Nasofaring merupakan saluran yang terletak di belakang hidung, tepatnya di atas rongga mulut. Untuk jenis kanker telinga, hidung, tenggorokan, kepala, dan leher, derita ini paling banyak menyerang masyarakat.

Kanker ini memiliki gejala awal pada telinga, berupa dengingan terus-menerus, selain pilek berkepanjangan disertai darah, suara parau, sering mimisan, dan nyeri saat menelan.

Dr Hsieh Wen Son, Dokter spesialis onkologi mengatakan salahsatu usaha memperlambat penyebaran kanker nasofaring adalah dengan menjalani terapi gabungan, yaitu terapi standar kanker nasofaring dan obat target terapi, sel kankernya bisa mengecil.

Dokter spesialis onkologi itu menuturkan saat ini ada penelitian terbaru mengenai pengobatan kanker nasofaring dengan terapi ontarget yang membuat obat bekerja langsung mengeblok sel kanker agar tidak tumbuh. Karena masih dalam proses penelitian, metode terapi target ini tidak bisa diakses oleh semua dokter onkologi.

Hsieh Wen Son menyatakan hanya dokter-dokter yang tergabung riset di Fakultas Kedokteran The Johns Hopkins University yang bisa mengakses informasi target terapi itu. Walaupun demikian, dia menolak bila dikatakan pasien dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Asisten profesor pada Fakultas Kedokteran The Johns Hopkins University ini mengungkapkan dalam penanganan kanker nasofaring terdapat terapi standar, seperti kemoterapi, radiasi, dan operasi. “Namun, bila setelah menjalani perawatan ternyata pasien tidak merespons terhadap pengobatan standar tersebut, barulah saya akan menawarkan terapi target ini daripada mereka pulang tanpa hasil. Itu pun menyetujui semua proses tindakan yang akan dilakukan,” paparnya.

Dia mengungkapkan setelah dilakukan kombinasi antara pengobatan target terapi dan terapi standar kanker nasofaring ternyata hasilnya jauh lebih baik. Tapi, ujar Hsieh Wen Son, tidak semua pasien bisa menerima pengobatan target terapi ini. Untuk bisa mendapatkan pengobatan ini pasien harus melakukan serangkaian tes untuk melihat apakah obat ini akan berhasil atau tidak. Jika terbukti pasien tidak merespons jenis pengobatan ini, para ahli medis itu tidak akan meresepkannya.

Saat ini ada lima pasien kanker nasofaring stadium akhir yang tengah menjalani kombinasi pengobatan ini. Satu pasien tumornya bisa mengecil, dua pasien ukuran tumornya stabil untuk enam bulan. “Pasien-pasien ini sebelumnya sudah melakukan kemoterapi, bahkan ada yang sudah empat kali dikemo tapi tidak berhasil,” kata Hsieh Wen Son.

Kanker ini merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang banyak ditemukan di Asia, termasuk di Indonesia. Pada banyak kasus, penyakit ini banyak terdapat di negara ras Mongoloid, khususnya Cina Selatan. Kanker ini lebih banyak dijumpai pada pria dibanding wanita.

Banyak faktor yang diduga berhubungan dengan timbulnya tumor ganas nasofaring, walaupun penyebab pastinya belum diketahui. Ada dugaan faktor yang berperan antara lain infeksi virus Epstein Bar, genetik, dan lingkungan, termasuk kebiasaan hidup. Adapun gejala dari kanker nasofaring antara lain adanya plak di hidung, pusing, hilangnya pendengaran pada salah satu telinga, mimisan, atau pembengkakan pada kelenjar getah bening. Untuk mendeteksi dini penyakit ini, terutama buat mereka yang memiliki faktor genetika, Hsieh Wen Son mengatakan melakukan screening melalui teropong hidung setiap tahun