Ada dua buku kecil yang sangat menarik mengenai pemikiran ekonomi dan perekonomian Indonesia. Buku pertama, ditulis oleh Sri Edi Swasono, berjudul Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas. Sedangkan buku kedua, ditulis oleh Mubyarto (almarhum), berjudul Ekonomi Terjajah.
Buku Ekspose Ekonomika (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), berisi gugatan terhadap kompetensi para ekonom Indonesia. Sebagaimana dikupas secara panjang lebar dalam buku ini, setidak-tidaknya terdapat tiga alasan pokok mengapa kompetensi para ekonom Indonesia perlu digugat.
Pertama, para ekonom Indonesia disinyalir telah terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik. Keterkungkungan terhadap ajaran ekonomi neoklasik yang bersifat liberalkapitalistik dan individualistik itu, tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan cita-cita proklamasi, ideologi negara, dan masa depan perekonomian Indonesia.
Sesuai dengan cita-cita proklamasi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun sebagai koreksi terhadap struktur perekonomian kolonial. Dalam bahasa konstitusi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun berdasarkan demokrasi ekonomi, yaitu dengan meletakkan kemakmuran bersama di atas kemakmuran orang seorang.
Tetapi para ekonom Indonesia, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik, kehilangan kepekaan dan kemampuan mereka untuk melakukan koreksi. Alih-alih melakukan koreksi, mereka justru cenderung menjadi kaki tangan neokolonialisme untuk melestarikan struktur ekonomi kolonial di negeri mereka sendiri.
Kedua, para ekonom Indonesia diduga terlalu terpesona oleh globalisasi. Keterpesonaan yang berlebihan terhadap globalisasi itu tentu sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian rakyat, ketahanan ekonomi nasional, dan bahkan bagi keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat, bangsa Indonesia sangat mendukung pergaulan dunia. Tetapi sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menentang segala bentuk penjajahan, setiap warga negara Indonesia, termasuk para ekonom, seharusnya dengan sadar membangun sikap kritis dalam memandang globalisasi.
Tetapi alih-alih bersikap kritis, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka menutup mata dan mata hati mereka terhadap bahaya neoimperialisme tersebut. Bahkan, ”karya Nobel Laureate seperti Stiglitz pun, yang secara khusus menguraikan mengenai globalisation and its discontents secara panjang lebar, tidak menyentak para pengagum globalisasi dari kelengahan akademnis-kulturalnya ini” (hlm 119).
Ketiga, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik dan terpesona oleh globalisasi, para ekonom Indonesia juga diduga telah kehilangan kepekaan mereka terhadap makna kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ketidakmampuan para ekonom Indonesia dalam memahami makna kedua hal tersebut, tentu sangat berbahaya bagi tegaknya martabat Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Padahal, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dapat dipisahkan dari tujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Sebab itu, pelaksanaan
pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dilakukan tanpa pemihakan yang jelas terhadap penguatan ekonomi rakyat.Tetapi alih-alih berusaha membangun dan memperkuat ekonomi rakyat, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka berdebat mengenai makna kata ”rakyat”. Dengan sikap seperti itu, mudah dimengerti bila kebanyakan ekonom Indonesia juga mengalami kesulitan dalam memahami makna kata ”merdeka”.
Menyimak ketiga kelemahan tersebut, dapat disaksikan betapa buku Ekspose Ekonomika telah menghunjam langsung ke jantung permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Kekurangan buku Ekspose Ekonomika, terletak pada tidak adanya penjelasan mengenai penyebab keterpurukan para ekonom Indonesia itu. Artinya, secara struktural, faktor apakah yang memicu terjadinya kelengahan akademis-kultural para ekonom Indonesia tersebut?
Tetapi persis pada titik itulah buku Ekonomi Terjajah (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), yang terbit sepekan setelah kepergian Mubyarto, muncul memberi jawaban. Dalam buku yang dipersiapkannya untuk menyongsong hari kelahiran Pancasila tersebut, Mubyarto secara gamblang memaparkan kelengahan pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia dalam era Orde Baru.
Dalam ungkapan Mubyarto, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru, walaupun ditandai oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi, ternyata sama sekali gagal dalam mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945 untuk mengisi kemerdekaan dengan menegakkan keadilan. Alih-alih mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru justru bermuara pada penjerumusan perekonomian Indonesia ke dalam perangkap neokolonialisme.
Mengutip Perkins, seorang ”preman ekonomi” Amerika yang membuat pengakuan dosa mengenai peranannya dalam menjerumuskan negara-negara sedang berkembang ke dalam perangkap utang, Mubyarto secara jelas menyatakan betapa pelaksanaan pembangunan Orde Baru dijebak oleh corporatocracy untuk lebih mengutamakan kepentingan global empire daripada mengoreksi struktur ekonomi kolonial (hlm 28).
Akibatnya, setelah 63 tahun merdeka, kondisi perekonomian rakyat Indonesia tidak banyak berubah. Bahkan, jika dibandingkan dengan Belanda, secara relatif, PDB per kapita Indonesia cenderung merosot. Pada 1820, PDB per kapita Indonesia terhadap Belanda meliputi 39 persen. Pada 1950 merosot menjadi 15 persen. Pada 1992, setelah 47 merdeka, hanya meningkat sedikit menjadi 16 persen. Apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari kedua buku kecil yang saling melengkapi tersebut? Kesimpulannya jangan-jangan yang terjajah selama ini tidak hanya perekonomian Indonesia, tetapi termasuk di dalamnya para ekonom Indonesia?
EKONOM PENJAJAH
Jika ada ekonom terjajah, tentu ada pula ekonom penjajah. Ekonom terjajah, adalah para ekonom yang sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh kaum penjajah. Karena sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi kaum penjajah, tanpa disadari, kebijakan ekonomi yang mereka kembangkan cenderung mengabdi pada kepentingan ekonomi negeri penjajah.
Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan ekonom penjajah? Sepintas lalu, keinginan untuk menelusuri ekonom penjajah ini mungkin terkesan mengada-ada. Bahkan, jika ditanyakan kepada para ekonom terjajah, mereka mungkin dengan sinis akan menyebut sebagai yang kurang pekerjaan atau paranoid.
Dalam menelusuri keberadaan ekonom penjajah ini, setidak-tidaknya ada dua buku yang dapat dijadikan tujuan. Buku pertama ditulis oleh Michael Hudson, berjudul Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of US World Dominance (Pluto Press, London, 2003). Sedangkan buku kedua ditulis oleh John Perkins, berjudul The Confession on An Economic Hit Man (Berret-Koehler Publishers, Inc., San Fransisco, 2004).
Hudson, dalam Super Imperialism, memang tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom, lebih-lebih mengenai para ekonom penjajah. Sesuai dengan judul bukunya, Hudson secara panjang lebar bercerita mengenai asal mula dan pokokpokok dominasi Amerika di dunia.
Secara ringkas, terdapat tiga hal pokok yang dikupas Hudson dalam buku setebal 425 halaman tersebut. Pertama, mengenai kelahiran orde dunia Amerika. Pada bagian ini Hudson bercerita mengenai upaya sistematis yang dilakukan Amerika dalam mempersiapkan dirinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia. Dari sekian tindakan yang dilakukan Amerika, menurut Hudson, yang terpenting di antaranya adalah penyelenggaraan Konferensi Keuangan Internasional di Bretton Woods, New Hampshire, pada 1944.
Kedua, mengenai pelembagaan kerajaan Amerika. Pada bagian ini Hudson pada intinya bercerita mengenai strategi Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia, khususnya melalui pembentukan lembaga keuangan dan perdagangan dunia seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Bab terpenting pada bagian ini, terutama jika dikaitkan dengan buku Perkins, adalah Bab 8, yaitu yang secara khusus membahas peranan utang sebagai instrumen imperialisme.
Dan ketiga, mengenai imperialisme moneter dan standar obligasi Amerika. Bagian ini pada dasarnya merupakan elaborasi dari langkah-langkah taktis yang dilakukan Amerika untuk memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia abad ke-21.
Sebagaimana dikemukakan Hudson di bab terakhir (Bab 15), melalui penataan sistem
moneter dan perdagangan dunia, Amerika pada dasarnya muncul sebagai penguasa dunia dengan cara menciptakan ketergantungan dunia terhadap perekonomian Amerika.Walaupun tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom penjajah, tetapi secara implisit, sulit dibantah bahwa Hudson pada dasarnya bercerita mengenai keberhasilan para diplomat ekonom Amerika dalam memantapkan posisi negara mereka sebagai penguasa ekonomi dunia.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, salah satu instrumen Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasai ekonomi dunia itu adalah penyebaran jerat utang. Penyebaran jerat utang ini, selain dilakukan melalui pelembagaan Bank Dunia dan IMF, ditopang pula oleh beberapa upaya ekstra. Persis pada titik inilah buku Perkins, The Confession of An Economic Hit Man (Pengakuan Dosa Seorang Preman Ekonomi), bercerita mengenai sepak terjang para ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.
Sesuai dengan judulnya, buku Perkins berisi pengakuan dosa dari seseorang yang selama sekitar sepuluh tahun (1971-1981) bekerja sebagai preman ekonomi atau ekonom penjajah. Berangkat dari pengakuan Perkins, yang secara kebetulan mendapat penugasan pertama di Indonesaia, terdapat tiga catatan penting yang menarik untuk diangkat ke permukaan mengenai keberadaan ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.
Pertama, ekonom penjajah bekerja di bawah koordinasi Badan Keamanan Nasional (The National Security Agency – NSA)). Walaupun secara resmi para ekonom penjajah direkrut, dilatih, dan bekerja di bawah koordinasi NSA, tetapi secara operasional mereka pada umumnya dipekerjakan secara terselubung melalui perusahaan-perusahaan swasta Amerika. Perkins antara lain menyebut perusahaan-perusahaan seperti Monsanto, General Electric, Nike, General Motors, dan Wal-Mart, sebagai beberapa contoh.
Kedua, misi para ekonom penjajah adalah memperoleh komitmen para pejabat negaranegara Dunia Ketiga untuk berbelanja secara kredit ke Amerika. Dalam menjalankan misinya ini, seorang ekonom penjajah diperkenankan melakukan apa pun, termasuk cara-cara ilegal. Target para ekonom penjajah adalah mendorong para pejabat negaranegara Dunia Ketiga untuk terus membuat utang sampai mereka tidak mampu membayarnya.
Ketiga, kegagalan para ekonom penjajah di suatu negara bukanlah akhir dari upaya Pemerintah Amerika dalam mewujudkan impiannya. Menurut Perkins, dua hal dapat terjadi menyusul kegagalan para ekonom penjajah. Pertama, beroperasinya para jagal (the Jackals), yaitu yang ditandainya oleh terjadinya berbagai peristiwa yang mengarah pada pembinasaan seorang pejabat negara Dunia Ketiga. Dan kedua, penaklukan negara Dunia Ketiga yang bersangkutan melalui operasi militer.
Dari ulasan singkat mengenai buku Hudson dan Perkins tersebut, saya kira kita tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengakui keberadaan para ekonom penjajah dalam perekonomian dunia. Kedua buku tersebut secara jelas mengungkapkan mustahil ada penjajahan ekonomi tanpa keterlibatan para ekonom penjajah di dalamnya.
Pertanyaannya, jika sebagai seorang ekonom penjajah Perkins akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku untuk mengakui dosa-dosa yang pernah dibuatnya, kapan kira-kira kita dapat membaca buku sejenis yang ditulis oleh seorang ekonom terjajah?