Putra Jati Melayu

20 November, 2008

Anak Bangsa yang Menemukan Bakteri Kromosom Ganda

Diarsipkan di bawah: Prestasi Anak Bangsa — jundul @ 01:11:02

Berpotensi Produksi Herbisida Alami dan Pemacu Pertumbuhan

Salah seorang Biolog dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan juga merupakan anak bangsa yang potensial, yaitu Dr. Antonius Suwanto mendapatkan penghargaan Cipta Lestari Kehati dari Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati) dengan melakukan penelitian tentang potensi keragaman hayati mikroba di Indonesia, khususnya ekstremofil atau mikro-organisme yang hidup di habitat ekstrem pada tanggal 8 Maret lalu. Salah satu tempat penelitiannya yaitu di Beldug Kuwu di Grobogan, Jawa Tengah. Beliau mendapatkan tropi Kehati dan sejumlah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Sebelum itu, beliau juga mendapatkan sebuah penghargaan sebagai salah satu dari dua pemenang Hadiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Toray yang ke-7 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk penelitiannya tentang genetika molekuler bakteri Rhodobacter sphaeroides. Suwanto dianugerahi hadiah uang Rp 40 juta.

Saya tidak pernah tahu kalau ada kompetisi untuk kedua hadiah tadi. Untuk Kehati Award, saya diberi tahu oleh Dr Pratiwi Sudarmono karena saya anggota Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia. Sedang untuk Toray Award, saya diminta oleh Rektor IPB untuk ikut,” beliau berkata.

Rhodobacter sphaeroides adalah sejenis bakteri fotosintetik anoksigenik yang banyak ditemukan di lahan persawahan. Bakteri ini mampu mengikat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi amoniak, sehingga sawah menjadi subur karena bakteri ini secara alami dapat memupuk sawah. Sebaliknya, bakteri ini akan menjadi tidak aktif apabila manusia melakukan pemberian pupuk buatan yang mengandung unsur nitrogen.

Rhodobacter sphaeroides dapat berkembang biak secara aerobik atau anaerobik, misalnya suatu ekosistem yang mempunyai cahaya ataupun tidak bercahaya atau gelap. R sphaeroides dan bakteri kerabatnya adalah salah satu contoh sistem model yang sangat baik untuk dapat mempelajari fenomena yang terjadi di biologi dan biofisika yang kompleks dan keragaman metabolisme kelompok bakteri ini amat luar biasa. Keragaman metabolisme dari bakteri ini juga dapat memberikan sebuah potensi yang baik dalam implementasinya di dalam bidang pertanian, industri dan lingkungan. Penambatan karbon dioksida dan nitrogen, produksi hidrogen, produksi plastik biologis, detoksifikasi logam berat, dan produksi enzim-enzim komersial adalah beberapa contoh hasil potensi yang merupakan penelitian dengan menggunakan bakteri fotosintetik seperti R sphaeroides.”, menurut Dr. Suwanto.>

19 Agustus, 2008

Batik Fractial, Revolusi Batik Dari Anak Bangsa

Diarsipkan di bawah: Prestasi Anak Bangsa — jundul @ 11:08:15

PELAN tapi pasti, batik fractal terus melaju untuk mengangkat kekuatan batik sebagai warisan Indonesia yang pantas diabadikan. Penerapan teori fractal untuk mengembangkan software batik ini mendapat apresiasi sebagai pemenang Indonesia ICT Award 2008 untuk kategori e-tourism and e-culture yang diumumkan Jumat (8/8).

Software buatan sekelompok anak muda dari Bandung yang menamakan dirinya Pixel People Project itu diberi nama jBatik. Dengan software tersebut, ribuan motif batik dapat dibuat dalam sekejap dengan pola dasar yang sama dengan batik-batik khas Indonesia.

Hal tersebut dapat dilakukan karena mereka telah menerjemahkan berbagai motif batik nusantara ke dalam rumus matematika fractal. Ide tersebut muncul saat mereka menyadari bahwa desain batik pada dasarnya hasil perulangan bentuk tertentu yang sesuai dengan teori fractal dalam matematika.   

“Ide ini tercetus secara tidak sengaja. Waktu itu saya meminta teman saya menggambar bunga dengan menggunakan rumus matematika fractal. Setelah jadi, saya pikir kok mirip sekali hasilnya dengan motif batik,” tutur Nancy Margried, salah satu pendiri Pixel People Project. Kemudian, ia meminta rekannya mencontoh motif batik umum dan menggambarnya dengan cara fractal.

“Hasilnya seperti batik, tapi kesannya memang lebih kontemporer,” katanya. Nancy yang lulusan Unpad pun memutuskan untuk meneliti lebih jauh mengenai batik dari sudut pandang matematika bersama lulusan Matematika ITB, Yun Hariadi, Muhammad Lukman, dan Dani Ramdani S.Kom. Pengembangan ide batik fraktal diteruskan dengan pengembangan software dibantu Kementrian Riset dan Teknologi melalui IGOS Center Bandung bersama Ir. Eko Mursito Budi MT.

Cara Membuat

Sebelum membuat batik, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengukur DNA batik tersebut. Mereka mengukur keteraturan motif dan ciri khas batik dengan menggunakan alat yang disebut Dimensi Fractal. Hasil pengukuran tersebut selanjutnya disebut DNA batik.  

“Ambil contoh motif parang rusak dari Yogyakarta. Pertama-tama, motif batik tersebut ditransformasikan dalam rumus matematika fractal dengan bahasa L System. Rumus tersebut kemudian dimodifikasi dengan mengubah parameter-parameternya sehingga menghasilkan rumus yang lebih kompleks dan rumit,” jelas Nancy. Selanjutnya, rumus tersebut diolah dengan program jBatik, sebuah aplikasi yang dibangun dengan basis open source software.

Rumus ini akan menghasilkan gambar motif batik yang berbeda dari motif asli. Desainer dapat terus mengubah parameter rumusnya sehingga gambar yang dihasilkan sesuai dengan estetika desainer. Setelah desainer mendapatkan motif yang diharapkan, motif tersebut kemudian diberikan kepada pembatik tradisional untuk dicanting di atas kain.

Menurut Nancy, proses pembatikan masih menggunakan proses tradisional, yaitu dengan cap atau canting, dan menggunakan malam (semacam tinta untuk menulis batik) serta proses pewarnaan dengan pencelupan sehingga kualitas dan nilainya tak kalah dengan batik tradisional.  

Ia mengatakan setiap batik di Indonesia memiliki ciri khasnya sendiri. Ia mencontohkan batik Pekalongan.

Lalu, bagaimana motif batik Solo dan Yogyakarta? Motif batik Solo dan Yogya mencederung teratur dan menoton. Hal ini melambangkan keteraturan yang bersumber dari wilayah keraton, tuturnya. Motif batik pesisir daerah pesisir menurutnya lebih bebas. Namun, motif batik Madura cukup teratur.   

Hingga Milan

Salah seorang anggota Pixel Project, Lucky, mengikuti 10th Generative Art International Conference yang diselenggarakan oleh Politecnico Air di Milano, Desember 2007 lalu. Pengunjung dan peserta konferensi tersebut adalah seniman komputasi, desainer, arsitek, ilmuan matematika, dan lainnya.  

“Respon peserta di sana cukup baik. Dengan keberangkatan kami ke Milan, Indonesia sudah masuk dalam pemetaan perkembangan seni, sains dan teknologi terkini di dunia internasional,” tutur Nancy.  

Sedangkan di dalam negeri, Nancy mengakui, respon yang diperolehnya sangat beragam, mulai dari yang positif sampai negatif. “Tetapi perbedaan ini membuat kami tambah semangat untuk menciptakan karya baru dan mengeksplorasi potensi batik,” tuturnya.  

“Harga batik fraktal berkisar dari Rp. 500.000 Rp. 2.000.000 per potong. Semuanya tergantung desain dan bahan. Sampai saat ini, kami belum membuat desain terumit karena biaya pembuatan yang sangat mahal,” akunya. Itu juga karena mereka melayani pemesanan batik satu persatu. Salah satu pelanggan setianya adalah Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. 

Saat ini, Pixel Project telah menghasilkan 15 desain utama yang dapat dikembangkan menjadi ribuan varian desain. Ke depan, motif batik apapun dapat dibuat rumus matematikanya ibarat kode DNA. Dengan bantuan teknologi, metode batik fractal tak hanya mewariskan seni dan fisik batik, melainkan ibarat mewariskan “:ruh” batik itu sendiri.

30 Juli, 2008

Tim Antarmuka ITB Akan Dikirim ke Bangalore

Diarsipkan di bawah: Prestasi Anak Bangsa — jundul @ 01:07:22

Setelah memenangi Rural Innovation Award dalam Imagine Cup 2008, Tim Antarmuka yang terdiri dari 4 mahasiswa ITB akan dikirim ke Bangalore, India. Tepatnya di Microsoft Research Center. Demikian dikatakan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Tony Chen saat menghadiri presentasi Butterfly sistem oleh Tim Antarmuka di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta, Senin (28/7).

“Tim ini akan mendapatkan kesempatan belajar lebih lanjut di Microsoft Research Center yang ada di Bangalore, India. Microsoft Research Center ini research center kelas dunia. Bisa tampil di situ pasti merupakan sebuah pencapaian tersendiri,” kata Tony.

Dia menambahkan, keempat mahasiswa tersebut adalah Ella Mandella, Arief Widhiyasa, Dimas Yusuf Danurwenda, dan Erga Ghaniya yang diharapkan bisa belajar lebih banyak untuk mengembangkan diri dan kemampuan mereka. 

Sementara itu, Ella dan Erga bersyukur atas kesempatan belajar yang mereka dapatkan. Kapan mereka akan berangkat? “Kami disuruh milih, bebas mau kapan berangkatnya. Jadi, kami sekarang lagi menyelesaikan kuliah dulu. Targetnya bulan Juli tahun 2009 kuliah selesai, Agustusnya kami berangkat ke India,” kata Ella. 

Rencananya, mereka akan berada di Bangalore selama 4 bulan. Selama di India, mereka dapat melakukan riset teknologi untuk membantu perkembangan masyarakat rural. [sumber : kompas tekno]

28 Juli, 2008

Tim Matematika Indonesia Raih Emas Di Spanyol

Diarsipkan di bawah: Prestasi Anak Bangsa — jundul @ 06:07:52

Tim Olimpiade Matematika Indonesia ke ajang olimpiade dunia di Madrid, Spanyol pada 10-22 Juli 2008 lalu berhasil meraih satu medali emas, lima perak dan tiga perunggu serta dua gelar honorable mention.

Indonesia mengirim enam siswa ke International Mathematical Olympiad (IMO) ke-49 yang diselenggarakan di Madrid, Spanyol.

Sebelumnya, Pembina tim IMO Indonesia Yudi Satriya menargetkan semua anggota tim mendapatkan medali yakni, satu medali perak dan lima medali perunggu.

Tim IMO Indonesia terdiri atas Aldrian Obaja, siswa SMAK 1 BPK Penabur, Bandung, Provinsi Jawa Barat; Andreas Dwi Maryanto G, siswa SMAK Kolese Santo Yusup Malang, Provinsi Jawa Timur; Satria Stanza Pramayoga, siswa SMAN 1 Trenggalek, Provinsi Jawa Timur; Joseph Andreas, siswa SMAK 1 BPK Penabur, Provinsi DKI Jakarta; Fahmi Fuady, siswa SMA Pribadi Bandung, Provinsi Jawa Barat; dan Sa’aadah Sajjana Carita, siswa SMA Semesta Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, Tim Olimpiade Biologi Indonesia berhasil mendapat dua medali perak dalam Olimpiade tiga Biologi Internasional ke-19 di Mumbai, India 13 -20 Juli 2008. Kompetisi ini diikuti oleh 55 negara dengan 220 siswa yang menjadi pesertanya.

“Secara keseluruhan, hasil tersebut cukup mengejutkan sekaligus menggembirkan. Bagi tim biologi ini adalah kali pertamanya mengikuti event International Biology Olympiad (IBO) dan lomba internasional,” ujar Direktur Pendidikan SMA Depdiknas Sungkowo Mujiamanu, di Jakarta, Rabu (23/7).

[sumber : www.mediaindonesia.com]

Blog pada WordPress.com.