Sahabat, setelah cukup lama saya tidak menuliskan sesuatu di blog ini, baru hari ini saya memposting tulisan saya kembali di blog ini. Sebelumnya dengan segala kerendahan hati saya dan keluarga mohon maaf lahir dan batin kepada sahabat-sahabat penikmat blog ini, kepada unsur-unsur yang cukup sering “disentil” diblog ini, dan kepada ummat Islam Indonesia dan dunia umumnya, taqaballahuminna waminkum taqaballhu ya kariim, selamat merayakan nikmatnya Idul Fitri 1429 H, 1 Oktober 2008.

Sahabat, wacana yang cukup menghangat di negeri kita akhir-akhir ini adalah tentang bagaimana makanan, susu, dan produk turunan dari China menjadi momok dalam sekejap karena mengandung unsur melamine yang merupakan kadar utama pembentuk perkakas rumah tangga. Tak ketinggalan pula ditemukan produk-produk susu dari new zealand, swiss, dan beberapa produk eropa lainnya yang juga mengandung kadar melamine yang cukup tinggi. Belum lagi polah tingkah pedagang pribumi sendiri yang ditunjukkan kecurangannya di media elektronik dengan memasukkan air sebanyak-banyaknya pada sapi potong mereka sampai sapi tersbut sekarat menjelang mautnya dengan sangat tersiksa karena perutnya dipenuhi dengan air yang begitu banyak. Yang kemudian dikenal dengan daging sapi gelonggongan. 

Belum lagi usai hebohnya issue diatas, kembali Indonesia diliputi rasa was-was karena resesi keuangan yang cukup kritis yang dialami Amerika Serikat, sehingga apapun pergerakan yang dilakukan pengambil keputusan di Amerika sana menjadi panduan utama Indonesia dalam rangka mempertahankan ekonominya pula. Maka istilah bailout yang samasekali belum pernah saya dengar menjadi topik bahasan pakar ekonomi Indonesia dan juga pakar-pakar dadakan Indonesia. Karena krisis keuangan di Amerika ini, kepanikanpun melanda lantai bursa di Indonesia, banyak investor yang mengalami panik dengan krisis keuangan Amerika ini.

Pun juga dengan anggaran militer yang dipangkas pada RAPBN tahun 2009 nanti, sehingga Alutsista bangsa ini menjadi alutsista yang ketinggalan zaman, ketinggalan kecanggihan dan lain sebagainya, yang menyebabkan bangsa sekecil Malaysia dan Singapura pun berani mencubit-cubit dengan enaknya negeri ini.

Sahabat, beberapa hari yang lalu saya diundang oleh seorang teman untuk menyaksikan sebuah film dalam format DVD, yang berkaitan dengan makanan dan minuman yang beredar di negeri ini. Dan tebakan sayapun terbukti, manakala saya melihat rekaman original dengan menggunakan handycam tersebut yang membuat saya sering mengurut-urut dada. Di film tersebut, ada pengakuan dari seorang yang sudah cukup lama bekerja pada restoran cepat saji made in USA, pengakuan ini dibuat di kota Bandung. Dalam pengakuannya mr. X ini mengatakan bahwa restoran cepat saji tempatnya bekerja dulu memiliki ranch atau peternakan ayam untuk konsumsi penjualan mereka. Kata Mr. X ini, ayam-ayam yang menjadi jualan restoran cepat saji ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada ayam-ayam biasanya, padahal umur ayam tersebut tidaklah lama di peternakan tersebut, hanya 1 bulan saja, tetapi besarnya seperti ayam yang sudah dipelihara selama 8 bulan, kenapa bisa ? Ternyata sahabat, rahasianya adalah ayam-ayam tersebut tidak diberi suntikan air melalui selang seperti yang marak terjadi di negeri ini, tetapi ternyata, ayam-ayam ini diberi suntikan insulin beberapa kali selama 1 bulan tersebut. Yang membuat saya mengurut dada adalah ternyata bahan dari suntikan insulin itu adalah dari bahan hewani babi, subhanallah.

Dari film itu juga kemudian dibuka bahan-bahan dari babi yang beredar di negeri yang mayoritas penduduknya mengharamkan babi untuk dikonsumsi dan digunakan. Mulai dari kosmetik dari Eropa dan USA, sampai makanan dan minumannya. Ada satu ciri yang khas untuk mengetahui bahwa perangkat yang dijual tadi terdapat bahan babi. Dengan melihat unsur penyusun yang biasanya disertakan pada bungkus perangkat tersebut. Jika pada bahan makanan yang dikenal adalah gelatin, KOD 164, KOD 146. Jika terdapat kode-kode tersebut pada unsur penyusunnya, kira-kira kita wajiblah berhati-hati untuk tidak membeli produk tersebut. Wallahu’alam bissawab.

 Miris…miris… ada apa dengan Indonesiaku ?