Sejak 1990-an hingga kini terjadi peningkatan prevalensi HIV yang cukup dramatis pada kelompok berisiko tinggi.

Oleh karena itu, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menegaskan pemerintah gagal meredam penyebaran kasus HIV/AIDS pada kelompok berisiko tinggi.

”Upaya penanggulangan kita telah gagal. Pemakaian kondom belum juga menjadi kebiasaan bagi pelaku berisiko tinggi,” tandas Ketua KPAN Nafsiah Mboi di sela peluncuran Surveilans Terpadu Biologis Perilaku IV/IMS (STBP) , di Jakarta.

Penyebaran penyakit HIV melalui pintu penyakit menular semakin mengakar. Survei STBP menunjukkan peningkatan penyakit kelamin di Tanah Air mungkin yang paling tinggi di dunia.

Terhitung mulai 2008, tren penularan kasus HIV di Nusantara tidak lagi dimonopoli oleh kelompok pengguna nafza suntik, tetapi akan segera didominasi sebarannya oleh penyakit menular seksual.

Nafsiah meyakini kendala terbesar kenapa program penanggulangan dan pencegahan penyakit HIV/AIDS dikarenakan pola pikir dan perilaku sosial budaya pada masyarakat yang salah, yakni meyakini laki-laki yang jantan adalah yang suka berganti-ganti pasangan seks.

STPB pada kelompok berisiko tinggi dilakukan di delapan provinsi, yaitu Jatim, Jateng, Jabar, Sumut, Kepulauan Riau, Papua Barat, Papua, Jakarta. Rangkuman survei difokuskan pada lima kategori kelompok berisiko tinggi, yaitu wanita pekerja seks, lelaki yang suka waria, pria berisiko tinggi, dan pengguna narkoba suntik. Tercatat 35.300 waria di Tanah Air pada 2006.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama memaparkan, HIV telah terdeteksi pada pria berisiko tinggi di luar Papua. Sopir truk dan anak buah kapal adalah kelompok paling tinggi tertular HIV.

Hubungan seks tanpa kondom antara wanita pekerja seks (WPS) dan kliennya merupakan cara penularan HIV terbesar kedua di Indonesia. Tercatat wanita pekerja seks atau yang menjajakan diri di jalanan ataupun yang di bar dan kafe, masing-masing berjumlah 157 ribu dan 107 ribu. Berdasarkan tiap provinsinya, antara 6%-16% pelacur dan 9% pelacur tidak langsung terinfeksi HIV.

Tjandra menandai, beberapa hal yang menarik dari STBP. Umpamanya, rata-rata 30%, baik wanita pekerja seks, waria, lelaki hidung belang, dan homoseksual yang terinfeksi HIV/AIDS berumur di bawah 30 tahun. Juga yang memprihatinkan, pasangan homoseksual yang menderita HIV/AIDS, 45,6% berusia di bawah 25 tahun, dengan tingkat pendidikan mereka minimal SLTA yang sangat tinggi.

Ke depan, baik Depkes maupun KPA beserta instansi terkait lainnya akan memfokuskan pencegahan pada generasi muda di bawah 25 tahun serta kelompok yang berisiko tinggi menderita penyakit HIV/AIDS.