Kabar mengkhawatirkan muncul dari para ilmuwan Australia yang mengatakan, jumlah infeksi HIV di kalangan pengguna narkotika dengan jarum suntik tampaknya meningkat. Laporan mereka yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Inggris, The Lancet, itu mengatakan tiga juta pengguna narkotika suntik di sekujur dunia kemungkinan positif mengidap HIV.

Bahkan yang menyeramkan, seperti dikutip BBC, lebih dari 40 persen pengguna narkotika yang terinfeksi oleh HIV, tersebar di sembilan negara. Bahaya itu kian mengkhawatirkan setelah kurangnya data dari benua hitam Afrika dan menyebutkan, faktor risiko yang mendorong penyebaran HIV dengan cara ini juga terjadi di Afrika.

Para ilmuwan itu mengatakan, program untuk mengatasi masalah ini merupakan hal yang “sangat mendesak”. Para ilmuwan yang melakukan studi tersebut berasal dari Universitas New South Wales, Australia. Mereka mengkaji data luas yang sudah diterbitkan sebelumnya.

Mereka menarik kesimpulan, jumlah pengguna narkotika dengan jarum suntik dan tingkat infeksi HIV di kalangan mereka mengalami peningkatan. Virus ini pada umumnya disebarkan oleh pemakaian jarum suntik secara bersama.

Di pelbagai negara di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa Timur, tingkat infeksi HIV di kalangan pengguna jarum suntik di atas 40 persen. Di Estonia, angka itu lebih dari 72 persen.

Namun sebagian negara berhasil mempertahankan tingkat infeksi rendah, seperti Inggris Raya dengan 2,3 persen, Selandia Baru dan Australia dengan hanya 1,5 persen pengguna narkotika jarum suntik yang positif mengidap HIV.