Setiap hari masyarakat Indonesia disajikan berbagai macam berita dan bentuk korupsi yang dilakukan para oknum pejabat pemerintah pusat maupun daerah. Benar sekali kalau beberapa kalangan menyatakan tiada hari tanpa berita korupsi.

Khusus menanggulangi kejahatan luar biasa ini, yang juga dideklarasikan oleh PBB pada tahun 2003, telah memicu KPK bekerja lebih berani. Penyelesaian ”secara adat” yang pernah dilakukan pimpinan tertinggi republik ini untuk mencegah melebarnya suatu perkara yang diduga ada unsur korupsi telah diselesaikan secara kompromi, justru merupakan kendala terhadap terciptanya rule of law di Indonesia.

Dibongkarnya konspirasi oknum pejabat BI dan anggota DPR tertentu, terungkapnya AS berhubungan dengan Jaksa UTG, ditangkapnya beberapa oknum anggota DPR yang diduga menerima suap telah membuka mata masyarakat.

Praktik-praktik seperti itu sudah berjalan lama dan sulit dihilangkan karena sudah menjadi tradisi dan biasa yang dianggap sebagai “way of life”. Lalu bagaimana akhlak mereka?

Dari fakta-fakta tadi dapat dikatakan bahwa hedonisme, konsumerisme, ketamakan dan krisis moral telah melanda lembaga-lembaga negara di Indonesia. Tujuan untuk menggapai pangkat, harta, kesenangan duniawi, hidup mewah berlebihan, tamak dan krisis moral telah melanda sebagian pejabat lembaga-lembaga tadi.

Tidak Kompak

Tentang nafsu keduniawian dan ketamakan manusia seorang penyair dari Inggris Percy Bysshe Shelley menyatakan secara jelas dan sarkartis: “The flower that smiles today, tomorrow dies; All that we wish to stay, tempts and then flies; What is this world’s delight? Lightning, that mocks the night, brief even as bright.”

Keadaan ini sungguh berbeda dengan tokoh hak asasi manusia, pejuang anti-apartheid dari Afrika Selatan dan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, pemenang hadiah Nobel (Nobel laureate) Nelson Mandela yang hidup sederhana dan jujur, sehingga menjadi panutan bangsa Afrika Selatan.

Sejak era reformasi tahun 1998, baru Menteri Keuangan Sri Mulyani (sekarang merangkap sebagai Menko Ekuin) yang berani mengadakan reformasi birokrasi di Departemen Keuangan dan menaikkan gaji para PNS di departemen yang dipimpinnya, tetap juga tegas mencopot Dirjen yang tidak efektif. Namun, tindakannya tidak diikuti oleh departemen pemerintah yang lain. Patut disesalkan langkah berani ini tidak diikuti oleh menteri-menteri dari departemen lainnya.

Dari perkara-perkara dugaan korupsi dan suap yang diuraikan di muka, perlu diingatkan bahwa jabatan dan kemewahan duniawi adalah bersifat sekejap dan singkat seperti halilintar yang menembus kegelapan langit malam. Jabatan hanyalah bersifat sementara dan pada akhir masa jabatan harus dipertanggungjawabkan oleh pejabat tersebut kepada rakyat sebagai kekuasaan tertinggi. Oleh karena itu, hakikat dari jabatan adalah memperjuangkan nasib rakyat dan bukan diri sendiri.

Sampai sekarang rak-yat masih menunggu pemimpin yang dapat membawa perubahan dan perbaikan bagi hidup dan kehidupannya.

(sumber :Dr Frans H Winarta, mantan anggota Dewan Penasihat IBA Human Rights Institute yang didirikan Nelson Mandela, dkk.)