Putra Jati Melayu

1 Agustus, 2008

Struktur Jabatan Pengaruhi Skala Prioritas

Diarsipkan di bawah: Organisasi — jundul @ 05:08:45

TERNYATA dalam menentukan jabatan dan jenis pekerjaan yang akan dilakoni di sebuah perusahaan, dilihat pada pelaku dan nonpelaku. Artinya, bicara mengenai level staf ke bawah maka akan membahas tentang level pelaku yang menerima intruksi. Jadi hanya kemampuan motorik saja yang diandalkan oleh mereka.

Berbeda dengan level atas seperti staf karyawan hingga CEO (Chief Executive Officer), mereka menggunakan thinking dalam menjalankan job decriptionnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, struktur jabatan banyak mengadopsi negara maju Amerika dan Eropa. Di mana dalam penentuan jabatan dilihat dari level jabatan mulai dari tingkat terendah yaitu office boy hingga pemikir (thinker) dan pelaksana (pelaku)-nya.

“Dalam menentukan struktur jabatan di sebuah perusahaan, maka tingkat pendidikan sangat berpengaruh kuat. Karena tingkat pendidikan memengaruhi pikiran, sikap, dan perilaku seseorang,” kata psikolog Bondan Seno Prasetyadi.

Dijelaskan oleh almamater Universitas Guna Dharma ini, tingkat pendidikan yang akan memengaruhi seseorang tersebut dapat dibedakan dari cara pikir mahasiswa dan tukang parkir saat menghadapi kenaikan BBM.

“Misalnya saat seorang tukang parkir dan mahasiswa ditanyakan mengenai kenaikan BBM, maka cara pandang dan sikap yang ditunjukkan pasti akan berbeda. Hal-hal kecil seperti inilah yang membedakan seseorang ketika masuk dalam dunia kerja,” ungkap staf pengajar di Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu.

Di Amerika dan Eropa, sambungnya, ada aturan baku yang menjelaskan mengenai struktur jabatan dan skala upah yang akan diterima seluruh pegawainya. Sementara di Indonesia, masih menurut Bondan, struktur jabatan dan skala upah baru dimulai sejak Kepmen Nomor 49/2004 tentang teknis penyusunan sebuah perusahaan diberlakukan.

“Dari kepmen tersebut, akhirnya booming perusahaan-perusahaan yang menyusun struktur, golongan, jabatan, dan skala upah pegawainya,” jelas konsultan untuk SDM di beberapa perusahaan itu.

Dengan adanya kepastian tersebut, lanjut Bondan, maka akan menguntungkan kedua belah pihak. Baik dari perusahaan maupun karyawan yang bersangkutan, karena akan memperjelas jenjang karier seseorang.

Dalam hal ini, pegawai terendah setingkat office boy pasti mengalami kondisi yang sulit. Sebab mereka sulit untuk mendapat posisi tinggi bila tidak didukung oleh jenjang pendidikan dan kinerja yang baik.

“Adanya peraturan yang menguatkan bahwa level bawah memang mudah untuk dicari, membuat perusahaan tak menjadikan bagian tersebut sebagai skala prioritas. Sebab job description mereka tidak strategis sehingga mudah untuk digantikan sewaktu-waktu,” tukasnya.

[Sumber : okezone.com]

ETIKA DALAM ORGANISASI

Diarsipkan di bawah: Organisasi — jundul @ 01:08:43

Masalah etika selalu muncul dalam situasi yang melibatkan orang lain, tetapi seringkali organisasi lebih banyak menyoroti masalh etika ini daripada pihak – pihak lainnya. Pelanggaran terhadap etika yang telah diterima secara umum merupakan masalah yang harus diwaspadai dalam organisasi. Bagi sebagian orang perilaku etis dalam organisasi tidak selalu penting. Charles Saxon, kartunis majalah The New Yorker, menerbitkan serial kartun bisnis berjudul “ kejujuran adalah salah satu kebijakan yang lebih baik”, Tampaknya Saxon berpendapat bahwa dikusi etika dalam organisasi bisnis diperlukan, dan mungkin bermanfaat bagi kita untuk mempelajari beberapa masalah etika dalam konteks pembuatan keputusan mengenai pekerjaan dalam organisasi. Bidang karier apapun yang anda putuskan untuk anda tekuni, pasti mencakup sejumlah dilemma dan paradoks mengenai etika kehidupan yang sesunguhnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan etika ? Sekelompok teoritis (Solomon & Hanson, 1985) mengemukan bahwa etika berkaitan dengan pemikiran dan cara bersikap, pemikiran mengenai etika terdiri dari evaluasi masalah dan keputusan dalam arti bagaimana kedua hal ini memberi andil pada kemungkinan penigkatan seseorang seraya menghindari akibat yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Perilaku etis berhubungan dengan tindakan yang sesuai dengan keputusan yang relevan, yang sejalan dengan seperangkat pedoman yang menyangkut perolehan yang mungkin dan akibat yang merugikan orang lain.

Masalah etika dalam organisasi dapat dibagi dalam dua kategori :

1. yang menyangkut praktik – praktik organisasi di tempat kerja, dan

2. yang menyangkut keputusan perorangan

 

Praktik – praktik Organisasi

1. Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang paling akhir.

2. Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian, pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan, pemberhinetian dan masalah pension anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi yang prospektif disetiap jenjang karirnya.

3. Keleluasaan (privacy) dan pengaruh terhadap keputusan pribadi. Perjanjian eksplisit dan implicit antara pegawai dengan organisasi yang memperkerjakan mereka, memberi peluang kepada organisasi untuk memperhatikan faktor – faktor yang secara jelas mempengaruhi prestasi kerja pegawai. Namun masalah etika muncul bila organisasi menaruh perhatian khusus pada masalah kehidupan pribadi anggotanya yang tidak secara langsung mempengaruhi prestasi kerja mereka dalam organisasi, misalnya segala sesuatu yang terjadi selama cuti yang mungkin mempengaruhi citra organisasi, keikutsertaan dalam masalah – masalah public seperti kegiatan masyarakat dan organisasi pelayanan, kontribusi pada badan – badan amal, dan keterlibatan dalam kelompok kegiatan politik.

Teknologi Informasi Dalam Organisasi

Diarsipkan di bawah: Organisasi — jundul @ 01:08:02

Komunikasi bermedia komputer dasa warsa ini memegang peranan sentral dalam transformasi organisasi, dan kini lagi-lagi sendi kehidupan manusia sangat dipermudah dengan adanya kemajuan teknologi tersebut. Pengaruh yang ditimbulkan amatlah besar terutama dalam tatanan suatu system organisasi. Teknologi komunikasi komputer, seperti surat elektronik (e-mail), video conferencing, voice messaging, faksimil dan papan bulletin komputer, dapat mengubah cara kita bekerja dan sekarang marilah kita lihat apa pengaruh fasillitas tersebut bagi organisasi.

Penggunaan surat elektronik (e-mail) dan sejenisnya dalam tatanan organisasi dapat menghilangkan pesan berganda kepada orang yang kita tuju (orang yang sama) atau meniadakan waktu menunggu sampai pesan-pesan tersebut ada didalam kantornya atau tersedia sebelum anda bertanya maupun melayani mereka dengan informasi yang mereka perlukan. Dengan kata lain media baru ini dapat menerobos hierarki tradisional dan batas-batas departemen dengan mudah, mengganti proses-proses sebelumnya dengan pola-pola baru dan pengaruh yang menyertainya serta merta media baru ini mengubah organisasi secara mendasar. Masuk akal bila kemudian dikatakan bahwa dengan transformasi proses komunikasi manusia dan komunikasi organisasi, ada kemungkinan bagi organisasi untuk mengalami transformasi. Fulk dan Steinfield (1990) menyatakan,”kenyataannya komunikasi efektif adalah komunikasi yang tujuan intinya memacu penerapan teknologi informasi dalam organisasi”. Asumsi ini harus diteliti secara cermat oleh teoritisi dan praktisi komunikasi organisasi. Karena dilain tempat ada beberapa pertanyaan yang mengusik, diantaranya adalah ; apakah teknologi komunikasi membantu organisasi berkomunikasi lebih efektif ?, dapatkah orang memperkirakan dan mungkin menjamin suatu peningkatan efisiensi dengan pemasangan video conferencing atau surat elektronik ?, atau dengan kata lain, apakah teknologi komunikasi baru “mempengaruhi” lebih efisien, lebih produktif, dan lebih responsive ?. Untuk menjawab persoalan diatas saya coba memaparkan sedikit gambaran suatu hal yang menjadi sifat utama dari surat elektronik atau computer adalah kemampuannya untuk mengatasi kendala-kendala ruang dan waktu. Selain itu, memberi kesempatan untuk mengubah jarak dan wilayah komunikasi seseorang, misalnya, laporan akhir bulan, rincian keuangan, dan pembauran pemasaran dapat dikirimkan dalam beberapa detik ke kantor yang berjarak geografis. Tentu hal ini menghapus penantian untuk yang disebut beberapa pegawai sebagai “pos siput” (snail mail) yang tampaknya menjadi lambat setiap saat. Selanjutnya, kelompok-kelompok orang dapat mengkoordinasikan pekerjaan dan kegiatan mereka berapapun jarak yang memisahkannya.

Namun, Rice (1992) mengingatkan bahwa, disamping surat elektronik memberi kemampuan untuk melintasi batas-batas organisasi dan geografis, kesalingbergantungan tugas dan sumber daya dapat menjadi faktor penggangu. Kedua hal ini dengan mudah dapat membatasi, mengubah dan/atau mengurangi motivasi untuk berubah. Misalnya bila tugas dua pegawai saling bergantung, mereka mungkin memilih tidak menggunakan surat elektronik untuk membuat “kontak” baru karena mereka telah terkait erat dalam “hubungan kerja yang berlangsung.

Dalam penelitian lainnya C.B Johnson (1992) menemukan bahwa surat elektronik tidak secara nyata mengubah jarak dan arah komunikasi dalam suatu perusahaan utilitas local. Mengapa ini terjadi ? hal ini dapat berkaitan dengan kesaling bergantungan tugas dan sumber daya yang diperlukan, atau sanksi administrative yang tegas terhadap penggunaan surat elektronik untuk keperluan pribadi. Dengan perkataan lain, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa pelaksanaan pos elektronik akan mengubah struktur organisasi. Ada beberapa faktor lain yang harus dipertimbangkan seperti budaya, norma dan siapa perlu bekerja dengan siapa. Hal ini menekankan pentingnya konstruksi sosial media yang digunakan dan bergerak menjauh dari determinisme teknologis. Banyak kisah kegagalan maupun keberhasilan dalam organisasi ketika media komunikasi baru seperti surat elektronik diperkenalkan. Keberhasilan bergantung pada banyak faktor. Kita harus mempertimbangkan bagaimana interaksi para pegawai, persepsi dan sikap mereka terhadap medium baru, selain dari apa yang dapat dilakukan oleh medium itu sendiri. Suatu pemahaman mengenai setiap teknologi komunikasi baru dan khususnya medium baru seperti surat elektronik, harus mencakup, penggunaan dan persepsi pegawai terhadap hal tersebut. Tidak ada jalan lain untuk memahami penyebarannya dalam organisasi. Tidak dapat disangkal, ada penggunaan rasional untuk surat elektronik atau setiap teknologi komunikasi baru lainya sebagai peralatan tambahan untuk organisasi, tetapi pegawai menciptakan dan mulai memahami organisasi dan perangkat tersebut ketika mereka berinteraksi dan bekerja bersama-sama.

Akhirnya setiap orang yang tertarik pada wilayah dan isu-isu lain disekitar media komunikasi baru dan organisasi, harus melihat pada teknologi keputusan kelompok yang didukung komputer, pemrosesan informasi dan hubungannya dengan rancangan organisasi, kesempatan baru bagi komunikasi organisasi, dan analisis jaringan komunikasi.

Blog pada WordPress.com.