atau mengganti rejimen ART-nya selama masa penelitian dikeluarkan dari analisis ini. Tujuh puluh enam mempunyai viral load dan jumlah CD4 yang tersedia sebelum dan selama infeksi sifilis; 94 mempunyai viral load dan jumlah CD4 yang tersedia selama dan setelah pengobatan.

Hasil

  • HIV dan sifilis didiagnosis pada waktu yang sama pada 38 pasien (32%).
  • Jumlah CD4 selama infeksi sifilis lebih rendah dibandingkan tiga sampai sembilan bulan sebelum infeksi (496 banding 590).
  • Jumlah CD4 meningkat kembali setelah pengobatan sifilis (dari 509 menjadi 597; P = 0,0001).
  • Viral load HIV meningkat pada 27,6% pasien selama infeksi sifilis:
    • 33% pasien yang sebelumnya dengan viral load terdeteksi mengalami peningkatan viral load;
    • 25% pasien yang sebelumnya dengan HIV tidak terdeteksi menunjukkan viral load terdeteksi.
  • Viral load tidak menurun setelah pengobatan sifilis.
  • Satu-satunya faktor yang dikaitkan dengan peningkatan viral load adalah tidak memakai ART.
  • Satu-satunya faktor yang dikaitkan dengan jumlah CD4 yang menurun lebih dari 100 selama infeksi sifilis adalah jumlah CD4 sebelumnya.

Kesimpulan

“Infeksi sifilis dikaitkan dengan penurunan jumlah CD4 dan peningkatan viral load HIV pada hampir sepertiga pasien,” para penulis menulis.

Para penulis juga mencatat bahwa, “Pada rangkaian ini, lebih dari dua pertiga kasus sifilis didiagnosis pada pasien yang sebelumnya diketahui terinfeksi HIV” – menunjukkan bahwa orang HIV-positif terus berperilaku seksual yang berisiko.

Dua penelitian ini – termasuk juga penelitian terbaru tentang hubungan antara virus herpes simpleks dan penularan HIV – menunjukkan bahwa skrining dan pengobatan IMS adalah bagian penting dalam pencegahan dan penatalaksanaa HIV.

Menyoroti pentingnya topik ini, belum lama ini diterbitkan dua artikel yang membahas berbagai masalah terkait dengan HIV dan IMS – termasuk kejadian luar biasa baru-baru ini, venereum limfogranuloma dan gonorea yang resistan terhadap obat – satu oleh Jeanne Marrazzo, MD, dalam jurnal Topics in HIV Medicine edisi Februari-Maret 2007.

12 November, 2008

Negara berkembang menghadapi kekurangan petugas medis yang terlatih untuk mengobati HIV/AIDS, Malaria, TB

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 10:11:25

Banyak negara berkembang menghadapi kekurangan tenaga medis – mengakibatkan kekosongan layanan kesehatan di negara dengan beban tinggi HIV/AIDS, malaria dan TBC. Hal ini berdasarkan laporan Reuters.

Walaupun Afrika memiliki 25% beban penyakit dunia, Afrika hanya memiliki 3% dari pekerja kesehatan sedunia. Afrika juga paling terdampak oleh perpindahan tenaga medis ke luar negeri di seluruh dunia. Selain itu, prevalensi tinggi HIV/AIDS di benua tersebut bahkan mengakibatkan kekurangan tenaga medis yang lebih besar yang meninggal akibat penyakit tersebut. Pasien HIV/AIDS di Afrika sering memakai klinik yang hanya dikelola oleh satu perawat dan beberapa asisten yang tidak terlatih, dengan dokter yang mengunjungi klinik setiap beberapa minggu sekali. “Seorang perawat yang merawat 400 pasien diberi honor tiga dolar AS per hari di Malawi,” sebuah keadaan yang mengakibatkan banyak pekerja medis di Afrika bermigrasi ke luar negeri atau bekerja di perusahaan swasta, Musa Massaquoi, dokter dari Medecins Sans Frontieres di Malawi mengatakan. Beberapa ahli penyakit internasional awal tahun ini menyebut mengambil pekerja kesehatan dari Afrika oleh negara Barat sebagai kejahatan internasional.

Di India, yang memiliki beban kasus HIV/AIDS tertinggi ketiga di dunia, orang sering tidur di luar klinik kesehatan sementara menunggu obat dan tes, aktivis HIV/AIDS Loon Gangte mengatakan. Gangte menambahkan bahwa tantangan untuk mendapatkan perawatan mengakibatkan beberapa pasien menghentikan pengobatan. India memiliki kekurangan tenaga medis secara bermakna, dengan satu perawat untuk setiap 1.000 pasien, dibandingkan dengan 11 perawat untuk setiap 1.000 pasien di Eropa. “Permintaan lebih besar dibandingkan persediaan,” Sunita Maheshwari, seorang ahli jantung pediatrik di Bangalore mengatakan.

Yehezkiel Nukuro, pejabat WHO mengatakan bahwa banyak negara berkembang menghadapi peningkatan kematian dan penurunan harapan hidup akibat penyakit yang dapat dicegah. Dia menambahkan bahwa sistem kesehatan di negara-negara tersebut adalah “di tepi jurang kehancuran akibat kurangnya tenaga terlatih.” Beberapa ahli mengatakan keadaan memburuk karena peraturan imigrasi yang baru di negara Barat memungkinkan tenaga medis dari negara berkembang bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja. Beberapa lembaga bantuan menyatakan keprihatinan mereka terhadap usulan skema “kartu biru” di Uni Eropa yang didukung oleh para menteri pada September 2008, akan menyebabkan lebih banyak migrasi petugas kesehatan dari negara berkembang.

Para ahli mengatakan “tidak ada jalan keluar yang mudah” untuk menghadapi perpindahan tenaga medis ke luar negeri, tetapi strategi pertahanan dapat mengurangi masalah,. “Mustahil untuk menyelesaikan atau menghentikan migrasi petugas kesehatan,” Nukuro mengatakan, menambahkan bahwa “komitmen politik dan komitmen internasional yang kuat, strategi yang inovatif … kemitraan dan aliansi serta investasi jangka panjang” merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kesehatan pekerja. Laporan WHO pada Juli 2008 merekomendasikan bahwa bantuan internasional untuk Afrika harus diarahkan pada peningkatan honor dokter dan meningkatkan pengupahan serta pelatihan tenaga medis. Laporan juga menyarankan penggunaan “telemedicine” untuk menghubungkan rumah sakit di Afrika dengan laboratorium dan para ahli di luar negeri melalui internet dan telepon. Di India sudah ada upaya-upaya untuk mengurangi beban dokter dengan melatih ibu rumah tangga untuk memberikan saran medis dan mengatur obat demam, tablet rehidrasi oral serta kit diagnostik cepat untuk kehamilan dan malaria. Naresh Dayal, Sekretaris Departemen Kesehatan India mengatakan bahwa strategi ini merupakan “intervensi kecil tetapi berpengaruh besar untuk mengurangi tingkat kematian yang tinggi pada ibu dan bayi.” Program serupa sedang dilaksanakan di beberapa negara Afrika, terutama di daerah pedesaan.

Infeksi HIV yang tidak diobati tidak merusak mutu air mani

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 09:11:41

Infeksi HIV yang lama dan tidak diobati tidak tampak merusak mutu air mani. Hal ini berdasarkan laporan yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility, edisi September 2008.

“Data ini melegakan dalam arti bahwa menunda pengobatan HIV pada pasien yang terinfeksi hingga jumlah CD4 mencapai kurang lebih 200 – yang memperpanjang pajanan terhadap infeksi yang tidak diobati – tidak berdampak buruk terhadap mutu air mani,” Dr. Elisabeth van Leeuwen dari Academic Medical Center, Amsterdam, Belanda mengatakan. “Oleh karena itu infeksi HIV yang terus berlanjut kemungkinan tidak tampak mempengaruhi kesempatan untuk memenuhi kriteria pada teknik bayi tabung.”

Dr. van Leeuwen dan rekan meneliti parameter air mani selama masa infeksi HIV yang alami pada 55 laki-laki tidak bergejala untuk menentukan apakah infeksi HIV kronis terkait dengan mutu air mani yang lebih rendah.

Selama median masa tindak lanjut 77 minggu, jumlah CD4 menurun dari 480 menjadi 400 dan viral load HIV meningkat dari 4,1 log menjadi 4,3 log, para penulis melaporkan.

Laporan menunjukkan bahwa tidak ada parameter air mani yang berubah setelah beberapa waktu.

Para peneliti mengatakan, jumlah CD4 tidak dikaitkan secara bermakna dengan semua parameter air mani yang diteliti tetapi viral load HIV dipastikan terkait dengan kepadatan sperma.

Selama penelitian, seluruh parameter air mani adalah dalam kisaran batas bawah nilai normal sampai normal berdasarkan kriteria WHO, para peneliti mencatat.

“Dalam kohort penelitian longitudinal yang melibatkan laki-laki yang belum menerima terapi antiretroviral (ART), kami menemukan bahwa waktu laki-laki tersebut terinfeksi HIV secara kronis, parameter air mani tidak terpengaruh oleh infeksi HIV,” Dr. van Leeuwen mengatakan.

“Baru-baru ini kami menerbitkan sebuah artikel tentang mutu air mani pada pasien yang diobati dengan ART, yang sebelumnya belum pernah memakai ART (naif-ART),” Dr. van Leeuwen menjelaskan. “Kami menemukan penurunan persentase sperma yang aktif bergerak setelah mulai ART, sementara seluruh indikator lain pada mutu air mani tetap stabil.”

“Oleh karena itu yang menjadi pesan utama adalah jangan mulai ART lebih dini pada laki-laki yang belum memakai ART sebelum laki-laki menjalani proses bayi tabung, karena terkait dengan persediaan kekebalan, ART dapat mengakibatkan penurunan sperma yang aktif bergerak,” Dr. van Leeuwen menyimpulkan.

“Hal ini mengkhawatirkan karena teknik bayi tabung di AS belum tersedia secara luas bagi pasangan serodiskordan (salah satu pasangan adalah HIV-positif),” Dr. van Leeuwen menambahkan.

5 November, 2008

Para ilmuwan mengungkap protein HIV kunci, membuka pintu pada obat AIDS yang lebih manjur

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 11:11:38

Para ilmuwan dari Universitas Michigan menyediakan gambar yang paling terperinci sampai saat ini mengenai sebuah protein pelengkap HIV yang menggagalkan upaya tanggapan kekebalan tubuh yang normal. Berdasarkan temuan yang diterbitkan dalam jurnal PLoS Pathogens versi internet, tim peneliti ini mencari obat baru yang suatu hari nanti memungkinkan orang yang terinfeksi HIV untuk disembuhkan dan tidak lagi membutuhkan obat AIDS seperti sekarang yang harus dipakai seumur hidup.

“Ada kekosongan besar pada terapi saat ini, bahwa semuanya mencegah infeksi baru tetapi tidak ada yang menyerang sel yang sudah terinfeksi dan tersembunyi dari tanggapan kekebalan,” dikatakan oleh Kathleen L. Collins, M.D., Ph.D., penulis penelitian senior dan lektor Universitas Michigan di fakultas penyakit dalam dan mikrobiologi serta imunologi.

HIV sel

Di bagian kiri, sel normal yang tidak terinfeksi dengan protein MHC-1 yang bernoda hijau pada permukaan sel. Di bagian kanan, sel yang terinfeksi HIV, sebagian besar protein MHC-1 menumpuk di dalamnya, menghambat sel memberi tahu sistem kekebalan bahwa sel tersebut menyimpan virus. (Pengakuan: Kathleen Collins, Universitas Michigan)

Pada orang yang terinfeksi HIV, virus penyebab AIDS, ada masalah yang tidak terselesaikan dengan obat antiviral (ARV) yang ada saat ini. Walau menyelamatkan jiwa, ARV tidak dapat mengeluarkan virus sampai ke akarnya dari dalam tubuh. Sel yang terinfeksi mampu bertahan hidup, tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan, dan menyediakan alat bagi virus untuk bereproduksi dan menyebar.

“Orang harus memakai obat yang ada saat ini dan apabila mereka tidak memakainya, virus menjadi aktif kembali. Apabila kita dapat mengembangkan obat yang mencari dan membasmi pabrik virus yang tetap bertahan maka barangkali kita dapat menghilangkan penyakit pada orang tersebut,” Collins mengatakan.

Rincian penelitian

Penelitian baru merincikan kegiatan rumit protein HIV-1 yang disebut nef, protein yang menghambat sel sistem kekebalan dalam melakukan tugasnya yaitu mendeteksi dan membunuh sel yang terinfeksi.

Collins dan timnya menunjukkan cara nef melumpuhkan dua pemain kunci pada sistem kekebalan di dalam sel yang terinfeksi. Ini adalah molekul yang disebut major histocompatability complex protein 1 (MHC-1) yang membawa antigen HIV pada sistem kekebalan, dan CD4, reseptor permukaan sel yang biasanya mengait pada virus dan memungkinkannya memasuki sel.

Collins mengumpamakan MHC-1 dengan alat deteksi gerakan di rumah, yang mengirim sinyal pertama ke stasiun pemantau apabila ada penyerang yang menyusup masuk.

“Sistem kekebalan, khususnya limfosit-T sitotoksik adalah serupa alat pemantau yang menerima sinyal bahwa ada penyusup asing di dalam sel, dan mengirim armada polisi,” dia mengatakan.

Obat antiobesitas mungkin memiliki manfaat anti-HIV

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 11:11:37

Pengobatan antiobesitas mungkin merupakan senjata baru di antara persediaan senjata untuk melawan HIV. Hal ini berdasarkan temuan laboratorium yang diterbitkan dalam jurnal Nature Biotechnology edisi Oktober 2008. Para penulis dari University of Rochester Medical Center di New York dan Universitas Princeton berpendapat bahwa walaupun masih memerlukan banyak penelitian, obat tersebut tampak menghambat unsur tertentu pada metabolisme sel, yang mengakibatkan hambatan infeksi virus, misalnya HIV, influenza dan hepatitis, agar tidak dapat berkembang biak dalam tubuh manusia.

Joshua Munger, PhD dari Rochester dan rekan menjelaskan, waktu HIV dan virus lain memasuki tubuh, virus tersebut meningkatkan metabolisme sel – penguraian bahan gizi untuk menghasilkan tenaga – sehingga lebih banyak asam lemak yang dihasilkan. Virus memakai asam lemak tersebut untuk membangun amplop virus, lapisan luar yang membantunya menembus sel manusia.

Para peneliti memakai obat yang mengobati obesitas dan kolesterol tinggi yang menghambat enzim yang membangun asam lemak – orlistat adalah salah satu obat penghambat enzim yang disetujui. Para peneliti berharap dapat membuktikan bahwa produksi asam lemak yang dipicu oleh virus diperlukan oleh virus untuk bereplikasi dan bahwa pengobatan tersebut mengurangi replikasi virus secara bermakna apabila digabungkan dengan sel yang terinfeksi. Penelitian mula-mula dilakukan dengan memakai sitomegalovirus tetapi diulang dengan memakai virus influenza A – virus serupa dengan HIV yang memakai asam lemak untuk membangun amplop virus.

Walaupun Munger dan rekan optimis terhadap temuan mereka, mereka menekankan bahwa “uji coba klinis secara luas diperlukan untuk memperoleh kesimpulan tentang keamanan obat antiobesitas tersebut, atau unsur yang serupa dengan ART.”

14 Oktober, 2008

Pemerintah Dinilai Gagal Meredam Penularan HIV/AIDS

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 04:10:01

Sejak 1990-an hingga kini terjadi peningkatan prevalensi HIV yang cukup dramatis pada kelompok berisiko tinggi.

Oleh karena itu, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menegaskan pemerintah gagal meredam penyebaran kasus HIV/AIDS pada kelompok berisiko tinggi.

”Upaya penanggulangan kita telah gagal. Pemakaian kondom belum juga menjadi kebiasaan bagi pelaku berisiko tinggi,” tandas Ketua KPAN Nafsiah Mboi di sela peluncuran Surveilans Terpadu Biologis Perilaku IV/IMS (STBP) , di Jakarta.

Penyebaran penyakit HIV melalui pintu penyakit menular semakin mengakar. Survei STBP menunjukkan peningkatan penyakit kelamin di Tanah Air mungkin yang paling tinggi di dunia.

Terhitung mulai 2008, tren penularan kasus HIV di Nusantara tidak lagi dimonopoli oleh kelompok pengguna nafza suntik, tetapi akan segera didominasi sebarannya oleh penyakit menular seksual.

Nafsiah meyakini kendala terbesar kenapa program penanggulangan dan pencegahan penyakit HIV/AIDS dikarenakan pola pikir dan perilaku sosial budaya pada masyarakat yang salah, yakni meyakini laki-laki yang jantan adalah yang suka berganti-ganti pasangan seks.

STPB pada kelompok berisiko tinggi dilakukan di delapan provinsi, yaitu Jatim, Jateng, Jabar, Sumut, Kepulauan Riau, Papua Barat, Papua, Jakarta. Rangkuman survei difokuskan pada lima kategori kelompok berisiko tinggi, yaitu wanita pekerja seks, lelaki yang suka waria, pria berisiko tinggi, dan pengguna narkoba suntik. Tercatat 35.300 waria di Tanah Air pada 2006.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama memaparkan, HIV telah terdeteksi pada pria berisiko tinggi di luar Papua. Sopir truk dan anak buah kapal adalah kelompok paling tinggi tertular HIV.

Hubungan seks tanpa kondom antara wanita pekerja seks (WPS) dan kliennya merupakan cara penularan HIV terbesar kedua di Indonesia. Tercatat wanita pekerja seks atau yang menjajakan diri di jalanan ataupun yang di bar dan kafe, masing-masing berjumlah 157 ribu dan 107 ribu. Berdasarkan tiap provinsinya, antara 6%-16% pelacur dan 9% pelacur tidak langsung terinfeksi HIV.

Tjandra menandai, beberapa hal yang menarik dari STBP. Umpamanya, rata-rata 30%, baik wanita pekerja seks, waria, lelaki hidung belang, dan homoseksual yang terinfeksi HIV/AIDS berumur di bawah 30 tahun. Juga yang memprihatinkan, pasangan homoseksual yang menderita HIV/AIDS, 45,6% berusia di bawah 25 tahun, dengan tingkat pendidikan mereka minimal SLTA yang sangat tinggi.

Ke depan, baik Depkes maupun KPA beserta instansi terkait lainnya akan memfokuskan pencegahan pada generasi muda di bawah 25 tahun serta kelompok yang berisiko tinggi menderita penyakit HIV/AIDS.

9 Oktober, 2008

Meningkat, HIV pada Pemakai Narkoba

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 03:10:40

Kabar mengkhawatirkan muncul dari para ilmuwan Australia yang mengatakan, jumlah infeksi HIV di kalangan pengguna narkotika dengan jarum suntik tampaknya meningkat. Laporan mereka yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Inggris, The Lancet, itu mengatakan tiga juta pengguna narkotika suntik di sekujur dunia kemungkinan positif mengidap HIV.

Bahkan yang menyeramkan, seperti dikutip BBC, lebih dari 40 persen pengguna narkotika yang terinfeksi oleh HIV, tersebar di sembilan negara. Bahaya itu kian mengkhawatirkan setelah kurangnya data dari benua hitam Afrika dan menyebutkan, faktor risiko yang mendorong penyebaran HIV dengan cara ini juga terjadi di Afrika.

Para ilmuwan itu mengatakan, program untuk mengatasi masalah ini merupakan hal yang “sangat mendesak”. Para ilmuwan yang melakukan studi tersebut berasal dari Universitas New South Wales, Australia. Mereka mengkaji data luas yang sudah diterbitkan sebelumnya.

Mereka menarik kesimpulan, jumlah pengguna narkotika dengan jarum suntik dan tingkat infeksi HIV di kalangan mereka mengalami peningkatan. Virus ini pada umumnya disebarkan oleh pemakaian jarum suntik secara bersama.

Di pelbagai negara di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa Timur, tingkat infeksi HIV di kalangan pengguna jarum suntik di atas 40 persen. Di Estonia, angka itu lebih dari 72 persen.

Namun sebagian negara berhasil mempertahankan tingkat infeksi rendah, seperti Inggris Raya dengan 2,3 persen, Selandia Baru dan Australia dengan hanya 1,5 persen pengguna narkotika jarum suntik yang positif mengidap HIV.

10 September, 2008

Dapatkah Kekebalan Tubuh Pulih?

Diarsipkan di bawah: HIV/AIDS — jundul @ 02:09:17

Jumlah CD4 seseorang (jumlah sel-T CD4 per milimeter kubik darah) digunakan sebagai indikator sistem kekebalan tubuh. Tidak semua orang memiliki jumlah yang sama. Pada orang sehat, ada semiliar atau lebih limfosit-T CD4 dari berbagai jenis – yang masing-masing dirancang hanya untuk mengenal satu jenis antigen tertentu.

Dalam infeksi HIV, ketika jumlah CD4 menjadi rendah (terutama di bawah 200), beberapa ‘repertoar’ dari sel ini menghilang. Hal ini tidak dapat pulih segera seperti halnya pertambahan jumlah CD4 karena pengaruh obat antiretroviral (ARV). Akhirnya mungkin beberapa repertoar dapat pulih secara alami – atau para peneliti mungkin telah mempelajari cara mengembalikan repertoar tersebut melalui pencangkokan sel. Sementara itu, sistem kekebalan tubuh tetap bisa berfungsi dengan baik meskipun beberapa repertoarnya telah hilang.

Kita sering memakai istilah ‘sel CD4’ untuk menyederhanakan istilah ‘limfosit-T CD4 positif’ – yang secara teknis lebih tepat, karena ada sel CD4 yang bukan limfosit-T. Namun, tulisan ini hanya berkaitan dengan sel T.

Limfosit-T sering kali dinamai sesuai dengan molekul pada permukaannya. Limfosit-T CD4 adalah sel T dari sistem kekebalan yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya; limfosit-T CD8 mempunyai molekul CD8. Kedua sel ini memiliki reseptor pada permukaannya. Masing-masing memiliki sekitar 10.000 atau lebih tiruan molekul reseptor antigen tertentu pada permukaan selnya.

Miliaran jenis sel yang berbeda itu ada karena miliaran variasi reseptor sel T. Variasi ini terjadi ketika sel dibentuk (biasanya pada permulaan kehidupan, di dalam rahim atau pada bayi). Sel T berawal sebagai sel batang yang tidak berdiferensiasi – sel khusus yang mampu berkembang dewasa menjadi bermacam-macam sel darah. Sel batang tertentu dirancang oleh kelenjar timus untuk menjadi sel T; ketika hal itu terjadi, gen tertentu dari sel tersebut akan bergabung secara acak, membentuk banyak sekali kombinasi yang berbeda. Beberapa reseptor membuat sel ini menyerang tubuh sendiri, menyebabkan penyakit autoimun. Sel ini akan rusak di dalam timus tidak lama setelah terbentuk. Semiliar atau lebih kombinasi yang tersisa – cukup untuk mengenal beberapa bagian dari berbagai virus, bakteri, atau organisme lain yang menimbulkan penyakit pada manusia.

Ketika sebuah sel T dirancang, sel itu hanya akan mengenal satu antigen. Reseptornya tidak dapat berubah lagi. Sel itu akan menjadi sebagai sebuah sel T yang ‘naif’ (yang belum pernah bertemu dengan antigennya). Bila sel itu bertemu dengan antigennya (ada banyak sel yang tidak mengalami hal ini), sel akan berubah menjadi sebuah sel memori. Pada orang dewasa yang sehat, sekitar separuh sel T CD4 adalah sel naif dan separuhnya lagi adalah sel memori. Pada Odha, sel naif itu lebih cepat habis, karena alasan yang tidak jelas.

Baik sel naif maupun sel memori bisa membelah diri dan bereproduksi di dalam darah. Hal ini akan menambah jumlah sel, yang bisa memperbaiki respon kekebalan tubuh. Namun sel hasil reproduksi ini tidak dapat memperluas repertoar, karena sel-sel yang baru, entah itu sel naif atau pun sel memori, dirancang sama seperti orang tua mereka (untuk mengenal antigen yang sama). Hanya sel T CD4 positif yang terbentuk di dalam timus yang bisa menambah repertoar – dan pada orang dewasa, timus sangat tidak aktif sehingga sel yang baru biasanya dibentuk dengan sangat lambat.

Dr. Clifford Lane, seorang Direktur Klinik pada National Institute of Allergy and Infectious Disease Amerika Serikat, melakukan penelitian tentang pemulihan kekebalan tubuh setelah pengobatan HIV dengan terapi antiretroviral (ART). AIDS Treatment News baru-baru ini mewawancarai Dr. Lane. Berikut ini kutipan dari penjelasan dokter itu.

Kemampuan sistem kekebalan tubuh akan pulih, setelah ART, bergantung pada seberapa besar kerusakan yang terjadi selama ini. Alasan dari kesembuhan terbatas ini, bahwa sistem kekebalan tubuh pada awalnya digerakkan oleh produksi sel batang di dalam thymus, tapi tampaknya fungsi ini kecil sekali pada orang dewasa.

Hal ini membingungkan pakar kekebalan tubuh yang meneliti mengenai aspek kekebalan tubuh pada tikus – di mana masa hidup binatang itu dengan masa hidup timus tidak berbeda jauh. Namun, pada manusia, fungsi timus sangat berkurang pada masa kanak-kanak, lalu berkurang lagi pada masa pubertas, dan pada masa dewasa fungsi ini hanya tinggal sedikit sekali. Dan fungsi yang masih ada, berbeda-beda pada tiap orang.

Untuk memahaminya, bisa dilihat dari ilustrasi berikut ini. Pada sistem kekebalan tubuh orang dewasa yang menurun, tanpa adanya HIV – misalnya karena radiasi atau kemoterapi. Sistem kekebalan tubuh memang bisa pulih, namun umumnya tidak kembali normal. Pada keadaan ini, ada beberapa sel yang dibentuk di timus, pada pasien yang timusnya masih sedikit berfungsi.

Kaitannya dengan HIV, kini menjadi jelas. Karena kekebalan tubuh berkurang, maka keragaman repertoar pada sel itu juga berkurang. Kita dapat menghalangi virus dan meningkatkan jumlah sel darah putih – namun yang meningkat, pada awalnya, adalah sel yang sudah ada yang menggandakan diri. Jumlah sel bertambah dan mencapai keadaan stabil, yang bisa lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kondisi pasien, dan tergantung pada tingkat penggandaan diri virus yang sedang berlangsung.

Meskipun jumlah sel tidak semuanya kembali normal, dan beberapa keragaman sel hilang, Kita masih mempunyai sistem kekebalan tubuh yang dapat berfungsi cukup baik. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh mempunyai banyak kelebihan. Bila virus bisa dihambat, kemudian dengan diserang ulang oleh kuman, efeknya pada garis-kedua dari clone sel T bisa meluas dan menjadi pertahanan garis-pertama. Kemampuan sistem kekebalan sel T untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya adalah sesuatu yang fenomenal; kemampuan ini merupakan ciri khas yang penting.

Penelitian pada binatang menunjukkan, jumlah reseptor sel T yang kita butuhkan untuk mempertahankan kesehatan jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang dibentuk. Kita tidak butuh jumlah yang besar untuk dapat terlindungi. Penelitian pada tikus menunjukkan, dengan memindahkan sel dari tikus yang sehat ke tikus yang sistem kekebalannya terganggu, menunjukkan bahwa sel memori ternyata memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan sel naif. Selain itu, juga ditemukan bahwa untuk pertahanan tubuh yang baik, hanya dibutuhkan perpindahan sekitar seribu klon. (Catatan: percobaan tipe ini dipandang tidak etis jika dilakukan pada manusia). Sistem kekebalan bisa menyesuaikan dirinya, dan klon yang terutama berfungsi baik untuk mengenal organisme penyebab penyakit bisa memperluas penyesuaian tersebut.

Pada penyakit HIV, berkurangnya keragaman sel sudah dimulai ketika jumlah CD4 di atas 200, dan semakin buruk pada jumlah CD4 di bawah 200. Tetapi pada sel CD8 justru berbeda. Repertoar CD4 tetap akan sama seumur hidup, hampir seperti sidik jari. Keadaan ini dapat terlihat pada diagram repertoar bahkan setelah satu tahun atau lebih, dan menunjukkan darah tersebut milik siapa. Pola itu berubah bila seseorang mendapat infeksi HIV, namun perubahannya cenderung bertahap. Di lain sisi, sel T CD8, selalu datang dan pergi dalam darah, dan mempunyai repertoar yang sangat semrawut. Perbedaan ini mencerminkan peran sel CD4 sebagai pusat kendali sistem kekebalan tubuh, berbeda dengan beberapa bagian dari sistem kekebalan tubuh lainnya. Seperti sel CD8, yang dapat berubah cepat untuk mengatasi keadaan darurat apapun. Sel CD4 lebih bertindak dalam pengawasan, menjaga segala sesuatu.

Apa artinya bagi profilaksis pada infeksi oportunistik – misalnya PCP? Contohnya adalah seorang pasien yang jumlah CD4-nya 50 dan sedang memakai kotrimoksazol serta ART. Setelah satu bulan, jumlah CD4-nya mungkin lebih dari 200, tapi profilaksis itu tidak boleh dihentikan pada saat itu; pemulihan sistem kekebalan tubuh butuh waktu untuk pulih kembali. Kita belum tahu kapan saat yang tepat untuk menghentikannya – belum pernah ada penelitian tentang hal ini. Masing-masing dokter harus menilai risiko dan manfaat dari profilaksis setelah sebagian kekebalan tubuh pulih akibat pengaruh ARTl. Risiko infeksi oportunistik mungkin lebih kecil setelah jumlah CD4 meningkat – tapi berapa besarnya masih belum jelas. Persoalannya memang tidak sederhana. Sistem kekebalan tubuh tidak statis, tapi berubah secara aktif, untuk mencoba melakukan pertahanan yang terbaik. Sekali pengaruh negatif HIV bisa diatasi, sistem kekebalan tubuh yang tersisa mungkin bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik.

 

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.