Fenomena munculnya politisi dari kalangan artis dan militer adalah akibat krisis kepemimpinan di partai politik (parpol). Tidak ada lembaga yang murni sipil yang mampu meregenerasikan kepemimpinan dengan baik sehingga mengandalkan militer dan popularitas selebritis.

“Ini merupakan kegagalan sistemik dari partai politik,” kata Pengamat Politik Universitas Indonesia Boni Hargens saat diskusi Dialog Kenegaraan bertema Pertarungan Menuju Senayan, di Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Jakarta, Rabu (5/11) siang.
Diskusi itu menampilkan pembicara artis Rieke Dyah Pitaloka, Presenter Tantowi Yahya dan Anggota DPD dari Provinsi Kalimantan Barat Sri Kadarwati.

Boni mengatakan, ketiadaan regenerasi kepimpinan saat initampak dari kandidat legislatif dan presiden yang masih didominasi “tokoh lama”. Dia menyatakan, tidak terlalu banyak perubahan sehingga tidak ada yang bisa diharapkan dari Pemilu 2009.

Menurut Boni, dari daftar calon tetap sejumlah parpol menunjukkan sirkulasi elite masih terseok-seok. Kalaupun ada tokoh baru, kebanyakan karena hubungan darah dengan pemimpin partai. “Sementara elit yang dihasilkan partai tidaklah dihasilkan melalui penggodokan yang serius,” ujarnya.

Dia mengatakan, seorang calon legislatif agar dapat dipilih harus mempunyai empat modal utama, yaitu popularitas, mesin politik yang sehat, kinerja dan integritas. Artis memiliki popularitas. Sedangkan kinerja mesin partai tidak bisa diharapkan. Karena sampai saaat ini, menurut Boni, dari pengalaman pilkada terbukti belum ada partai yang mesinnya bekerja efektif.

Dia menyayangkan jika parpol merekrut artis sebagai calon legislatif (caleg) karena hal itu memotong kesempatan orang yang benar-benar telah lama menekuni permasalahan politik. Parpol dinilai juga mempermalukan kadernya sendiri sehingga lebih memberikan kesempatan kepada pesohor.

Artis Rieke Dyah Pitaloka mengatakan, motivasi seorang calon legislatif harus dilihat dalam dua sisi yaitu yang berorientasi hanya pada kekuasaaan, dan yang berorientasi pada isu dan permasalahan politik. Rieke yang merupakan calon legislatif PDIP di daerah pemilihan Jawa Barat II mengatakan, dia berorientasi pada permasalahan politik. “Karena itu, bila tidak terpilih, saya akan tetap tertarik pada masalah-masalah politik dan konsisten berjuang di luar parlemen,” ujarnya.