Pemerintah akhirnya menurunkan harga bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter. Adapun harga minyak tanah dan solar tidak mengalami perubahan.

Pelaksana tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan harga baru premium bersubsidi ini berlaku mulai 1 Desember 2008. “Ini satu kebijakan pemerintah yang judulnya sangat populer,” katanya di kantor Presiden kemarin.

Keputusan penurunan harga premium diambil setelah digelar rapat kabinet yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri kalangan pengusaha serta pengamat ekonomi.

Sri Mulyani mengatakan kebijakan ini diambil karena harga minyak mentah di pasar dunia telah turun menjadi US$ 65 per barel. Selain itu, pemerintah menangkap aspirasi dari kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pelaku usaha, pengamat, dan masyarakat umum.

Adapun BBM bersubsidi jenis solar dan minyak tanah, menurut Sri Mulyani, harganya tidak mengalami perubahan. “Karena memang perbedaan dengan harga keekonomian masih sangat tinggi.”

Dia menambahkan, pemerintah akan terus memantau secara berkala harga premium. Beberapa indikatornya yang dipakai adalah harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, dan perkembangan volume konsumsi BBM masyarakat serta dunia usaha.

“Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala secara bulanan,” katanya. Tujuannya, agar pergerakan harga premium tetap bisa merefleksikan nilai sebenarnya tanpa harus membebani anggaran. “Tetap bisa didanai secara sustainable oleh APBN.”

Dia melanjutkan, pemerintah berharap penurunan harga premium akan meningkatkan daya beli masyarakat dan menggairahkan dunia usaha. “Sehingga bisa ikut mencegah dampak krisis ekonomi global,” kata Sri Mulyani.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dengan penurunan harga premium, pemerintah harus menanggung tambahan subsidi Rp 750 miliar. Asumsinya, pemakaian premium sepanjang Desember mencapai 1,5 juta kiloliter. Soal evaluasi secara berkala, menurut Purnomo, pemerintah akan menggunakan Indonesian crude price (ICP) satu bulan terakhir sebagai dasar penghitungan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) M.S. Hidayat menyambut gembira kebijakan ini. Menurut dia, harga premium ini jauh dari harapan pengusaha–mereka mengusulkan harga diturunkan Rp 1.000. “Tapi ini tetap bisa menolong meningkatkan daya beli masyarakat kecil,” katanya.

Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Dradjad H. Wibowo, menilai seharusnya penurunan harga premium bisa mencapai 20-25 persen, atau sekitar Rp 1.500 per liter. “Kalau hanya Rp 500, ini seperti kebijakan politis saja, tidak riil,” katanya.