Putra Jati Melayu

13 September, 2008

Refleksi Hamba yang Bersujud

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 04:09:13

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang kami berikan.”Q.S. al-Sajdah/32: 15-16.

Sesungguhnya seluruh makhluk Allah itu tunduk dan takluk kepada kekuasaan Allah. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk Allah lainnya pasti takluk dan tunduk pada aturan-aturan dan sunnah-sunnah yang dibuat-Nya. Bahkan orang yang mencoba melawan Allah bahkan mengingkari kekuasaan-Nya, pada akhirnya takluk dan tunduk pada kekuasaan-Nya.

Dia tidak bisa menolak ketika Allah menghendakinya jatuh bangkrut, menderita sakit, mendapat berbagai musibah, bahkan melawan kematian. Hanya saja ada segolongan manusia yang tunduk kepada Allah karena kepatuhan (thaw’an), dan ada yang tunduk kepada-Nya karena keterpaksaan (karhan).
Allah berfirman: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (Q.S. Ali Imrân/3: 83. Juga firman-Nya: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Q.S. al-Ra’d/12: 15).

Persoalannya kemudian adalah apakah kita tunduk, dan takluk kepada Allah karena kepatuhan, ataukah karena keterpaksaan. Yang pertama itulah hakekat seorang muslim, seorang yang dengan kepatuhannya menyerahkan dirinya hanya kepada Allah. Sedangkan yang kedua, itulah hakekat seorang kafir yang tunduk karena terpaksa, hendak menentang Allah tapi sia-sia belaka.

Di dalam al-Quran, kata-kata ketundukan setidaknya disebutkan dalam lima bentuk kata-kata, yaitu: al-islâm (tunduk pasrah) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 133 kali, al-thâ’ah (tunduk setia) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 129 kali, al-sujûd (tunduk merendah) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 80 kali, al-khusyû’ (tunduk penuh konsentrasi) disebutkan dalam al-Quran dengan berbagai bentuk jadiannya sebanyak 17 kali, dan al-khudhû’ (tunduk patuh) disebutkan dua kali.

Seseorang yang telah menundukkan diri kepada Allah dengan menyerahkan dirinya kepada Allah (yuslim wajhahu ila Allah), adalah orang yang telah berpegang teguh kepada ikatan yang kuat (al-urwah al-wuthqa) (Q.S. Luqman/31: 22). Ikatan itu adalah ikatan aqidah, ikatan iman. Hidupnya diikatkan dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Yang Menciptakan dan Yang Memeliharanya. Sehingga oleh karenanya dia akan memiliki pendirian yang teguh, prinsip yang kuat dalam menjalani roda kehidupan, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai godaan-godaan duniawi yang memesonakan.

Orang yang tunduk sujud itu dialah yang sanggup untuk selalu bertaubat atas dosa-dosa yang pernah dilakukan, selalu berupaya untuk menjalankan hidup dalam pengabdian kepada Allah, pandai bertasbih kepada-Nya, ruku’ dan sujud dilakukan dengan ketulusan tiada henti, menjalankan tugas dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, serta memelihara dan menerapkan Syari’ah Allah (Q.S. al-Taubah/9: 18). Oleh karenanya dialah orang yang mempunyai kemampuan untuk selalu berdzikir kepada Allah dengan membaca ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah, baik al-ayat al-Qur’aniyah (ayat-ayat al-Quran), maupun al-ayat al-kauniyyah (tanda-tanda alam ciptaan-Nya).

Dia selalu mengadakan kontemplasi, perenungan, dan tadabbur, dengan cara khusyu’ dalam shalat, dzikir, dan doa, selalu dalam al-khauf dan raja’ (khawatir amalannya tidak diterima dan mendapat murka dari Allah, serta penuh pengharapan akan ridha dan kasih sayang-Nya). Selain itu seorang muslim yang selalu tunduk bersujud itu berupaya selalu berbagi (al-infaq) dari nikmat, rizki, karunia yang diberikan Allah kepadaNya; maka dia tidak malas untuk menjalankan perintah zakat, anjuran shadaqah, wakaf, dan membagi yang dimiliki.

Semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang terus tunduk patuh karena kesetiaan dan bukan karena terpaksa, dengan terus berusaha membaca tanda kekuasan Allah, selalu mengadakan kontemplasi dan perenungan, serta pandai berbagi kepada sesama. Dengan cara itulah kita menjadi hamba Allah yang dicintai, hambanya yang selalu dalam al-islam, al-tha’ah, al-sujud, al-khusyu’, dan al-khudhu’. Semoga.
Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kebahagiaan Hidup Tanpa Nafkah

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 04:09:41

Hidup ini memiliki skenario pasang-surut. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Keceriaan dan duka nestapa adalah suatu hal bermakna. Keduanya seperti dua sisi koin yang membentuk satu kesatuan. Hampa terasa bila kebahagiaan tidak pernah diiringi dengan kesedihan, karena keindahannya dapat terabaikan. Sebab itu, kemiskinan jadi pilihan. Ya.., pilihan hidup baginda Rasulullah Saw dan keluarganya!

Rasulullah Saw pernah diberikan tawaran oleh Allah Swt untuk menjadi seorang nabi sekaligus raja, atau seorang nabi yang hanya rakyat jelata. Maka Rasul Saw memilih untuk menjadi sekedar abdan nabiyan, seorang nabi yang menjadi rakyat jelata saja. Itulah pilihan Nabi Saw. Dan beliau amat paham atas konsekuensi dari pilihannya.

Suatu hari kota Madinah gempar. Semua penduduk merasa khawatir sehingga mereka harus hadir. Ya, mereka semua hadir di depan rumah Rasulullah Saw yang sempit. Sementara pintu rumah tertutup, maka semua ummat pun duduk bersimpuh di tanah menanti kabar dari dalam rumah.

Kekhawatiran mereka adalah sudah sekian lama Rasulullah Saw tidak keluar dari sana, dan sempat terlihat oleh mata mereka beberapa istri Rasulullah Saw datang dan masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan sebuah masalah. Menurut mereka… rumah tangga Rasulullah Saw dalam sebuah dilema. Karenanya, mereka semua turut berduka. Kisah ini disampaikan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya.

Tibalah Abu Bakar turut hadir di depan rumah Rasulullah. Sesaat kemudian, ia memohon izin untuk masuk ke dalam. Ia pun diizinkan. Melihat hal itu, Umar bin Khattab pun melakukan hal yang sama. Lalu, ia pun diizinkan. Keduanya, sudah berada di dalam rumah. Dalam ruangan rumah yang sempit terlihat oleh mereka, Rasulullah Saw duduk terdiam dan dikelilingi oleh seluruh istri beliau. Anehnya, semuanya terdiam dan tidak ada yang berbicara sedikitpun.

Demi melihat kekakuan di sana, Umar pun berinisiatif untuk berkelakar seraya berkata, “Wahai Rasul, kalau saja Binti Kharijah (istri saya) meminta nafkah berlebih, pasti akan aku cekik lehernya!” Benar saja, Rasulullah Saw pun tersenyum begitu mendengar kelakar Umar. Kemudian Rasul Saw menimpali dengan sabdanya, “Wahai Umar, seperti yang kau lihat… semua istri yang mengelilingiku saat ini, mereka semua meminta nafkah dariku!”

“Oh…!!” Umar dan Abu Bakar Ra mengeluarkan nada yang sama tanda mengerti. Jadi karena hal nafkah, semua istri Rasulullah Saw hadir dan berkumpul di rumah ini. Rupanya mereka semua sedang menyidang dan menghakimi diri Rasulullah Saw demi menuntut nafkah.

Malu!!! Itulah yang dirasakan oleh Abu Bakar dan Umar. Keduanya langsung bergegas menghampiri putri mereka yang dijadikan istri oleh Rasulullah Saw. Abu Bakar menghampiri Aisyah Ra, dan Umar mendekati Hafshah. Lalu kedua leher mereka pun dicekik dari belakang oleh ayah masing-masing.

Sambil mencekik, Abu Bakar dan Umar pun berkata kepada anak mereka, “Apakah kalian tidak malu untuk meminta nafkah yang tidak dimiliki oleh Rasulullah Saw?” Aisyah dan Hafshah pun panik dan memohon ampun kepada ayah mereka. Kedua ayah itu tidak beringsut dari tindakan mereka. Hingga akhirnya, Rasul Saw pun menengahi dengan memberi isyarat kepada Abu Bakar dan Umar untuk menyudahi tindakan mereka.

Sebuah kejadian yang memalukan bagi Abu Bakar dan Umar, dan rasa malu itupun  akhirnya dirasakan oleh Aisyah kemudian yang berubah jadi manisnya kenangan.

Memang, Aisyah pernah merasakan kegetiran hidup bersama Rasulullah Saw sebab ketiadaan nafkah. Namun saat sang suami terkasih itu telah tiada… ketiadaan nafkah baru dapat dipahaminya sebagai sebuah episode hidup yang memang mendatangkan kebahagiaan.

Ketiadaan nafkah bisa mendatangkan kebahagiaan…!

Hari itu Aisyah Ra sedang di beranda. Lamunannya mengawang ke langit mengenang suami terkasih yang telah berpulang ke haribaan Allah Swt. Kali ini, ia ditemani seorang keponakannya yang bernama Urwah. Ia hadir di sana demi menghibur sang bibi yang sedang sedih kesepian.

Dalam pembicaraan mereka berdua, entah mengapa Urwah seolah tertarik untuk melempar tanya, “Wahai bibi, tolong ceritakan kepadaku bagaimana kalian membina rumah tangga?”

Sambil tersenyum getir, Aisyah mencoba mengulang kembali kenangan indah yang paling berkesan saat ia masih menjadi istri baginda Rasul. Tak kuasa menahan perasaan kangen terhadap sang suami tercinta, Aisyah Ra pun memulai sambil menghela nafas panjang. “Demi Allah wahai keponakanku. Sungguh kami pernah melihat bulan sabit berganti di langit sampai 3 kali berturut-turut dalam dua bulan. Selama itu tidak pernah tungku api menyala di seluruh rumah istri Rasulullah Saw.”

Aisyah Ra masih tetap tersenyum meskipun kalimat itu telah terhenti. Mendengarnya, Urwah kaget dan langsung merespon, “Wahai bibi, bagaimana kalian bisa bertahan hidup bila sedemikian?” pertanyaan ini meluncur dari bibirnya seolah tak percaya dan respon yang sama mungkin akan keluar dari diri kita bila mendengar hal sedemikian.

Aisyah lalu menjawab, “Dengan dua benda hitam; yaitu korma dan air yang tidak jernih. Namun terkadang beberapa tetangga Rasulullah Saw dari golongan Anshor yang memiliki domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum.” Hadits Muttafaq Alaihi.

Subhanallah! Itulah kebahagiaan keluarga bumi yang berhati langit. Ketiadaan materi tidak membuat mereka panik, berespon keras atau meminta cerai dari Rasulullah Saw. Benar, episode hidup keluarga ini telah dipertontonkan Allah Swt kepada ummat dan kita semua, bahwa pilihan hidup bahagia meski tak berlandaskan materi dapat dijalankan dengan damai.

Lalu bagaimana pengkondisian terhadap keluarga yang shalih itu dilakukan oleh Rasulullah Saw? Jawabannya adalah dengan cara senantiasa berhubungan dan berpasrah diri kepada Allah Swt Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Menjamin Rezeki setiap hamba-Nya. Bukankah Allah telah berjanji,
 
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Siapa yang bertawakkal (berpasrah diri) kepada Allah, maka Allah akan menjamin hidupnya”? (QS.65:3)

Benar saja, meski tiada nafkah yang dapat diberikan kepada keluarga, beberapa tetangga dan shahabat dari suku Anshar sering mengirimkan makanan dan minuman kepada Ahlul Bait Rasulillah. Seperti yang tergambar dalam hadits berikut ini:

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: رَهَنَ النَبِيُ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَمَ دِرْعُهُ بِشَعِيْرٍ، ومشيت إلى النبي صلى الله عليه وسلم بخبز شعير وإهالة سنخة. ولقد سمعته يقول: <ما أصبح لآل محمد صاع ولا أمسى

Dari Anas Ra, “Nabi Saw menggadaikan baju besinya dengan sejumlah tepung gandum. Karenanya, aku pun datang kepada Nabi Saw dengan membawa roti gandum dan minyak sayur. Sungguh aku pernah mendengar beliau Saw bersabda, “Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki satu sha’ gandum baik pada waktu pagi maupun sore.” HR. Bukhari

Keluarga Muhammad Saw tidak pernah memiliki nafkah yang cukup untuk menghidupi hari-hari mereka. Akan tetapi kehidupan mereka berjalan mulia dan keharmonisan pun masih tetap mereka miliki.

Jika mereka bisa hidup bahagia tanpa keberadaan nafkah, lalu bagaimana dengan kita? Semoga Allah Swt berkenan memberikan manisnya kebahagiaan seperti itu! Amin

Istighfarlah

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 03:09:23
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
“Dan hendaklah kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan keutamaan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan…” (QS. Huud {11}:3)

Mohon ampun kepada Allah. Taubat. Istighfar. Itulah ikhtiar kita! Sebuah usaha yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang. Ikhtiar yang menurut kebanyakan manusia, termasuk juga saya hanya akan mendatangkan maghfirah dan ampunan Allah Swt. Namun siapa disangka, saat manusia membutuhkan karunia Allah Yang Maha Kaya…. Saat nafkah terasa berkurang… mungkin saja karena disebabkan kita belum menyambut ‘ampunan’ Allah Swt. Ya, ampunan-Nya! Maka itu dapat mendatangkan karunia Tuhan bagi kita semua!

Teringat kisah baginda Nabi Muhammad Saw. Kali itu, beliau memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 10 Hijriyah. Begitu mendengar Sayyidul Mursalin berniat melaksanakannya, para sahabat yang berada di Madinah pun turut serta untuk mengerjakan haji sebagai rukun Islam yang terakhir. Subhanallah! Rombongan yang ikut dalam ritual haji tersebut mencapai angka lebih dari 120 ribu manusia.

Dengan jumlah rombongan sebanyak itu, atas izin-Nya kota Mekkah yang berada di bawah kekuasaan kafir Quraisy dapat ditaklukkan dengan amat mudahnya dan nyaris tanpa pertumpahan darah. Lebih hebatnya lagi, banyak penduduk Mekkah yang menyatakan masuk ke dalam agama Allah Swt dengan berbondong-bondong.

Namun kala itu, turunlah sebuah surat singkat yang diwahyukan kepada baginda Nabi Saw yang berbunyi:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ
وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An Nashr {110}:1-3)

Siapa yang pernah menyangka…? Mungkin tiada terbayang dalam benak kaum muslimin saat itu yang hanya berniat untuk berhaji untuk mendapatkan anugerah yang luar biasa dan tiada terduga; yaitu penaklukan kota Mekkah & para penduduknya masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Ini adalah karunia yang tiada terbilang harganya! Karunia tersebut didapatkan karena istighfar mereka. Karena permohonan ampun mereka atas segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat! Tidakkah kita perhatikan di ayat terakhir pada surat tersebut? Setelah Allah Swt memberitahukan tentang  penaklukan kota Mekkah & masuk Islamnya penduduk kota tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi-Nya dan kaum muslimin secara menyeluruh untuk bertasbih juga memohon ampunan (beristighfar) kepada-Nya? Ya, memohon ampunan Allah! Sebelum dan sesudah kesuksesan itu datang. Sebelum dan sesudah prestasi diraih. Meminta ampunan-Nya untuk menjemput karunia-Nya dan mendapatkan kemuliaan serta keutamaan sebagaimana dijanjikan dalam QS. 11:3

Dalam tafsir Al Qurthubi disebukan sebuah riwayat dari Ibnu Shubaih bahwa ada seorang pria datang kepada Al Hasan Al Jadubah mengeluhkan permasalahannya. Maka Al Hasan memberi jawaban, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu ada orang lain yang mengeluhkan rezeki yang sulit, maka Al Hasan menganjurkan, “Beristighfarlah kepada Allah!” Kemudian ada seorang perempuan yang datang kepada Al Hasan mengadukan bahwa dia belum dikaruniai anak. Al Hasan pun memberi jawaban yang sama. Ada lagi orang yang mengeluhkan padanya bahwa kebunnya kurang air, Al Hasan pun masih memberikan jawaban serupa. Maka kami pun bertanya kepada Al Hasan tentang jawaban yang sama itu dalam menghadapi masalah yang beragam. Maka ia menjawab, “Itu semua bukan aku yang jawab. Namun itulah jawaban Allah yang tertuang dalam surat Nuh:10-12.”

Tidakkah Anda melihat dalam riwayat tersebut bahwa istighfar dapat menyelesaikan  banyak masalah? Karenanya, jika Anda merasa hidup sulit.. banyak masalah dan rezeki sempit… tidakkah kita mencoba resep Nabi Saw? Sebuah amalan yang amat mudah dan gampang untuk dikerjakan. Tiada lain amalan tersebut adalah istighfar (memohon ampunan) kepada Allah Swt.

Beliau Saw bersabda,
من لزم الاستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا، ومن كل هم فرجا، ورزقه من حيث لا يحتسب
“Siapa yang membiasakan beristighfar (memohon ampun kepada Allah), maka Allah akan memudahkan baginya: 1) Jalan keluar dari setiap kesempitan, 2) Kemudahan dalam setiap kepanikan, 3) Rezeki dari Allah Swt lewat jalan yang tidak pernah terduga.” HR. Abu Daud

Maka, cobalah kebiasaan baik ini dalam hidup Anda yang tersisa. Beristighfar kepada Allah Swt dalam sehari-semalam sebanyak 100 kali. Ucapkanlah…. Astaghfirullahal Azhim… (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), atau dengan ucapan istighfar lain yang Anda ketahui, maka Anda akan dapati bahwa saat ampunan Allah Swt itu sudah Anda rasakan, maka kenikmatan yang diberikan kepada Anda akan semakin berlimpah-limpah dan banyak keutamaan serta keistimewaan yang Dia berikan kepada Anda. Ya, Anda… hamba-Nya yang suka mencari ampunan dari-Nya. Semoga bermanfaat!

1 September, 2008

Sebuah Ketulusan Yang Indah

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 09:09:06

Sahabat, sebuah kebetulan yang tak terduga kiranya, hari ini saya bertemu dengan kawan lama dan kawan sepemikiran sewaktu di tanah rantauan dulu. Kemudian sayapun mengundang beliau untuk berbuka puasa bersama keluarga saya. Dan undangan sayapun mendapat sambutan hangat dari beliau ini, dan kemudian kamipun beranjak menuju rumah sambil melepas rasa kangen. Ah, dalam hati saya betapa mujurnya saya, karena kawan saya ini memang terkenal sebagai orang yang mampu mengolah setiap peristiwa sebagai hikmah, ya, selain saya, beliau termasuk kelompok ulil albab didalam komunitas diskusi kami dahulu.

Setelah berbuka dan bersilaturrahim dengan istri dan anak saya hafiizh — lengkapnya nama anakku itu Khalid Abdulhafiizh Ash-Shiddiq, aku sering memanggilnya Jundul, nama yang juga berasal dari perenungan yang memakan waktu 8 bulan — maka kami pun mulai membuka perbincangan mengenai kehidupan dalam rangka terus mencari kebenaran hakiki sebelum melanjutkan ibadah khas ramadhan.

“Rizki, sebelum ketemu engkau di Pekanbaru ini, ada cerita menarik yang aku dapatkan selama menunggu pesawat dibandara Cengkareng “, demikian temanku ini memulai pembicaraannya. 

“Wah Bib, kedengarannya pengalaman yang menarik sekali untuk dijadikan bahan renungan”, tukas ku kepada temanku, ya beliau adalah Habib dari marga Assegaf Saudi Arabia.

“Sewaktu aku sedang menunggu keberangkatan di ruang tunggu bandara, entah kenapa hatiku ini tertarik pada sesosok manusia yang kukira-kira juga sedang menunggu pesawat yang sama denganku”, lanjut Habib kepada ku.

“Akhirnya, atas izin Allah, aku dapat membuka komunikasi dengan beliau ini, dengan awalnya kami berkenalan, dan kutahu namanya adalah Hasan Sulaiman berasal dari Depok, katanya begitu “

“Sekian lama bercerita tentang hal-hal umum dan sebagainya, sampailah aku pada sebuah hikmah yang benar-benar luarbiasa aku rasakan Riz”

Aku semakin bersemangat dan penasaran sekali, sambil mempersilahkan hidangan kurma yang disajikan oleh istriku, akupun menimpali “hikmah apa itu bib ?”

tetapi kemudian pembicaraan kami agak terganggu dengan teriakan anakku Jundul yang ingin ikutan duduk di teras rumah, ya tentu saja harus abinya yang memangku.

Cerita itu kemudian dilanjutkan, “Pak, Hasan ini baru 2 minggu ini mendapat pekerjaan di perkebunan kelapa sawit di Pekan, sebagai Mandor Kebun, tapi, subhanallah pak, sebelum mendapat kerja ini sudah 4 bulan Hasan menganggur”.

“Hasan sudah punya istri dan 2 anak yang masih kecil, tingkat pendidikan Hasan hanya sampai D3 Pertanian. Hasan bukanlah seseorang yang mudah berpangku tangan pada saat kesulitan hidup menerpa. Bapak bisa bayangkan kehidupan Hasan tanpa gantungan biaya untuk menghidupi anak istri. Selama hasan menganggur pak, setiap hari anak Hasan menangis minta susu yang Hasan sendiri tak mampu untuk membelinya. Setiap kali Hasan mendengar tangisan tak berdosa mereka, Hasan sering menitikkan air mata pak, Hasan merasa gagal sebagai ayah melindungi mereka dari kelaparan. Tapi pak, untungnya ditengah himpitan ekonomi tsb, hasan mempunyai seorang isteri yang cantik lahir batin, yang samasekali tidak mengeluh apalagi histeris saat tertimpa masalah seperti yang keluarga kami alami. Pada puncaknya, saat malam-malam, anak kami yang ke dua baru berumur 18 bulan terbangun karena kehausan, dan pada saat itu Hasan dan istri dari pagi belum makan, hanya anak kami saja yang kami beri makan, karena rezeki yang hasan dapat hanya cukup untuk anak kami saja. Istri dan Hasanpun terbangun mendengar tangisan mutiara kami, dan istri sayapun mencoba memberikan asinya pada anak kami ini. Tapi, karena asupan kami tidak ada dari pagi, asi pun tak keluar, dan mutiara kamipun menangis lagi karena laparnya belum terobati. Akhirnya pak, hasanpun dengan menebalkan muka mengetuk rumah tetangga hasan yang kebetulan punya anak kecil untuk sekedar mendapatkan susu segelas. Allah akhirnya mengizinkan Hasan untuk mendapatkan segelas susu tersebut, walaupun tetangga hasan sambil mengerutkan kening dan berwajah masam, tapi tetap hasan merasa berhutang budi pada kebaikannya. Setelah susu didapat, mutiara kamipun tertidur lelap, dan ditengah malam yang sepi itulah gantian hasan yang menagis sejadi-jadinya dipangkuan bidadari hasan dunia dan akhirat ini. Tidak ada pembicaraan malam itu, yang ada hanya tangisan tertahan dari hasan dan elusan lembut istri hasan dikepala hasan, walaupun hasan merasakan ada titik-titik airmata dikepala hasan, tapi dia tetap diam tak mengeluh. Sampai akhirnya kamipun tertidur.

Besok pagimnnya, hasanpun mulai lagi mencari peruntungan menemukan rezeki yang Allah tebarkan di bumi ini. Sambil memandang wajah penyemangat jiwa hasan, Hasanpun berdoa dengan khidmat dan khusyu’ pada penggenggam jiwa dengan doa untuk meniatkan pencarian nafkah ini dijalan Allah.

Maka berjalanlah Hasan dengan tak tahu tujuan, sambil menundukkan kepala, karena memang tidak ada kekuatan Hasan untuk berjalan mengangkat kepala seperti kebanyakan orang. Sambil terus memutar otak, mau dengan cara apa membawa rezeki untuk anak istri, hasanpun berjalan terus tanpa membawa uang sepeserpun dikantong. Disinilah keajaiban Allah Hasan rasakan, disaat hasan berjalan dengan menundukkan kepala, mata hasan tiba-tiba terpaku kepada sebuah benda logam yang sama sekali tak dihiraukan oleh orang. hasan pun mendekat, ternyata logam itu adalah uang logam yang sudah kumuh, setelah hasan usap-usap dengan baju, akhirnya tulisan di uang logam itupun terbaca oleh hasan. Disana tertera angka 1952, yah, ini sepertinya unag logam kuno. Hasan pun berpikir kalau -kalau bank mau membeli 1 logam uang kuno ini.

Kemudian dengan agak tergesa-gesa hasanpun pergi ke salah satu bank swasta di depok ini, dan langsung menuju Teller. Hasan menanyakan apakah bank ini mau membeli uang logam temuan hasan ini ? Kemudian teller itu pun menjawab bahwa banknya tidak bisa membeli uang itu, tapi si teller ini bisa menunjukkan toko kolektor uang kenalannya pada hasan. Setelah mendapatkan alamatnya yang ternyata tak jauh dari bank itu, hasanpun menemui si kolektor ini. Setelah dibersihkan, uang logampun diteliti oleh kolektor ini, setelah sekian lama diapun menyanggupi membeli uang logam Hasan ini sebesar Rp. 50.000,-. Alhamdulillah, kata hasan saat mendapat rezekinya, sudah terbayang untuk bisa membeli makanan untuk keluargaku tercinta. Kemudian Hasanpun memakai sedikit uang itu untuk minum dan membeli makanan buat anak dan istri, tapi tidak semua uang hasan pakai, hasan hanya menyisakan 15.000,- untuk persediaan besok, begitu pikir hasan. Dan Hasanpun berjalan menuju rumah dengan hati yang gembira. Didalam perjalanan pulang, Hasan melintasi sebuah pabrik meubel rumah tangga. Entah kenapa terbersit hati hasan untuk membawa kayu-kayu limbah pabrik itu untuk hasan buat sendiri lemari yang memang kami sudah jual sebelumnya. Sambil menemui pekerja disana, Hasanpun minta izin untuk membeli kayu-kayu limbah tsb, kemudian kata si pekerja itu, “ambil saja semua seperlunya bapak gak usah bayar, wong kayu itu juga kayu limbah”. Bukan main senangnya Hasan, hasanpun mengumpulkan sekeperluan hasan. Setelah merasa cukup, hasan pun beranjak pulang sambil mengucapkan terima kasih. Agak terheran-heran hasan dengan hari ini, uang masih ada 15.000 dan hasan pun masih membawa makanan dan kayu-kayu untuk membuat lemari.

kemudian hasanpun melewati toko furnitur sesaat hasan meninggalkan pabrik meubel itu. Setelah mendekati toko itu, rupanya ada yang tertarik dengan kayu-kayu yang hasan bawa ini. Katanya demikian, “Pak, kayu yang bapak bawa itu mau dijual ?”, hasanpun tercenung mendengarnya, rencana Allah apalagi ini pikir Hasan. Belum sempat hasan jawab, siorang ini pun berkata lagi, “Kalau mau saya mau beli 100.000,- atau bapak boleh pilih lemari ini sebagai barteran”. Hasanpun kaget luarbiasa, tapi karena hasan memang berniat membuat lemari, akhirnya hasanpun memilih lemari 2 tingkat mungil untuk dibawa pulang. Karena tidak terlalu berat, hasan gotong lemari yang setinggi hasan ini, dan Hasanpun melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan hasan berpikir uang masih ada 15000,-, ditambah makanan yang menurut kami cukup untuk seharian ini dan besok, ditambah lemari mungil 2 tingkat yang sedang Hasan gotong ini, rencana Allahkah ini ? Hampir sampai dirumah, kira-kira 3 RT lagi, pas Hasan menyusuri gang kumuh, hasan melewati seorang ibu-ibu muda yang tengah menyapu teras rumahnya. Dia kemudian memanggil Hasan, hasan berpikir apalagi ini ?

“Bang, lemarinya dijual ?”, begitu kata siibu ini. Kemudian hasanpun menjawab “memang ibu butuh lemari”, jawab si ibu “iya bang, gimana kalo saya beli 150.000 ?”, begitu katanya. Hasanpun kaget untuk kesekian kalinya, ah, coba saja dulu menaikkan harganya ini pikir hasan. “Bu, bagaimana kalau 200.000 ?”begitu kata hasan. Dan si ibu pun kaget, sambil berkata “200 ribu, murah banget yah, okelah saya beli”, sambil menyerahkan 200 ribu yang telah diambil dari dompetnya.

Hasanpun dibuat kaget bukan kepalang dengan keanehan hari ini. Dimulai dari penemuan sebuah uang logam kuno yang lusuh dan seperti tidak berharga, hasan mendapat 50.000, kemudian hasan belikan makanan untuk keluarganya, dan sisanya 15000 rencananya untuk membeli kayu-kayu limbah. Tapi ternyata kayu dikasih gratis oleh pekerjanya, sehingga 15000 aman ditangan dan kayupun didapat. Kemudian kayu ini pun dibarter dengan lemari 2 tingkat setinggi dirinya, dan terakhir lemari itu dibeli oleh ibu-ibu seharga 200 ribu.

Hasanpun pulang dengan membawa makanan yang cukup untuk seharian dan besok, serta uang sebesar Rp. 215000,-. Sampai dirumah hasan pun berbagi kegembiraan dengan keluarga semua, mereka sungguh senang, sampai-sampai hasanpun menangis karena melihat bisa membahagiakan mereka walau hanya 1 hari ini. Tak lama kemudian ada tetangga yang melintas sambil membawa koran hari ini, iseng-iseng hasan coba minjam koran tersebut. “Bang, udah baca korannya ? Kalau udah boleh hasan pinjam bang?”, kata tetangga hasan,”udah san, baca ajalah aku juga dah baca”. Nah, hasanpun membaca koran hari ini sore itu. Rubrik favorit tentu saja rubrik lowongan kerja, dan hasanpun iseng-iseng mebaca loker di koran itu. Akhirnya tanpa disengaja hasanpun mendapat loker yang sesuai dengan disiplin ilmu hasan, dengan uang itu dan dukungan istri, hasanpun menyiapkan administrasi lamaran kerja. Malamnya kamipun tertidur nyenyak tanpa gangguna kelaparan.

Besoknya hasanpun melamar kealamat yang tertera di loker tadi — tentunya terlebih dahulu berdoa dan meminta ridho Allah dengan apa yang hasan usahakan untuk menafkahi keluarga –, ternyata itu adalah alamat sebuah perusahaan sawit di Riau. Hasanpun kemudian ditest dan diwawancara langsung. Disana ada sekitar 40 orang yang sama tujuannya dengan Hasan. Hari itu juga kami semua mendapat jawabanya, ternyata yang dinyatakan lulus sebagai mandor kebun ada 3 orang, dan hasan menjadi salah seorang dari mereka. Puji dan sukur tak henti-hentinya hasan ucapkan pada Allah yang menunjukkan kuasanya pada hasan. Selama 1 bulan hasan orientasidi kerjaan baru yang disana hasan dibara 75 % dari gaji sesungguhnya, dan hari ini hasanpun terbang ke pekanbaru untuk segera bekerja. Hasanpun diperbolehkan membawa mutiara-mutiara hasan ini pak, disana kami disiapkan messuntuk menginap selama bekerja disana.”

“gaji hasan berapa ?”, kata Habib. hasan menjawab, “hasan diberi 4 jt sebulan pak plus mess dan uang pesawat ini”

Sayapun tercenung mendengr cerita Habib teman saya ini, sambil sesekali saya elus rambut sulung saya yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu saya. Begitu dahsyatnya niat tulus dari seorang suami menafkahi keluarganya.

29 Agustus, 2008

Marhaban Yaa Ramadhan | Keutamaan Bulan Suci Ramadhan

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 09:08:42

Marhaban yaa Ramadhan, ungkapan kegembiraan menyambut datangnya penghulu bulan bagi umat Islam inilah yang saya rasakan dan juga sahabat rasakan semua manakala ramadhan hampir terlihat dipelupuk mata. Ada suatu asa untuk memperbaiki jiwa yang sudah terlalu lama terlena dalam gemerlapnya kehidupan, untuk bercengkrama dengan Sang Khalik lebih lama, dan untuk bermanja-manja meminta ridho-Nya.

Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah, Allah memberkahinya dengan banyak keutamaan. Sebagai rangkaian informasi menyambut Ramadhan, saya menampilkan sebagian kecil keutamaan Ramadhan yang saya nukil dari ucapan penuh berkah Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid — semoga Allah memberkatinya –.

Sahabat, beberapa keutamaan Ramadhan adalah :

1. Bulan Al-Qur’an

Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia, obat bagi kaum mukminin, membimbing kepada yang lebih lurus, menjelaskan jalan petunjuk. (Al-Qur’an) diturunkan pada malam Lailatul Qadar, suatu malam di bulan Ramadhan.

Allah berfirman (yang artinya) : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” [Al-Baqarah : 185]

Sesungguhnya sifat bulan Ramadhan adalah sebagai bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an, dan kalimat sesudahnya dengan huruf (fa) yang menyatakan illat dan sebab : “Barangsiapa yang melihatnya hendaklah berpuasa” Memberikan siyarat illat (penjelas sebab) yakni sebab dipilihnya Ramadhan adalah karena bulan tersebut adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an.

2. Dibelenggunya Syaithan, Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka dan Dibukanya Pintu-Pintu Surga

Pada bulan ini kejelekan menjadi sedikit, karena dibelenggu dan diikatnya jin-jin jahat dengan salasil (rantai), belenggu dan ashfad. Mereka tidak bisa bebas merusak manusia sebagaimana bebasnya di bulan yang lain, karena kaum muslimin sibuk dengan puasa hingga hancurlah syahwat, dan juga karena bacaan Al-Qur’an serta seluruh ibadah yang mengatur dan membersihkan jiwa.

Allah berfirman (yang artinya) : “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 183]
Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya pintu-pintu surga, (disebabkan) karena (pada bulan itu) amal-amal shaleh banyak dilakukan dan ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah (yakni ucapan-ucapan yang mengandung kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum mukminin-ed).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga [dalam riwayat Muslim : 'Dibukalah pintu-pintu rahmat"] dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan” [Hadits Riwayat Bukhari 4/97 dan Muslim 1079]
Semuanya itu sempurna di awal bulan Ramadhan yang diberkahi, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Jika datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah para syetan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintu-pun yang tertutup, berseru seorang penyeru ; “Wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi pada setiap malam” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi 682 dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dari jalan Abi Bakar bin Ayyasy dari Al-A'masy dari Abu Hurairah. Dan sanad hadits ini Hasan]

3. Malam Lailatul Qadar

Engkau telah mengetahui, wahai hamba yang mukmin bahwa Allah Jalla Jallaluhu memilih bulan Ramadhan karena diturunkan padanya Al-Qur’an, dan mungkin untuk mengetahui hal ini dibantu qiyas dengan berbagai macam cara, diantaranya :
- Hari yang paling mulia di sisi Allah adalah pada bulan diturunkannya Al-Qur’an hingga harus dikhususkan dengan berbagai macam amalan. Hal ini akan dijelaskan secara terperinci dalam pembahasan malam Lailatul Qadar, Insya Allah.
- Sesungguhnya jika satu nikmat dicapai oleh kaum muslimin, mengharuskan adanya tambahan amal sebagai wujud dari rasa syukur kepada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah setelah menceritakan sempurnanya nikmat bulan Ramadhan (yang artinya) : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” [Al-Baqarah : 185].

Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala setelah selesai (menyebutkan) nikmat haji (yang artinya) : “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah. Sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu” [Al-Baqarah : 200]

Oleh: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid

(Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H)

Marhaban Yaa Ramadhan | Keutamaan Shaum di Bulan Ramadhan

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 08:08:31

Sahabat, izinkan saya sebagai seorang muslim mengucapkan selamat menyambut dan menikmati Ramadhan, suatu bulan yang disediakan oleh Penguasa Makhluk untuk membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran duniawi, kembali ke khittah kita sebenarnya sebagai hamba-Nya yang taklid dan mengabdi hanya kepada-Nya. Dalam kesempatan ini juga saya yang penuh dengan kealpaan ini memohon maaf kepada seluruh penikmat blog ini jika ada artikel atau tulisan saya yang menyinggung dan memberikan suatu dampak yang negatif bagi penikmat blog saya.

Masih dalam kerangka menyambut bulan suci ummat Islam ini, saya akan mencoba untuk berperan sebagai perpanjangan tangan menyampaikan informasi-informasi seputar Ramadhan, semoga Allah SWT memberkati dan mengampuni kita semua, Amin.

Sahabat, banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman ALLAH (yang artinya) : “Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [A-Ahzab : 35]

Dan firman ALLAH (yang artinya) : “Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya” [Al-Baqarah : 184].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.

1. Puasa Adalah Perisai [Pelindung]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’[memutuskan] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih].

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. Al-Walid bin Jamil, dia jujur tetapi sering salah, akan tetapi di dapat diterima. Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273 di dalamnya terdapat kelemahan. Sehingga hadits ini SHAHIH].

Sebagian ahlul ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta’ala, sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalm termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).

2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga

Engkau telah tahu wahai hamba yang taat -mudah-mudahan Allah memberimu taufik untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya- bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya ke bagian pertengahan surga.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]

3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas

4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan

Ada dua kegembiraan yang didapat oleh mereka yang menjalankan pusas secara benar, yang pertama mendapat keridhoan dari Tuhannya dan yang kedua kegembiraan ketika sudah sampai waktu berbuka.

5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk

(Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari].

Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan) (yang artinya) : “Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”

Di dalam riwayat Muslim (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau misk”

6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa’at”

7. Puasa Sebagai Kafarat

Diantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah ; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu, hingga kurban itu sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercu kur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah di dapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluargannya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” [Al-Baqarah : 196]

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [An-Nisaa' : 92]

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “ Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah kamu yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)” [Al-Maidah : 89]

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih” [Al-Mujaadiliah : 3-4]

Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” [Hadits Riwayat Bukhari 2/7, Muslim 144]

8. Ar Rayyan Bagi Orang yang Puasa

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/95, Muslim 1152, dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903]

Footnote.

1. Dengan ucapan yang terdengar oleh si pencerca atau orang yang mengganggu tersebut, ada yang mengatakan : diucapkan di dalam hatinya agar tidak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lebih kuat dan lebih jelas, karena ucapan secara mutlak adalah dengan lisan, adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Sesunguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terbetik dalam hatinya selama belum diucapkan atau diamalkannya” (Muttafaqun ‘alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tidak terjadi kecuali oleh ucapan yang dapat dididengar dengan suara yang terucap dan huruf. Wallahu a’lam.

2. Lihat apa yang telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-38

3. Diriwayatkan oleh Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161 dari jalan Huyaiy bin Abdullah dari Abdurrahman Al-hubuli dari Abdullah bin ‘Amr, dan sanadnya hasan. Al-Haitsami berkata di dalam Majmu’ Zawaid 3/181 setelah menambah penisbatannya kepada Thabrani dalam Al-Kabir : “Dan perawinya adalah perawi shahih”
Faedah : Hadits ini dan yang semisalnya dari hadits-hadits yang telah warid yang menyatakan bahwa amalan itu berjasad, wajib diimani dengan keimanan yang kuat tanpa mentahrif atau mentakwilnya, karena demikianlah manhajnya salafus shalih, dan jalannya mereka tidak diragukan lebih selamat, lebih alim dan bijaksana (tepat).
Cukuplah bagimu bahwa itu adalah salah satu syarat iman. Alla Ta’ala berfirman.
(yang artinya) : “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka” [Al-Baqarah : 3]

[Sumber : Asy Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid]

(Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H)

26 Agustus, 2008

Injil “Versi Baru” Segera Terbit

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 02:08:20

Salah satu lembaga penerbitan Kristen Amerika kini tengah menyiapkan untuk merilis “Injil versi Baru”, yang ditulis berdasarkan urutan kronologi sejarah diturunkan dan ditulisnya kitab suci umat Kristiani tersebut.

Bou sandford, sang penanggung jawab proyek ini, menyatakan pihaknya merasa tertantang untuk menyuguhkan Injil dengan versi baru, yaitu ditulis berdasarkan urutan kronologi sejarah agama Kristen.

“Injil versi ini akan menjadi bacaan yang mengasyikkan bagi para peminat dan pengkaji sejarah,” kata Standford kepada harian Washington Post, Sabtu (23/8) kemarin.

Rencananya, Standford akan mempublikasikan Injil versi baru tersebut pada musim gugur tahun ini. Format dari buku ini meliputi Injil Sejarah (Injil versi Baru), dengan melampirkan keempat Injil Matius, Lukas, Yohana, dan Markus.

Tak pelak, wacana akan dilirisnya Injil versi baru ini menylut kontroversi dan kecaman di kalangan dewan gereja Amerika. Pett Graham, salah seorang professor Teologi Kristen menyatakan kemunculan Injil versi baru ini akan merusak sisi spiritual umat Kristen.

“usaha ini hanya akal-akalan penerbit untuk meraup banyak keuntungan,” ungkap Graham.

Isu mengenai penulisan Injil dengan urutan kronologi sejarah ini juga terjadi di dunia Islam. Pada awal tahun 2008 lalu, seorang intelektual Islam asal Maroko, Muhammad Abid al-Jabiri, membesut buku “al-Madkhal ila al-Qur’an al-Karim“, yang berusaha menafsirkan al-Qur’an berdasarkan urutan kronologi sejarah kitab suci umat Islam itu diturunkan.

14 Agustus, 2008

Hikayat Sang Iblis

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 05:08:44
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Demikian kira-kira nukilan firman Allah pada Surah Al-Baqarah ayat 34 dalam mushaf yang mulia Al-Qur’an ali Karim.

Sahabat, cerita romantisme antara Iblis dan penghuni langit beserta Maharaja seluruh makhluk yang paling mulia pun berakhir dengan kepedihan. Kepedihan yang sangat mendalam bagi Iblis manakala dia tahu yang mengakibatkan semua ini terjadi pada dirinya adalah seorang makhluk baru yang bahan penciptaannya pun dianggap tidak sebanding dengannya. “Bagaimana bisa aku dikalahkan oleh makhluk baru tersebut, sementara aku tercipta dari api dan dia tercipta dari sebongkah tanah yang rendah ?” Begitulah kira-kira didalam benak Iblis. Kobaran kepedihan tersebut semakin menggebu manakala Iblis mengetahui bahwa rumah tempat kediamannya dahulu sekarang ditempati oleh sang makhluk baru yang diberi nama Adam oleh sang maharaja seluruh makhluk.

Entah mengapa kemudian muncul suatu perasaan untuk menyakiti Adam, perasaan yang belakangan didefinisikan oleh anak cucu adam sebagai perasaan dengki dan berkembang dengan subur sebagai perasaan dendam — sampai saat ini sayapun masih diliputi misteri “siapa” yang menanamkan perasaan tersebut kepada Iblis –.

Ah, aku harus menemui Maharajaku, aku akan menawarkan sesuatu pada Maharajaku , begitu kira-kira pikiran Iblis pada saat itu. Dan kemudian Iblispun melakukan perjalanan menemui maharaja seluruh makhluk. Dalam perjalanannya Iblispun terkenang masa-masa romantisnya dengan penghuni langit. Ada rasa penyesalan yang luarbiasa sebenarnya buat Iblis, Maharaja, bukan maksudku untuk melawan titahmu, jangankan melawan memandang-Mu saja tiadalah kesanggupanku untuk melakukannya, tapi sungguh hati dan pikiranku tak bisa menerima aku harus bersujud didepan makhluk baru itu. Begitu kira-kira ungkapan kesedihan Iblis pada saat itu.

Kemudian Iblispun kembali terkenang akan kisahnya dahulu, ah, kisah yang sangat indah bagiku, selama pulahan ribu tahun aku bersujud dan beribadah kepada Maharajaku, jenjang demi jenjang langit ku lewati karena prestasi ibadahku yang luarbiasa dan tulus kepada Maharajaku. Begitu senangnya hatiku saat aku mendapatkan keistimewaan pertama kali untuk dapat menghuni jenjang langit kedua, itu semakin membuatku tekun dan khusyu beribadah. Sampai akhirnya aku ditempatkan oleh Maharajaku di langit ketujuh, dan aku sangat gembira karena semakin dekat diriku dengan Maharajaku. Bahkan akulah penghuni langit yang paling tekun beribadah dan paling khusyu beribadah, kukalahkan kepatuhan Malaikat beribadah kepada Maharajaku, sampai akhirnya akupun didaulat sebagai imam di baitul makmur. Beribu-ribu tahun lamanya aku memimpin ibadah penghuni langit. Kemudian teringat olehnya bagaimana keadaan makhluk Allah yang kemudian didefinisikan oleh anak cucu Adam sebagai Bumi. Ah, bumi tempat tinggalku dahulu bersama teman-teman dan keluargaku, entah mengapa mereka membuat kerusakan yang luarbiasa parah di bumi, sampai akhirnya Maharajaku menitahkan untuk membasmi mereka semua. Akulah makhluk Maharaja pertama yang tanpa pertanyaan lagi ikut membasmi mereka, padahal mereka adalah teman-taman dan saudaraku. Tapi tak ada penyesalanku membasmi mereka semua, karena Maharajaku yang memerintahkan itu. Bersama para malaikat, aku tergabung dalam pasukan pembasmi itu. Keberanianku sangat menonjol sehingga menjadi buah bibir dikalangan penghuni langit. Seperti yang tersirat dari Surah Al-Baqarah pada ayat ke 30 yang artinya adalah :

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Kemudian berkata lagi sang Iblis, aku sungguh maklum dengan apa yang dibincangkan malaikat kepada Maharaja, mengingat begitu banyak pertumpahan darah dan keruskan yang diperbuat bangsaku dulu dibumi. Akhirnya Iblispun sampai dan menemui Maharaja langit Allah azza wajalla untuk mengutarakan maksudnya.

Tuhanku, karena Engkau telah menjatuhkan hukuman dan mengutukku sebagai golongan kafir, akupun akan mematuhi titah-Mu itu. Tapi Tuhan, karena buruknya nasibku ini disebabkan oleh Adam, maka aku minta kepada-Mu Tuhan untuk mengabulkan permohonanku, aku minta umurku ditangguhkan sampai aku mendapatkan sebanyak-banyaknya teman yang mengiringi ku masuk kepada golongan neraka.

Maharaja langitpun mengabulkan permintaan Iblis, dengan memberikan catatan besar pada Iblis, bahwa anak cucu adam yang tidak menggunakan akal budi dan hanya menuruti nafsunya sajalah yang dapat dia ajak sebagai teman di Neraka kelak. Iblispun tersenyum simpul dengan dikabulkannya permintaannya. Inilah awal konfrontasi abadinya dengan Adam dan anak cucunya.

Sahabat, semenjak saat itu iblispun mencari berbagai cara agar pertarungan abadinya dengan manusia tidak melibatkan fasilitas dan infrastruktur langit. Akhirnya kesempatan itu datang ketika Iblis mengetahui larangan keras Maharaja seluruh makhluk kepada Adam, seperti yang diwartakan pada Surah Al-baqarah ayat 35  berikut :

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Berkali-kali Iblis melakukan propagandanya kepada Adam untuk melanggar perintah-Nya, dan berkali-kali pula Iblis selalu gagal dan tak berdaya. Memang harus kuakui tangguhnya Adam, tapi ini harus berjalan sesuai planning yang telah kususun, begitu Iblis memompa semangatnya kembali. Pantang menyerahnya Iblis kemudian mendekati hasil manakala dia berpikir untuk tidak menggoda Adam, tetapi menggoda istrinya yaitu Hawa. Dan perjuangan Iblispun menjadi kenyataan, ketika Adam dengan sangat mudahnya memenuhi permintaan istrinya untuk memakan buah yang berasal dari pohon yang dilarang oleh Sang Maharaja seluruh makhluk. Aku berhasil !!!, seru Iblis ketika sarannya kepada Hawa disampaikan dan dituruti oleh Adam. Ini akan kucatat dan akan ku tanamkan kepada anak cucuku, aku temukan salah satu kelemahan Adam dan anak cucunya Adam bagaimana menggelincirkan mereka, ah, makhluk yang mirip Adam itulah salahsatu kunci suksesku mengumpulkan sebanyak-banyaknya teman di neraka nanti.

Dan pertarungan sejati dan abadi antara Adam dan anak cucunya dengan Iblis dan kaki tangannya pun beralih ke bumi, dimana murka sang pemilik hidup kepada Adam dan istrinya yang harus meninggalkan langit dengan segala keindahan dan kemudahannya menuju bumi yang dahulunya adalah tempat pertumpahan darah, tempat segala kesukaran dan ketidakberdayaan yang sangat jauh dari keindahan surga milik Allah.

Dan sahabat, disinilah kita sekarang, melanjutkan pertarungan itu, pertarungan yang merupakan warisan yang sangat bermakna, sampai bumi ini akan dihancurkan oleh sang pemilik bumi untuk kedua kalinya, saat momen pengahancuran itu dipicu oleh sebab yang sama, yaitu terlalu seringnya pertumpahan darah terjadi, dimana penghuninya pun membuat kerusakan parah di bumi, sampai-sampai bumipun menangis meratapi nasibnya yang teraniyaya.

Sahabat, semoga sahabat membaca artikel ini dengan hikmah, semoga kita mendapat ibrah besar dari hikayat ini, dan saya menunggu interpretasi sahabat di blog saya

salam

 

 

9 Agustus, 2008

Dengan Nama-KU

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 01:08:41

firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu demi Nama-Ku [Ulangan 18:19]

Sungguh ajaib dan menakjubkan! Pada Ulangan 18:19 kita mendapatkan pemenuhan ramalan pada diri Muhammad! Perhatikan kata-kata, “… firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu dengan nama-Ku (in My Name),” Atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? Bukalah Kitab Suci Al-Qur-’an pada surat pertama, yaitu Al-Fatihah. Maka akan Anda dapati, Bismillahir-Rahmair-Rahim, yang berarti, Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dan dianjurkan kepada ummat Islam agar mereka memulai pembacaa ayat-ayat suci Al-Qur`an dengan membaca, Bismillahir-Rahmanir-Rahim. Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah, Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang telah Menciptakan.

Apa yang diinginkan ramalan tersebut? … yang akan diucapkan nabi itu dengan nama-Ku dan atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? ‘Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Isi ramalan tersebut terpenuhi dalam diri Muhammad Rasulullah saw. Setiap surat dalam Al-Qur’an kecuali surat ke 9 (At-Taubah)* dimulai dengan formula: ‘Dengan meyebut Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci ini. Tetapi umat Kristen memulai: “Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus.”

Memperhatikan Ulangan pasal18; akan jelaslah bahwa ramalan tersebut ditujukan kepada Muhammad Rasulullah saaw, dan bukannya Yesus.

(Ahmed Deedat dalam The Choice)

* Surat At-Taubah (surat ke-9) sangat berkaitan erat dengan surat Al-Anfal (surat ke-8) seakan-akan At-Taubah dan Al-Anfal itu seperti satu surat. Untuk mengingatkan hal itu, maka lafazh ˜Bismillahir-Rahmanir-Rahim tidak diletakkan sebagai pembatas antara surat Al-Anfal dengan surat At-Taubah.

Firman Dalam Mulut

Diarsipkan di bawah: Religi — jundul @ 01:08:24

“… dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…” [Ulangan 18:18]

Dalam ayat di atas dikatakan, Aku aka menaruh firman-Ku dalam mulutnya, Apakah artinya jika dikatakan, “Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?” Ketika saya meminta Anda untuk membuka Ulangan 18: 18 dan saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda? Tidak.

Tetapi jika saya mengajari Anda sesuatu yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, dan bila saya meminta Anda untuk mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan, maka saya sedang menaruh kata-kata saya ke dalam mulut Anda.

Dengan cara yang sama, ayat-ayat kitab suci Al-Qur’ an, firman yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad, diwahyukan.

Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu berusia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan. Dalam gua, malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya:

Iqra`!“Baca!” atau ‘nyatakan!’ atau ‘bawakan!’ Muhammad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: “Saya tak dapat membaca!”

Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ketiga kalinya malaikat melanjutkan:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketabuin,ya.” (QS. Al-’Alaq: 1-5).

Barulah Muhammad mengerti bahwa apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya. Ayat-ayat di atas adalah ayat-ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 dari Al-Qur’an (Al-’Alaq).

Kesaksian Orang-orang yang Beriman

Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya memandanginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menjelaskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menuju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran -Al Amin- yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.

Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatat oleh pengikutnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Ulangan 18: 18)

Nabi yang Ummi

Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: “Dan apabila kitab itu” (Al-kitab, Al-Qur’an – ‘pembacaan’, ‘pembawaan’) “diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca (Nabi yang ummi, Al Qur’an surat Al-A’raf ayat 158) dengan mengatakan, “Baiklah baca ini, Saya berdo’a untuk kamu” (Kalimat: “Saya berdo’a untuk kamu” tidak ada dalam naskah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma “versi Douay” dan juga dengan “versi standar yang sudah direvisi”, Revised Standard Version) “Dan ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” “Aku tidak dapat membaca!” adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang diucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan (”Baca!”).

Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tanpa terpotong seperti pada “versi King James” atau “versi yang telah disahkan” yang lebih terkenal:

“Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, ‘Baiklah baca ini, saya berdo’a untuk kamu’, maka ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” (Yesaya 29: 12)

Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berbahasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda’wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah Penciptanya :

“Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5)

Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia membuat malu orang-orang yang berpengetahuan.

Peringatan Penting

Perhatikan! Bagaimana ramalan tersebut cocok sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad.

Tuhan menganggap bahwa pemberitaan tentang Muhammad dan mengikuti Muhammad adalah penting! Dia mengalami banyak kesulitan agar peringatannya diingat. Tuhan tahu bahwa akan ada orang-orang yang dengan kepandaian berbicara, dengan senang akan mengurangi kata-katanya, sehingga dia melanjutkan Ulangan 18:18 dengan peringatan yang menakutkan, “Dan, hal tersebut akan terjadi”. “Orang yang tidak mendengarkan segala Firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Pada Injil Katholik kata-kata terakhirnya adalah -”Aku akan menjadi pembalas dendam”- Aku akan membalas untuknya – Aku akan membalasnya!)

Apakah hal ini tidak menakutkan Anda? Tuhan Yang Maha Kuasa sedang, mengancam pembalasan dendam! Nafas kita terengah-engah jika beberapa penjahat mengancam, tidakkah Anda takut pada peringatan Tuhan?

(Ahmed Deedat dalam The Choice)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.