Putra Jati Melayu

26 Agustus, 2008

Sang Pemenang

Diarsipkan di bawah: Motivasi — jundul @ 06:08:22

Sahabat, daya cipta, kreativitas tak terbatas, daya inovasi yang tak habis- habisnya, serta didasari karakter dan personalitas individu yang khas. Yakinkah bahwa kita terlahir sudah merupakan sebuah kesuksesan?

Jika kita berpikir itu hanya omong kosong belaka, maka kita harus menelaah lagi siapakah diri kita ini. sahabat dan saya, berasal dari sebuah sperma kecil yang sukses bersaing dengan sperma lain yang jumlahnya lebih dari 300 sampai 400 juta butir. Bayangkan, sahabat pemenang dari pertandingan ratusan juta saingan, dalam perjalanan menemukan sel telur yang merupakan takdir kesuksesan kita menjadi seorang manusia.

Kata sukses itu relatif terhadap semua orang, maka jika kita mulai mencanangkan diri untuk meraih sebuah kesuksesan, mau tidak mau kita harus menyadari diri sendiri. Saat ini kita berada di mana dan berperan sebagai apa dalam permainan menuju kesuksesan itu. Jika yang kita bicarakan adalah kesuksesan yang dikategorikan sebagai sebuah hasil dari perjalanan hidup, maka kesuksesan itu merupakan gabungan dari: hasrat diri, motivasi hidup, ketekunan, sikap mental positif, dan keberuntungan (peluang emas).

Hasrat Diri

Untuk sukses, kita harus mempunyai hasrat diri yang kuat. Seseorang yang mempunyai hasrat diri akan mempunyai motivasi untuk mencapai kemauannya. Hasrat diri ini harus mempunyai bingkai yang jelas, yaitu pikiran realistis. Jika hasrat diri tidak terbingkai, akan keluar menjadi ambisi yang liar, yang jika dibiarkan, maka kita akan terjebak di dalam keliaran ambisi. Akibatnya, kita justru semakin jauh dari tujuan, yaitu kesuksesan itu sendiri.

Motivasi Hidup

Sukses bisa dicapai dengan kekuatan motivasi. Seseorang yang termotivasi akan mampu menahan terpaan badai. Motivasi bisa menciptakan kekebalan dalam menghadapi “tikaman-tikaman” tajam “duri- duri” kehidupan.

Ketekunan

Seseorang yang mempunyai gabungan hasrat diri dan motivasi dalam menuju kesuksesan, akan bisa mencapainya jika mempunyai ketekunan untuk meraih sukses itu. Kesuksesan bukan hadiah dari langit. Kesuksesan adalah kemauan untuk berusaha dalam hal apa pun, termasuk mengalahkan rasa rendah diri dan kelesuan gairah hidup, serta kendala-kendala lain yang mengadang.

Sikap Mental Positif

Dengan sikap mental positif diharapkan bisa menjadikan seseorang mempunyai moral positif yang akan membawa angin segar yang sehat untuk dirinya sebagai manusia dan lingkungan hidupnya. Sikap mental positif mampu menepis keraguan dan menjadi pendorong untuk terus melangkah maju menuju kesuksesan.

Peluang Emas

Kadang kala kita menemui kegagalan dalam hidup. Tetapi, kita tetap harus optimistis dan bersyukur karena orang bijak mengatakan,”Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda”. Jangan memandang kesalahan sebagai kegagalan, anggap itu sebagai pengalaman belajar, maka Anda bisa mempelajari kekecewaan dan kegagalan untuk menambah maju langkah Anda agar semakin dekat pada kesuksesan.

Kalau hari ini kita mengalami  kegagalan, besok adalah hari baru, pengharapan baru, maka segalanya akan berubah sepanjang kita tetap berusaha dan banyak bersabar. Banyak penelitian mengungkapkan banyak orang yang kehilangan keberuntungan hanya karena kurang sabar. Kata sabar di sini jangan diartikan sebagai sikap menyerah, apalagi menjadikan Anda malas. Sabar berarti menunggu waktu yang tepat atau sering disebut dengan peluang emas.

Tentu saja kesuksesan bisa dicapai jika di dalam diri kita ada: disiplin diri, kreativitas, mampu menerima kritik, mampu beradaptasi dalam perubahan, serta tidak kenal menyerah.

Disiplin Diri

Kedisiplinan diri, sangatlah penting untuk menuju kesuksesan. Orang yang tidak punya kedisiplinan akan tertatih-tatih dalam menjalani hidupnya. Disiplin mencakup segala bidang, mulai dalam penggunaan waktu sampai gaya hidup, serta motivasi dan target hidup.

Marie Curie (1837-1934), peraih hadiah Nobel Fisika mengungkapkan,”Kehidupan ini tidaklah mudah bagi siapa pun. Kita harus punya ketekunan dan kedisiplinan dalam hidup, dan yakin kepada
diri sendiri, bahwa apa yang dikaruniakan pada kita, harus diupayakan untuk hidup”.

Marie Curie sudah membuktikan bahwa kekerasan Pemerintah Polandia pada zamannya, yang melarang seorang wanita masuk universitas, tidaklah mampu membendung ketekunannya untuk tetap belajar dan menunjukkan prestasi.

Untuk menjadi seorang yang sukses, haruslah ada kreativitas dalam segala hal. Misalnya, kreatif berpikir, kreatif bertindak, kreatif berucap, dan kreatif dalam beradaptasi (interaksi dengan lingkungan).

Mampu Menerima Kritik

Kritik bisa diibaratkan cermin diri. Sebaiknya kita berterima kasih pada orang yang melancarkan kritik, sebab orang yang bisa melontarkan kritikannya, berarti dia memperhatikan kita. Kritik ibarat obat, terasa pahit tapi menyehatkan. Sedangkan pujian ibarat gula, manis tapi bisa membuat penyakit. Banyak orang tahan uji, tetapi jatuh dengan pujian yang memabukkan.

Mampu Beradaptasi

Di dunia ini tidak ada yang permanen, kecuali perubahan. Segalanya berubah! Siapkan diri untuk beradaptasi dalam perubahan yang akan terjadi, baik melalui program jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Semuanya harus disiapkan dengan baik, termasuk mengantisipasi kemungkinan terburuk untuk meminimalkan risiko dan kendala yang ada.

9 Agustus, 2008

Menimbang Teori Manslow dari Sisi Lain

Diarsipkan di bawah: Motivasi — jundul @ 07:08:06

Manusia sebagai makhluk hidup, dalam tahapan kehidupannya mempunyai beberapa fase pemenuhan kebutuhan yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Melalui pengalaman panjang kehidupan seorang Abraham Manslow yang lahir sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara dalam sebuah keluarga Yahudi yang hidup di New York, kemudian lahirlah sebuah Teori Hierarki Kebutuhan Manslow (Hierarchy of Needs).

Motivasi-motivasi yang mendorong manusia dalam memenuhi kebutuhannya, dipelajari Manslow yang nantinya juga akan melahirkan sebuah aliran psikologi humanistik. Teori Manslow memang sangat logis dalam membahas tahapan-tahapan pencapaian kebutuhan manusia menurut motivasinya yang dimulai dari kebutuhan fisiologis (makanan, minuman, pakaian), disusul kemudian berturut-turut adalah kebutuhan akan rasa aman dan tenteram, kebutuhan untuk disayangi, kebutuhan untuk dihargai, hingga pada akhirnya adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Namun tanpa bermaksud menggugat teori ini, namun secara humanis teori ini ternyata juga belum mampu menjelaskan kenyataan-kenyataan di depan mata kita, mengapa masih ada orang miskin yang hidupnya berkekurangan namun masih dapat hidup dengan bahagia bersama keluarganya. Di lain sisi mengapa banyak pula orang-orang kaya yang ternyata tidak dapat hidup bahagia. Ternyata yang terjadi adalah teori Manslow tidak dapat sepenuhnya berjalan sesuai urutannya.

Dalam perkembangan dunia karir dan pekerjaan yang ada saat ini, tidak jarang kita jumpai bahwa orang yang sukses berkarir belum tentu mempunyai sebuah keluarga yang sukses dibina pula. Belum tentu para pekerja sukses ini mempunyai sebuah ‘rumah’ yang merindukannya untuk pulang. Di lain sisi justru mungkin para pegawai rendahan atau mungkin bahkan buruh atau pemungut sampah di pinggir jalan justru mempunyai ‘rumah’ yang selalu menantikannya pulang dengan hangat. Jadi sekarang di mana letak relevansi tahapan pemenuhan kebutuhan Manslow dalam kehidupan ini?

Tahapan dasar kebutuhan Manslow mengenai kebutuhan fisiologis manusia dalam pencapaiannya mungkin akan dapat dibayar dengan kerja keras dan karier yang sukses, yang tentu saja akan menimbulkan lompatan tahapan ke tahap 4 dan 5, yaitu tahap pemenuhan kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ya, karier yang sukses sekaligus dapat melampaui tahap 1, 4 dan 5 sekaligus, namun belum tentu menjamin manusia tersebut untuk mendapatkan 2 tahapan sebelumnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman dan tenteram serta kebutuhan untuk dicintai dan disayangi.

Ternyata kebutuhan akan rasa aman dan tenteram serta kebutuhan untuk dicintai dan disayangi tidak dapat dibayar begitu saja dengan pemenuhan kebutuhan yang pertama, yaitu kebutuhan fisiologis. Dengan kata lain, kebutuhan jiwa manusia ternyata tidak dapat dibeli dengan pemenuhan jasmani, bahkan oleh uang yang melimpah sekalipun. Ini pula antara lain yang kemudian menerangkan jati diri seorang manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Bahwa kebutuhan jasmani dan rohani ternyata merupakan dua hal yang berbeda, walaupun terkadang saling berkaitan dalam kehidupan. Bahwa mungkin kedua aspek ini tidak dapat dijadikan satu dalam suatu tahapan pemenuhan sekaligus, karena masing-masing harus dibangun dengan dua proses yang berbeda, mungkin hal tersebut juga harus dipertimbangkan lagi oleh Manslow.

Blog pada WordPress.com.