Putra Jati Melayu

17 November, 2008

Maladewa Mencari Tanah Air Baru

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 01:11:40

Republik Maladewa, sebuah negara kepulauan yang terletak di sebelah barat daya Sri Lanka, dikenal dengan keindahan pulau karang-pulau karang yang membentuk gugusan dengan 26 pulau-pulau besar. Negara di Lautan Hindia, yang merupakan salah satu tempat wisata terbaik di dunia ini, ternyata bermasalah. Karena, rata-rata tinggi daratannya hanya 2,3 meter dari permukaan laut, diperkirakan dalam waktu yang tak lama lagi, seluruh pulau-pulau di Maladewa bakal tenggelam akibat pemanasan global.

Saat ini, untuk mencegah terjadinya kenaikan air laut di negara itu, tak ada jalan selain mengevakuasi penduduk di daerah tergenang ke pulau yang aman. Di Ibukota Maladewa, Male, telah dibangun tembok pelindung setinggi tiga meter yang dibangun selama 14 tahun dengan dana bantuan dari Jepang, untuk menghindari banjir, akibat naiknya permukaan laut.

Namun, masih dibutuhkan pembangunan tembok setinggi itu pada 193 pulau yang berpenghuni di negara ini. Pembangunan tembok-tembok ini sangat mahal. Satu bangunan tembok seperti yang dibangun di Male membutuhkan biaya sebesar US$ 63 juta atau sekitar Rp 693 miliar.

Tugas berat kini berada di pundak presiden terpilih negara itu, Mohamed Nasheed untuk melindungi 350.000 warganya dari ancaman tenggelam. Nasheed, yang baru saja menjabat sebagai presiden, tampaknya lebih memilih mencari pulau yang bakal menjadi Tanah Air baru negaranya, dibandingkan membangun ratusan tembok.

Dana untuk membeli tanah air baru itu bakal diambil dari pemasukan sektor pariwisata sebesar US$ 1 miliar. Juru Bicara Presiden, Ibrahim Hussein Zaki mengungkapkan, pihaknya tengah mencari pulau di sekitar India atau Sri Lanka karena memiliki kesamaan budaya dan iklim cuaca. Mereka juga melirik Asia Tenggara dan Australia sebagai pilihan lain. Badan Iklim PBB memperkirakan volume air laut di seluruh dunia akan naik hingga enam meter pada tahun 2100 sebagai imbas dari pemanasan global.

14 Oktober, 2008

Krisis Ditangani untuk Menciptakan Krisis

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 09:10:00

Sejak 1980-an krisis demi krisis sudah bermunculan. Namun, krisis sebelumnya ditangani hanya untuk menciptakan krisis berikutnya. Ini terjadi karena pemerintah yakin pasar akan otomatis melakukan koreksi. Nyatanya, pasar tidak melakukan koreksi dan terus bergerak liar.

Demikian pernyataan George Soros, Ketua Soros Fund Management, Minggu (12/10), dalam pernyataannya di televisi CNN.

Krisis di AS kini, antara lain, ditandai dengan anjloknya kurs dollar AS, terjadinya kegagalan bayar cicilan rumah dan berlanjut dengan penyitaan (foreclosure), jatuhnya indeks saham, dan bangkrutnya perbankan. Krisis ini memicu tergerusnya kepercayaan, antara investor dan pialang, krisis sesama pialang, serta krisis kepercayaan di antara sesama perbankan.

Secara mikro, krisis ini bisa dijelaskan dalam konteks yang lebih sempit. Salah satu pemicu krisis adalah pembangkrutan lembaga dan korporasi bangkrut, atau menggabungkannya dengan perusahaan lain (merger).

Pada saat terjadi kebangkrutan, sinyal yang terkirim ke pasar adalah suasana panik. Menurut Soros, kepanikan ini diatasi dengan penurunan suku bunga, pengguyuran dana ke pasar. Dengan pengguyuran dana ke pasar, atau penyuntikan dana ke perusahaan bangkrut, keadaan reda untuk sementara.

Namun, dasar dari krisis terakhir adalah ekspansi kredit. Lembaga-lembaga keuangan mengucurkan dana dengan mengandalkan pinjaman dari investor untuk dikucurkan ke sektor bisnis, dan konsumen, yang juga hidup dengan topangan utang.

Soros mengenang ucapan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke ketika tumpukan utang masih senilai 100 miliar dollar AS. Dengan kata lain, jumlah utang ini relatif kecil dan bisa diatasi dengan pinjaman baru pemerintah. Akan tetapi, daya dukung pemerintah tak ada lagi ketika tumpukan utang lembaga keuangan AS sudah mencapai 2 triliun dollar AS.

Di sisi lain, pemerintah juga menumpuk utang, yang ditandai dengan defisit ganda, yakni defisit anggaran pemerintah dan perdagangan. Utang-utang ini juga selama ini bisa diatasi dengan pinjaman yang ditutup dari negara lain, termasuk China, yang menginvestasikan cadangan devisanya.

”Game is over,” kata Soros. Artinya, dunia sudah mulai melihat daya dukung ekonomi AS, dan daya dukung perusahaan AS, yang tidak akan mampu lagi mengatasi tumpukan utang.

Aliran masuk dana ke AS ambruk. Terjadilah gelombang kebangkrutan, yang paling akhir dipicu oleh kebangkrutan Lehman Brothers.

Salah persepsi

Uluran tangan pemerintah, kata Soros, tidak akan bisa berlanjut tanpa batas. Namun, uluran pemerintah selama ini tidak pernah diatasi dengan melihat ke sisi mikro, terutama perilaku sektor keuangan.

Ada persepsi yang meyakini bahwa pasar akan melakukan koreksi terhadap kesalahan bisnis mereka. ”Ini jelas salah. Pasar tampaknya tidak mau menuju keseimbangan. Dan, pada saat tertentu, pasar menciptakan krisis,” katanya.

Korporasi AS tak pernah menyadari rambu-rambu keuangannya berada dalam bahaya. Ini terjadi karena tidak ada peraturan yang memaksa korporasi melakukan kontrol diri.

”Ini jelas dimulai di era (almarhum Presiden AS) Ronald Reagan, di mana kredo mereka adalah pasar bebas,” kata Soros. ”Saya mendambakan pasar bebas, tetapi tentu harus dengan adanya kontrol atau pengaturan,” kata Soros.

Namun, selama sekian tahun, kredo ini berkesinambungan. Mendadak muncullah letupan krisis. Krisis terjadi karena gelembung ekonomi, antara lain, ditandai dengan tumpukan utang, kontrol pasar yang semakin hilang, dan lainnya.

Di sisi lain, kesalahan itu ditambah lagi dengan pengurangan pajak korporasi. Padahal, pajak korporasi adalah satu sumber keuangan pemerintah, sumber penerimaan ini justru dihilangkan.

Untuk mengatasi krisis sekarang ini, Soros mengatakan, pemerintah tidak akan bisa menahan arus kejatuhan pasar. Pemerintah AS hanya bisa mengatasi akar dari krisis, yakni kegagalan bayar oleh para pembeli rumah di AS. Kegagalan bayar ini telah memicu kebangkrutan bank.

Menurut Soros, walau tidak bisa mengatasi semuanya, tindakan tepat yang harus dilakukan adalah dengan menolong para pembeli rumah. Hal ini, misalnya, bisa dilakukan dengan membantu para pembeli rumah. ”Jika tidak menalangi semuanya, pemerintah boleh juga menalangi pembelian rumah dengan nilai maksimal 85 persen,” kata Soros.

Hal ini, kata Soros, tentu harus diikuti dengan pengaturan pada korporasi agar tidak menjalankan bisnis secara liar lagi.

7 Oktober, 2008

Kenapa Dengan Indonesiaku ??

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 12:10:17

Sahabat, setelah cukup lama saya tidak menuliskan sesuatu di blog ini, baru hari ini saya memposting tulisan saya kembali di blog ini. Sebelumnya dengan segala kerendahan hati saya dan keluarga mohon maaf lahir dan batin kepada sahabat-sahabat penikmat blog ini, kepada unsur-unsur yang cukup sering “disentil” diblog ini, dan kepada ummat Islam Indonesia dan dunia umumnya, taqaballahuminna waminkum taqaballhu ya kariim, selamat merayakan nikmatnya Idul Fitri 1429 H, 1 Oktober 2008.

Sahabat, wacana yang cukup menghangat di negeri kita akhir-akhir ini adalah tentang bagaimana makanan, susu, dan produk turunan dari China menjadi momok dalam sekejap karena mengandung unsur melamine yang merupakan kadar utama pembentuk perkakas rumah tangga. Tak ketinggalan pula ditemukan produk-produk susu dari new zealand, swiss, dan beberapa produk eropa lainnya yang juga mengandung kadar melamine yang cukup tinggi. Belum lagi polah tingkah pedagang pribumi sendiri yang ditunjukkan kecurangannya di media elektronik dengan memasukkan air sebanyak-banyaknya pada sapi potong mereka sampai sapi tersbut sekarat menjelang mautnya dengan sangat tersiksa karena perutnya dipenuhi dengan air yang begitu banyak. Yang kemudian dikenal dengan daging sapi gelonggongan. 

Belum lagi usai hebohnya issue diatas, kembali Indonesia diliputi rasa was-was karena resesi keuangan yang cukup kritis yang dialami Amerika Serikat, sehingga apapun pergerakan yang dilakukan pengambil keputusan di Amerika sana menjadi panduan utama Indonesia dalam rangka mempertahankan ekonominya pula. Maka istilah bailout yang samasekali belum pernah saya dengar menjadi topik bahasan pakar ekonomi Indonesia dan juga pakar-pakar dadakan Indonesia. Karena krisis keuangan di Amerika ini, kepanikanpun melanda lantai bursa di Indonesia, banyak investor yang mengalami panik dengan krisis keuangan Amerika ini.

Pun juga dengan anggaran militer yang dipangkas pada RAPBN tahun 2009 nanti, sehingga Alutsista bangsa ini menjadi alutsista yang ketinggalan zaman, ketinggalan kecanggihan dan lain sebagainya, yang menyebabkan bangsa sekecil Malaysia dan Singapura pun berani mencubit-cubit dengan enaknya negeri ini.

Sahabat, beberapa hari yang lalu saya diundang oleh seorang teman untuk menyaksikan sebuah film dalam format DVD, yang berkaitan dengan makanan dan minuman yang beredar di negeri ini. Dan tebakan sayapun terbukti, manakala saya melihat rekaman original dengan menggunakan handycam tersebut yang membuat saya sering mengurut-urut dada. Di film tersebut, ada pengakuan dari seorang yang sudah cukup lama bekerja pada restoran cepat saji made in USA, pengakuan ini dibuat di kota Bandung. Dalam pengakuannya mr. X ini mengatakan bahwa restoran cepat saji tempatnya bekerja dulu memiliki ranch atau peternakan ayam untuk konsumsi penjualan mereka. Kata Mr. X ini, ayam-ayam yang menjadi jualan restoran cepat saji ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada ayam-ayam biasanya, padahal umur ayam tersebut tidaklah lama di peternakan tersebut, hanya 1 bulan saja, tetapi besarnya seperti ayam yang sudah dipelihara selama 8 bulan, kenapa bisa ? Ternyata sahabat, rahasianya adalah ayam-ayam tersebut tidak diberi suntikan air melalui selang seperti yang marak terjadi di negeri ini, tetapi ternyata, ayam-ayam ini diberi suntikan insulin beberapa kali selama 1 bulan tersebut. Yang membuat saya mengurut dada adalah ternyata bahan dari suntikan insulin itu adalah dari bahan hewani babi, subhanallah.

Dari film itu juga kemudian dibuka bahan-bahan dari babi yang beredar di negeri yang mayoritas penduduknya mengharamkan babi untuk dikonsumsi dan digunakan. Mulai dari kosmetik dari Eropa dan USA, sampai makanan dan minumannya. Ada satu ciri yang khas untuk mengetahui bahwa perangkat yang dijual tadi terdapat bahan babi. Dengan melihat unsur penyusun yang biasanya disertakan pada bungkus perangkat tersebut. Jika pada bahan makanan yang dikenal adalah gelatin, KOD 164, KOD 146. Jika terdapat kode-kode tersebut pada unsur penyusunnya, kira-kira kita wajiblah berhati-hati untuk tidak membeli produk tersebut. Wallahu’alam bissawab.

 Miris…miris… ada apa dengan Indonesiaku ?

9 September, 2008

Berkah Bulan Ramadhan : Sebuah Satiran

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 09:09:12

Sahabat, kalau memang dikatakan bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh berkah, secara formil agama islam jelas sangat meyakinkan. Tapi jika, kita tinjau dari sisi sosial dan kultural bagaimana ? Apakah bulan Ramadhan sebagai bulan berkah juga masih bisa disandingkan ? Ternyata sahabat, secara sosial dan kultural tertutama dinegeri saya riau Tamaddun ini juga terbukti secara empiris.

Satu lagi bahasa satiran saya tentang aspek sosial kultural dan politik kita — barangkali peristiwa serupa di negeri saya ada kemiripannya dengan negeri sahabat :)   – . Bagaimana rinciannya ?, silahkan sahabat simak tulisan ini :

1. Setelah hampir 2 tahun lamanya negeri Riau Tamaddun ini mendekati negeri gelap gulita yang dilakonkan oleh PLN sebagai tokoh “antagonis”nya, alih-alih pada bulan ramadhan tepatnya dari tanggal 1 ramadhan sampai dengan sekarang, tidak satu detikpun PLN tercinta ini memadamkan listriknya di negeri kami. Padahal sahabat, dengan alasan PLTU Ombilin overhoul dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan pada kondisi normal, ditambah lagi PLTA yang selalu kekurangan debit air walaupun musim penghujan tiba dengan derasnya membasahi negeri ku, tidak cukup itu, ditambah lagi alasan 3 turbin yang berjalan sekarang hanya bisa digunakan 1 turbin, tentulah memupuskan asa menikmati indahnya gemerlap lampu dan penerangan penuh di negeri ini. Tapi ramadhan membiaskan keberkahannya pada negeriku ini, minimal sampai hari ini, saya tak tahu apakah besok kembali PLN berulah kembali setelah membaca satiran saya ini :)

2. Kemudian keberkahan kedua yang saya rasakan adalah dengan tiba-tiba lalu-lintas di negeri saya ini menjadi tertib dan penuh kesabaran (barangkali supaya tak sumbing puasanya :) ). Selain bulan ramadhan ini, bukan main suara klakson dari berbagai jenis kendaraan bermotor terdengar karena faktor ketidak sabaran tadi, di bulan ini setiap saya berada di jalan-jalan besar di negeri saya ni, tak lah saya dengar bunyi-bunyi yang memekakkan telinga kita ini. Indikasi lain adalah kok bisa tertib ya angkutan kota, bus kota, taksi dalam mencari peruntungan nafkahnya. Entahlah, barangkali ini juga dapat dimasukkan sebagai keberkahan bulan Ramadhaan :)

3. Kemudian, secara kebetulan sahabat, pesta demokrasi memilih calon gubernur dan wakilnya di negeriku ini berlangsung pada tanggal 22 september 2008, bertepatan dengan pelaksanaan ibadah wajib shaum. Tentunya segala macam persiapan mulai dari kampanye menyentuh tanggal-tanggal dimana kita berpuasa. Dari catatan saya, dari 3 bakal calon gubernur ini yang berkompetisi, hanya 1 pasangan yang bertindak sedikit diluar batas bulan ramadhan (yah, semoga saja puasanya masih sempurna disisi Allah SWT). Kasusnya bukan black campign pada kandidat lain, malah black campign pada incumbent yang sekarang berkuasa di negeriku dan tidak mencalonkan diri menjadi kandidat gubernur selanjutnya, nah lho ? Selebihnya, seperti kampanye-kampanye yang lain yang ingin merebut hati masyarakat, ada yang berkunjung kepasar-pasar sambil membagikan tempe gratis dan sayuran gratis, ada yang menjanjikan modal kerja tanpa agunan, ada yang menjual kesederhanaan, ada yang berbuka puasa sambil memberikan bantuan pada ormas-ormas Islam, dan lain sebagainya.

4. Yang berikutnya adalah tutupnya panti-panti pijat plus kelas teri yang selama ini sangat susah untuk ditutup. Kalau panti-panti pijat kelas kakapnya mungkin juga tutup mungkin juga tidak. Barangkali tukang pijatnya pulang kampung semua ya, sampai satpol PP dan pemerintahan Kota tak perlu lagi repot-repot bersitegang dan merazia panti-panti pijat plus tersebut.

5. Yang juga mengherankan saya, perilaku PNS dibulan puasa ini menunjukkan gejala positif. Masuk tepat waktu (Selama bulan puasa masuk kerja PNS jam 08:00:00 s/d 15:00:00), pulangnya juga so pasti tepat waktu. Urus surat-surat administrasi kok ya cepat dan mudah, tanpa amplop-amplopan lagi. Kemudian sampai detik ini saya belum ketemu sama yang namanya PNS berwalking-walking ria di mall dan tempat hiburan di jam kerja, kecuali menjemput anaknya sekolah. Jadi ruangan-ruangan kerja di kantor pemerintah dinegeri saya selama bulan ramadhan selalu penuh, tidak seperti biasanya yang lengang, adem dan sejuk :)   

Bagaimana dengan keberkahan bulan ramadhan di negeri sahabat :)

1 September, 2008

Ekonom Terjajah dan Ekonom Penjajah

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 10:09:34

 

Ada dua buku kecil yang sangat menarik mengenai pemikiran ekonomi dan perekonomian Indonesia. Buku pertama, ditulis oleh Sri Edi Swasono, berjudul Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas. Sedangkan buku kedua, ditulis oleh Mubyarto (almarhum), berjudul Ekonomi Terjajah.

Buku Ekspose Ekonomika (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), berisi gugatan terhadap kompetensi para ekonom Indonesia. Sebagaimana dikupas secara panjang lebar dalam buku ini, setidak-tidaknya terdapat tiga alasan pokok mengapa kompetensi para ekonom Indonesia perlu digugat.

Pertama, para ekonom Indonesia disinyalir telah terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik. Keterkungkungan terhadap ajaran ekonomi neoklasik yang bersifat liberalkapitalistik dan individualistik itu, tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan cita-cita proklamasi, ideologi negara, dan masa depan perekonomian Indonesia.

Sesuai dengan cita-cita proklamasi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun sebagai koreksi terhadap struktur perekonomian kolonial. Dalam bahasa konstitusi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun berdasarkan demokrasi ekonomi, yaitu dengan meletakkan kemakmuran bersama di atas kemakmuran orang seorang.

Tetapi para ekonom Indonesia, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik, kehilangan kepekaan dan kemampuan mereka untuk melakukan koreksi. Alih-alih melakukan koreksi, mereka justru cenderung menjadi kaki tangan neokolonialisme untuk melestarikan struktur ekonomi kolonial di negeri mereka sendiri.

Kedua, para ekonom Indonesia diduga terlalu terpesona oleh globalisasi. Keterpesonaan yang berlebihan terhadap globalisasi itu tentu sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian rakyat, ketahanan ekonomi nasional, dan bahkan bagi keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat, bangsa Indonesia sangat mendukung pergaulan dunia. Tetapi sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menentang segala bentuk penjajahan, setiap warga negara Indonesia, termasuk para ekonom, seharusnya dengan sadar membangun sikap kritis dalam memandang globalisasi.

Tetapi alih-alih bersikap kritis, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka menutup mata dan mata hati mereka terhadap bahaya neoimperialisme tersebut. Bahkan, ”karya Nobel Laureate seperti Stiglitz pun, yang secara khusus menguraikan mengenai globalisation and its discontents secara panjang lebar, tidak menyentak para pengagum globalisasi dari kelengahan akademnis-kulturalnya ini” (hlm 119).

Ketiga, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik dan terpesona oleh globalisasi, para ekonom Indonesia juga diduga telah kehilangan kepekaan mereka terhadap makna kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ketidakmampuan para ekonom Indonesia dalam memahami makna kedua hal tersebut, tentu sangat berbahaya bagi tegaknya martabat Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Padahal, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dapat dipisahkan dari tujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Sebab itu, pelaksanaan

pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dilakukan tanpa pemihakan yang jelas terhadap penguatan ekonomi rakyat.Tetapi alih-alih berusaha membangun dan memperkuat ekonomi rakyat, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka berdebat mengenai makna kata ”rakyat”. Dengan sikap seperti itu, mudah dimengerti bila kebanyakan ekonom Indonesia juga mengalami kesulitan dalam memahami makna kata ”merdeka”.

Menyimak ketiga kelemahan tersebut, dapat disaksikan betapa buku Ekspose Ekonomika telah menghunjam langsung ke jantung permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Kekurangan buku Ekspose Ekonomika, terletak pada tidak adanya penjelasan mengenai penyebab keterpurukan para ekonom Indonesia itu. Artinya, secara struktural, faktor apakah yang memicu terjadinya kelengahan akademis-kultural para ekonom Indonesia tersebut?

Tetapi persis pada titik itulah buku Ekonomi Terjajah (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), yang terbit sepekan setelah kepergian Mubyarto, muncul memberi jawaban. Dalam buku yang dipersiapkannya untuk menyongsong hari kelahiran Pancasila tersebut, Mubyarto secara gamblang memaparkan kelengahan pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia dalam era Orde Baru.

Dalam ungkapan Mubyarto, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru, walaupun ditandai oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi, ternyata sama sekali gagal dalam mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945 untuk mengisi kemerdekaan dengan menegakkan keadilan. Alih-alih mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru justru bermuara pada penjerumusan perekonomian Indonesia ke dalam perangkap neokolonialisme.

Mengutip Perkins, seorang ”preman ekonomi” Amerika yang membuat pengakuan dosa mengenai peranannya dalam menjerumuskan negara-negara sedang berkembang ke dalam perangkap utang, Mubyarto secara jelas menyatakan betapa pelaksanaan pembangunan Orde Baru dijebak oleh corporatocracy untuk lebih mengutamakan kepentingan global empire daripada mengoreksi struktur ekonomi kolonial (hlm 28).

Akibatnya, setelah 63 tahun merdeka, kondisi perekonomian rakyat Indonesia tidak banyak berubah. Bahkan, jika dibandingkan dengan Belanda, secara relatif, PDB per kapita Indonesia cenderung merosot. Pada 1820, PDB per kapita Indonesia terhadap Belanda meliputi 39 persen. Pada 1950 merosot menjadi 15 persen. Pada 1992, setelah 47 merdeka, hanya meningkat sedikit menjadi 16 persen. Apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari kedua buku kecil yang saling melengkapi tersebut? Kesimpulannya jangan-jangan yang terjajah selama ini tidak hanya perekonomian Indonesia, tetapi termasuk di dalamnya para ekonom Indonesia?

EKONOM PENJAJAH

Jika ada ekonom terjajah, tentu ada pula ekonom penjajah. Ekonom terjajah, adalah para ekonom yang sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh kaum penjajah. Karena sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi kaum penjajah, tanpa disadari, kebijakan ekonomi yang mereka kembangkan cenderung mengabdi pada kepentingan ekonomi negeri penjajah.

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan ekonom penjajah? Sepintas lalu, keinginan untuk menelusuri ekonom penjajah ini mungkin terkesan mengada-ada. Bahkan, jika ditanyakan kepada para ekonom terjajah, mereka mungkin dengan sinis akan menyebut sebagai yang kurang pekerjaan atau paranoid.

Dalam menelusuri keberadaan ekonom penjajah ini, setidak-tidaknya ada dua buku yang dapat dijadikan tujuan. Buku pertama ditulis oleh Michael Hudson, berjudul Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of US World Dominance (Pluto Press, London, 2003). Sedangkan buku kedua ditulis oleh John Perkins, berjudul The Confession on An Economic Hit Man (Berret-Koehler Publishers, Inc., San Fransisco, 2004).

Hudson, dalam Super Imperialism, memang tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom, lebih-lebih mengenai para ekonom penjajah. Sesuai dengan judul bukunya, Hudson secara panjang lebar bercerita mengenai asal mula dan pokokpokok dominasi Amerika di dunia.

Secara ringkas, terdapat tiga hal pokok yang dikupas Hudson dalam buku setebal 425 halaman tersebut. Pertama, mengenai kelahiran orde dunia Amerika. Pada bagian ini Hudson bercerita mengenai upaya sistematis yang dilakukan Amerika dalam mempersiapkan dirinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia. Dari sekian tindakan yang dilakukan Amerika, menurut Hudson, yang terpenting di antaranya adalah penyelenggaraan Konferensi Keuangan Internasional di Bretton Woods, New Hampshire, pada 1944.

Kedua, mengenai pelembagaan kerajaan Amerika. Pada bagian ini Hudson pada intinya bercerita mengenai strategi Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia, khususnya melalui pembentukan lembaga keuangan dan perdagangan dunia seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Bab terpenting pada bagian ini, terutama jika dikaitkan dengan buku Perkins, adalah Bab 8, yaitu yang secara khusus membahas peranan utang sebagai instrumen imperialisme.

Dan ketiga, mengenai imperialisme moneter dan standar obligasi Amerika. Bagian ini pada dasarnya merupakan elaborasi dari langkah-langkah taktis yang dilakukan Amerika untuk memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia abad ke-21.

Sebagaimana dikemukakan Hudson di bab terakhir (Bab 15), melalui penataan sistem

moneter dan perdagangan dunia, Amerika pada dasarnya muncul sebagai penguasa dunia dengan cara menciptakan ketergantungan dunia terhadap perekonomian Amerika.Walaupun tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom penjajah, tetapi secara implisit, sulit dibantah bahwa Hudson pada dasarnya bercerita mengenai keberhasilan para diplomat ekonom Amerika dalam memantapkan posisi negara mereka sebagai penguasa ekonomi dunia.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, salah satu instrumen Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasai ekonomi dunia itu adalah penyebaran jerat utang. Penyebaran jerat utang ini, selain dilakukan melalui pelembagaan Bank Dunia dan IMF, ditopang pula oleh beberapa upaya ekstra. Persis pada titik inilah buku Perkins, The Confession of An Economic Hit Man (Pengakuan Dosa Seorang Preman Ekonomi), bercerita mengenai sepak terjang para ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.

Sesuai dengan judulnya, buku Perkins berisi pengakuan dosa dari seseorang yang selama sekitar sepuluh tahun (1971-1981) bekerja sebagai preman ekonomi atau ekonom penjajah. Berangkat dari pengakuan Perkins, yang secara kebetulan mendapat penugasan pertama di Indonesaia, terdapat tiga catatan penting yang menarik untuk diangkat ke permukaan mengenai keberadaan ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.

Pertama, ekonom penjajah bekerja di bawah koordinasi Badan Keamanan Nasional (The National Security Agency – NSA)). Walaupun secara resmi para ekonom penjajah direkrut, dilatih, dan bekerja di bawah koordinasi NSA, tetapi secara operasional mereka pada umumnya dipekerjakan secara terselubung melalui perusahaan-perusahaan swasta Amerika. Perkins antara lain menyebut perusahaan-perusahaan seperti Monsanto, General Electric, Nike, General Motors, dan Wal-Mart, sebagai beberapa contoh.

Kedua, misi para ekonom penjajah adalah memperoleh komitmen para pejabat negaranegara Dunia Ketiga untuk berbelanja secara kredit ke Amerika. Dalam menjalankan misinya ini, seorang ekonom penjajah diperkenankan melakukan apa pun, termasuk cara-cara ilegal. Target para ekonom penjajah adalah mendorong para pejabat negaranegara Dunia Ketiga untuk terus membuat utang sampai mereka tidak mampu membayarnya.

Ketiga, kegagalan para ekonom penjajah di suatu negara bukanlah akhir dari upaya Pemerintah Amerika dalam mewujudkan impiannya. Menurut Perkins, dua hal dapat terjadi menyusul kegagalan para ekonom penjajah. Pertama, beroperasinya para jagal (the Jackals), yaitu yang ditandainya oleh terjadinya berbagai peristiwa yang mengarah pada pembinasaan seorang pejabat negara Dunia Ketiga. Dan kedua, penaklukan negara Dunia Ketiga yang bersangkutan melalui operasi militer.

Dari ulasan singkat mengenai buku Hudson dan Perkins tersebut, saya kira kita tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengakui keberadaan para ekonom penjajah dalam perekonomian dunia. Kedua buku tersebut secara jelas mengungkapkan mustahil ada penjajahan ekonomi tanpa keterlibatan para ekonom penjajah di dalamnya.

Pertanyaannya, jika sebagai seorang ekonom penjajah Perkins akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku untuk mengakui dosa-dosa yang pernah dibuatnya, kapan kira-kira kita dapat membaca buku sejenis yang ditulis oleh seorang ekonom terjajah?

21 Agustus, 2008

Kasus Al Manar Bukti Kemunafikan AS

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 01:08:17
Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI, Abdillah Toha, menegaskan, kasus televisi Al Manar menjadi bukti kemunafikan Amerika Serikat

ImageKetua Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI, Abdillah Toha, menegaskan, kasus televisi Al Manar menjadi bukti kemunafikan Pemerintah Amerika Serikat yang mempraktikkan demokrasi di dalam negeri, tetapi otoriter dalam kebijakan luar negerinya.

Hal itu dikemukakan Abdillah Toha dikutip Antara, Rabu malam, ketika mengomentari permintaan Amerika Serikat (AS) yang meminta PT Indosat Tbk agar memutus kontrak sewa transponder televisi Al Manar.

Permintaan AS itu berkaitan dengan dugaan pihak intelijen tentang keterlibatan stasiun televisi Al Manar milik Hizbullah di Lebanon yang mendukung jaringan teroris.

Selama ini Al Manar menggunakan jasa Satelit Palapa C2 milik Indosat, yang berkedudukan di Indonesia.

“Kalau Indosat mengikuti kemauan AS itu ada dua konsekuensi yang terjadi,” kata Abdillah Toha.

Pertama, menurutnya, Al Manar akan menggugat di Pengadilan karena memutuskan kontrak tanpa alasan.

Kedua, Indosat akan menghadapi protes dan gugatan masyarakat Indonesia sendiri, terutama dari kalangan muslim, karena mengikuti tekanan AS.

“Hal ini sekali lagi membuktikan kemunafikan Pemerintah AS yang mempraktikkan demokrasi di dalam negeri, tetapi sangat otoriter dalam kebijakan luar negerinya,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, ini merupakan sebuah bukti lagi, politik luar negeri AS dikendalikan oleh lobi Israel di sana.

Al Manar ini adalah media perjuangan melawan penindasan Israel, dan Hizbullah yang dikategorikan sebagai teroris oleh Pemerintah AS adalah para pejuang kemerdekaan, sama dengan para pejuang kita dahulu yang dikategorikan ekstremis oleh penjajah Belanda,” tegas Abdillah Toha.

AS Jangan Paranoid

Sebelumnya, secara terpisah Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Bulan Bintang, Yusron Ihza Mahendra, mengingatkan Amerika Serikat agar tak perlu lagi paranoid dan curiga terhadap Indonesia serta dunia Islam.

“Saya juga mohon AS tidak bias menilai bahwa Islam sama dengan teroris,” tandasnya.

Selanjutnya, ia meminta AS agar tidak menjadi penghambat kebebasan informasi sebagai salah satu bagian strategis dalam kehidupan berdemokrasi yang baik.

“Kita diharapkan berdemokrasi dan itu kita jalankan, termasuk juga dalam hal keterbukaan informasi. Karenanya, saya juga inginkan masyarakat kita mendapat informasi bukan secara sepihak dan bukan dari sumber terbatas,” tandas Yusron Ihza Mahendra lagi.

Dalam pandangannya, masyarakat harus diberi kebebasan memperoleh informasi secara transparan.

“Saya juga yakin masyarakat kita cukup dewasa menilai informasi. Karenanya berikan saja kebebasan kepada mereka untuk memperoleh informasi dan biarkan transparan,” katanya lagi.

19 Agustus, 2008

Iran… Luar Biasa !!

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 07:08:58

Jika tidak ada aral melintang,  Republik Iran, akan segera meluncurkan satelit pertama buatan sendiri ke luar angkasa. Iran makin mandiri!
Kabar ini disampaikan oleh Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad baru-baru ini.  Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita IRNA, Ahmadinejad Jumat malam di hadapan para elit intelektual Iran yang bermukim di Turki menyatakan bahwa Iran akan meluncurkan setelit pertama buatan dalam negeri ke luar angkasa sekitar akhir pekan depan. Dikatakannya pula, Tehran juga akan meluncurkan roket dan pelontar ke luar angkasa.Seraya menyinggung bahwa pemboikotan Iran selama 28 tahun oleh AS justru menghasilkan kejutan-kejutan ilmiah di negeri ini, Presiden Ahmadinejad mengatakan, “Tahun lalu, tercatat lebih dari tujuh ribu penemuan dipatenkan di Iran.” Dikatakannya pula, “Rakyat Iran bukan tipe bangsa yang mudah menyerah. Terkait tekonologi nuklir, bangsa ini terus mempertahankan seluruh hak mereka.”

Lebih lanjut Ahmadinejad menuturkan, “Kini, AS menyadari bahwa Iran tidak dapat dikucilkan. AS sendirilah yang semakin terkucil. Para pejabat tinggi negeri ini selalu mendapat pengawalan ekstra ketat dalam kunjungan ke berbagai negara. Sebaliknya, para pejabat Iran dalam kunjungannya ke berbagai negara disambut baik oleh masyarakat setempat. Sebab, mereka mencintai Republik Iran.” Setelah kunjungan resmi selama dua hari, Ahmadinejad, Sabtu pagi, bertolak kembali ke Tehran.

9 Agustus, 2008

Sukarnah, Mantan Atlet Indonesia Bekelamin Ganda

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 12:08:30
Siapa sangka Sukarnah, atlet Indonesia yang pernah merebut medali perunggu dalam cabang lempar lembing putri di Asian Games ke-3 di Tokyo, tahun 1958, kini hidup merana sebagai buruh tani musiman di desanya, di Cisaga, Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

Lebih mengejutkan lagi, atlet putri yang mengharumkan nama Indonesia di dunia itu sekarang sudah berganti kelamin menjadi seorang pria bernama Iwan Setiawan. “Waktu itu saya satu-satunya atlet Indonesia yang membawa pulang medali,” ujar Iwan yang kini berusia 67 tahun, ketika tampil di Kick Andy.

 

Bagaimana penghargaan pemerintahan Bung Karno waktu itu terhadap prestasi Sukarnah? “Pada saat menerima tim atlet Indonesia, Bung Karno menepuk pundak saya dan mengatakan saya sudah berjasa bagi bangsa dan Negara,” ujarnya. Pujian dari kepala Negara itu sudah cukup berarti bagi Sukarnah. “Saya bangga sekali waktu itu. Saya tidak mikir untuk mendapatkan penghargaan macam-macam. Saya membela Indonesia dengan semangat nasionalisme,” dia menegaskan.

 

Kalaupun ada penghargaan sejumlah uang dari pemerintah dan pengusaha, oleh Sukarnah digunakan untuk menyelesaikan kuliahnya di IKIP Bandung. Suhanah atau Iwan mengaku memang pernah dijanjikan akan diberi rumah. Tapi sampai sekarang janji itu tidak pernah terwujud. Lalu bagaimana ceritanya sampai Sukarnah berubah menjadi Iwan? “Waktu itu saya mimpi bertemu Bung Karno”. Sejak itu terjadi perubahan fisik pada dirinya. Dari seorang wanita menjadi pria yang normal.
Ketika ditanya apakah ada kemungkinan waktu itu sebenarnya dia sebenarnya laki-laki yang menyamar menjadi atlet putri?, Iwan nyangkal. Waktu itu saya perempuan tulen. Sebelum melakukan pertandingan semua atlet dites dulu,” ujarnya. “Perubahan kelamin terjadi beberapa tahun kemudian,” ujar suami dari Puji Astuti yang kini menjadi ayah seorang anak ini dengan meyakinkan.

Bagi Iwan Setiawan, perubahan fisik dan psikologis yang dialaminya merupakan sebuah keajaiban. Iwan yang juga bekas seorang atlet lempar lembing perempuan nasional bernama Sukarnah, mengaku dulunya benar-benar seorang perempuan, yang terbukti dengan dua kali pernikahannya dengan laki-laki. Tak terlalu mempersoalkan perubahan fisik dan psikisnya, karena menganggapnya sebagai kehendak Tuhan.

Namun bagi Profesor dokter Sultana, Ketua Tim Penyesuaian Kelamin, hal itu dianggapnya sebagai kasus langka dari penyakit kelamin ganda, di mana perubahan bisa terjadi dengan sendirinya, baik secara fisik maupun psikis. Dan jika perlu dan mau, memang harus dibuktikan dengan uji DNA dulu, karena secara medis, DNA tak akan pernah berubah sepanjang masa.

Cerita tentang Sukarnah atau Iwan Setiawan ini hanya sebagian dari cerita duka para atlet Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia yang kemudian di masa tua mereka harus hidup menderita secara material karena kurangnya penghargaan dari pemerintah.

“Indonesia Sudah Maju, Sudah Pakai Bikini”

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 07:08:00

ImageDalam jumpa pers di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, Selasa (5/8)Putri Raemawasti peserta ajang Miss Universe 2008 merasa tidak bersalah. Ia tidak menyangka bahwa keputusannya untuk memakai bikini mengundang kecaman dari dalam negeri.

Menurutnya, apa yang ia lakukan itu tidak menjatuhkan mertabat, justru malah menjunjung martabat bangsa ini. Katanya,”Masalah two pieces itu tidak menjatuhkan martabat Indonesia, malah finalis-finalis lainnya bangga. Mereka bilang Indonesia sudah maju ya, sudah pakai bikini.”

“Memang di Indonesia sudah dibilang untuk pakai one piece, bukan two pieces, tapi adrenaline saya terpacu karena saya berada di medan persaingan. Saya ingin memberikan yang terbaik,” Ungkap mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini.

Sebagaimana diketahui bahwa kontes “pamer aurat” tahunan ini, seringkali menimbulkan polemik di kalangan masyarakat Indonesia, yang mayoritas beragama Islam. Namun dalam soal kasus seperti ini, pemerintahan Soeharto jauh lebih tegas, sebagaimana tercermin dalam Keputusan Pemerintah yang dikeluarkan Mendikbud no 237/U/84 khususnya pasal 4 dan 6.

Bagaimana menurut sahabat ?

Center for Disease Control and Prevention AS mengatakan, seperempat remaja wanita AS terjangkit penyakit kelamin. Akibat budaya bebas?

Diarsipkan di bawah: Perspektif — jundul @ 06:08:51

Center for Disease Control and Prevention  AS mengatakan, seperempat remaja wanita AS terjangkit penyakit kelamin. Akibat budaya bebas?

Center for Disease Control and Prevention (Pusat Penanggulangan Penyakit dan Pencegahannya) atau CDC, sebuah organisasi yang berada di bawah Departemena Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan Amerika mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu (12/3) kemarin, bahwa lebih dari satu dari setiap empat remaja wanita Amerika terjangkit penyakit menular seksual.

Dalam pernyataan yang disebarkan kepada masyarakat Chicago itu, CDC menyebutkan bahwa  3,2 juta remaja Amerika yang berumur 14-19 tahun, terjangkit penyakit menular seksual, dan angka tersebut secara prosentase telah mencakup 26% dari jumlah total remaja perempuan di usia tersebut.

Dr. Sarah Forhan dari CDC mengatakan dalam jumpa pers,”Kita belum pernah menghadapi kekhawatiran seperti ini. Artinya, banyak sekali remaja wanita yang a kan menghadapi bahaya penyakit seks menular”.

Organisasi yang berpusat di Atlanta tersebut juga menyatakan bahwa penyakit seks yang menjangkiti remaja wanita bisa jadi lebih besar, karena hasil penelitian ini belum mencakup penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV.

Sebagaimana diketahui, bahwa remaja Amerika amat akrab dengan budaya pergaulan bebas, dimana pergaulan terhadap lawan jenis tidak memiliki batas yang jelas. Dan negara pun mendukung budaya itu, sehingga tidak ada hak bagi orang tua untuk melarang aktivitas kebebasan anak-anak mereka. Budaya ini memiliki andil yang cukup besar dalam penularan penyakit seksual di negara.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.