Pengobatan antiobesitas mungkin merupakan senjata baru di antara persediaan senjata untuk melawan HIV. Hal ini berdasarkan temuan laboratorium yang diterbitkan dalam jurnal Nature Biotechnology edisi Oktober 2008. Para penulis dari University of Rochester Medical Center di New York dan Universitas Princeton berpendapat bahwa walaupun masih memerlukan banyak penelitian, obat tersebut tampak menghambat unsur tertentu pada metabolisme sel, yang mengakibatkan hambatan infeksi virus, misalnya HIV, influenza dan hepatitis, agar tidak dapat berkembang biak dalam tubuh manusia.

Joshua Munger, PhD dari Rochester dan rekan menjelaskan, waktu HIV dan virus lain memasuki tubuh, virus tersebut meningkatkan metabolisme sel – penguraian bahan gizi untuk menghasilkan tenaga – sehingga lebih banyak asam lemak yang dihasilkan. Virus memakai asam lemak tersebut untuk membangun amplop virus, lapisan luar yang membantunya menembus sel manusia.

Para peneliti memakai obat yang mengobati obesitas dan kolesterol tinggi yang menghambat enzim yang membangun asam lemak – orlistat adalah salah satu obat penghambat enzim yang disetujui. Para peneliti berharap dapat membuktikan bahwa produksi asam lemak yang dipicu oleh virus diperlukan oleh virus untuk bereplikasi dan bahwa pengobatan tersebut mengurangi replikasi virus secara bermakna apabila digabungkan dengan sel yang terinfeksi. Penelitian mula-mula dilakukan dengan memakai sitomegalovirus tetapi diulang dengan memakai virus influenza A – virus serupa dengan HIV yang memakai asam lemak untuk membangun amplop virus.

Walaupun Munger dan rekan optimis terhadap temuan mereka, mereka menekankan bahwa “uji coba klinis secara luas diperlukan untuk memperoleh kesimpulan tentang keamanan obat antiobesitas tersebut, atau unsur yang serupa dengan ART.”