Setidaknya tujuh negara berkembang berpaling ke Dana Moneter Internasional (IMF) untuk meminta pertolongan. Negara- negara itu kekurangan dana karena penarikan dana oleh para investor asing seiring dengan terjadinya krisis global.

Permintaan pertolongan itu antara lain telah disampaikan Hongaria, Ukraina, Serbia, dan Eslandia pada pertemuan dengan IMF akhir pekan lalu di Washington. Saat itu berlangsung pertemuan tahunan yang diselenggarakan Bank Dunia dan IMF untuk membahas pemberantasan kemiskinan global.

Krisis sektor keuangan global sekarang ini dipicu kebangkrutan korporasi keuangan global, yang membuat para investor global panik dan menarik dana-dana investasi dan simpanan dari perbankan.

Pada tahun 1997, krisis dipicu dengan masalah di sisi negara pembayaran negara, antara lain ditandai dengan pinjaman-pinjaman internasional berjangka pendek, tetapi ditanamkan pada proyek yang baru menghasilkan dalam jangka panjang.

”Kami mendapatkan permintaan pertolongan dari enam atau tujuh negara,” kata seorang pejabat senior IMF kepada kantor berita Reuters, Selasa (14/10).

Pekan lalu Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn menegaskan, ”Siap membantu negara-negara berkembang yang terpukul krisis.”

”Saya tidak akan kaget jika muncul puluhan negara lagi yang akan mengajukan permintaan tolong dalam beberapa bulan mendatang,” kata pejabat senior IMF yang minta namanya dirahasiakan.

Walau akar krisis sekarang ini berbeda dari krisis 1997, masalah yang dimunculkan relatif sama. Sejumlah negara terancam memenuhi kewajiban luar negeri seperti impor, membayari bunga dan cicilan utang luar negeri.

Makin ketatnya persyaratan untuk mendapatkan kredit dari sektor swasta, dan ketakutan industri perbankan menyalurkan kredit, telah membuat dana-dana di pasar berkurang. Krisis sekarang ini juga telah membuat investor swasta enggan membeli surat-surat utang.

Kembali berperan

Krisis sekarang ini mengembalikan IMF ke dalam bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara berkembang memalingkan muka dari IMF seiring dengan buruknya resep dan reputasi IMF. Di sisi lain, berkembangnya perekonomian dan bangkitnya kemampuan keuangan pemodal-pemodal swasta membuat banyak negara menyandar diri pada pasokan dana investor swasta.

Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan modal-modal swasta membuat sejumlah negara ramai-ramai mengembalikan utang kepada IMF.

Namun, keadaan mendadak berubah sejak krisis meledak, yang dimulai di AS. ”Sistem keuangan global berada di ambang kejatuhan. Hal itu kembali menghidupkan paket bantuan darurat, seperti yang pernah terjadi pada 1995,” kata Strauss-Kahn.

Kawasan Eropa Timur tergolong paling rentan. Selama ini beberapa negara kawasan ini menyandarkan pembiayaan ekonomi dari pinjaman asing, yang kini mendadak mengering.