Tingginya harga bahan bakar dan makanan akan meningkatkan jumlah orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia pada 2008. Setidaknya, sebanyak 44 juta hingga mencapai jumlah 967 juta orang kurang gizi. Demikian laporan yang disiarkan Bank Dunia di Washington, Rabu atau Kamis (9/10) WIB.

Meskipun kenaikan harga bahan bakar dan makanan tak bergejolak dalam beberapa bulan belakangan, harga tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Namun diakui terdapat tanda penurunan harga yang mencolok, demikian antara lain isi laporan itu – yang diberi judul “Rising food and fuel prices: addressing the risks to future generations”.

Keluarga miskin di seluruh dunia terus terdorong ke tebing kelangsungan hidup, sehingga jutaan anak mengalami kerusakan kesehatan yang tak dapat diperbaiki. Saat banyak keluarga mengurangi pengeluaran, juga terdapat risiko sangat besar bagi kondisi pendidikan anak-anak miskin. “Meskipun perhatian rakyat di negara maju terpusat pada krisis keuangan, banyak orang lupa bahwa krisis kemanusiaan dengan cepat terurai di negara berkembang. (Kondisi) itu mendorong orang miskin ke tebing kelangsungan hidup,” kata Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick.

Ia memperingatkan, “Krisis keuangan hanya akan menambah sulit negara berkembang melindungi rakyat mereka yang paling rentan dari dampak kenaikan harga bahan bakar dan makanan.” Laporan tersebut, yang direncanakan disiarkan, Minggu, untuk Komite Pembangunan dalam Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan IMF, menekankan krisis bahan bakar dan makanan dapat memiliki dampak jangka panjang pada negara dan orang miskin. Pada Mei, Bank Dunia meluncurkan program keuangan cepat bernilai US$ 1,2 miliar guna membantu negara miskin menanggulangi krisis makanan. Sejak itu, sebanyak US$ 850 juta telah disediakan untuk mendanai program pembenihan, penanaman pohon dan makanan.

Pada April, Zoellick menyerukan Kesepakatan baru bagi Kebijakan Pangan Global, yang meliputi tindakan jangka pendek, menengah dan panjang untuk memberi bantuan segera bagi petani dan orang miskin dan pada saat yang sama dilakukan peningkatan produksi makanan.