Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 dikhawatirkan akan seperti Pemilu 2004, yang tidak berkualitas dan bahkan gagal menciptakan elite yang memiliki kepedulian terhadap proses demokrasi. Belum adanya perubahan paradigma elite dan bobroknya manajemen partai, berujung pada kepentingan pragmatis jangka pendek.

Hal itu terungkap dalam diskusi “Persaingan Menuju Senayan” di Jakarta, Rabu (5/10). Pembicara pada diskusi itu adalah pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens, calon anggota legislatif (caleg) dari PDI-P, Rieke Diah Pitaloka, Tantowi Yahya (caleg Golkar), dan anggota DPD asal Kalimantan Barat, Sri Kadarwati.

“Pemilu 2009 tidak akan berkualitas. Yang maju hanya orang-orang lama. Kualitas demokrasi di Indonesia hanya bersifat prosedural, demokrasi visual (iklan dan pasang spanduk), bukan demokrasi substansial. Tujuan pragmatis itu yang ditonjolkan menuju Senayan,” ujar Boni.

Menurut Boni, untuk maju ke Senayan, caleg harus memiliki integritas, rekam jejak yang baik, popularitas, dan mesin politik yang efektif. Semua itu harus ada, jangan hanya satu unsur yang dimiliki.

Di sisi lain, sistem manajemen parpol yang rapuh akan mengunci tokoh berpotensi dan prorakyat. Mereka bisa tergilas oleh solidaritas kolektif kelompok status quo, yang ujung-ujungnya hanya kepentingan elite.

Tantowi dan Rieke mengakui bekal popularitas saja tidak cukup untuk menjadi wakil rakyat.

Menurut Tantowi, kesiapan mental juga menjadi modal penting. Dia pun berjanji akan menghasilkan legislasi yang prorakyat jika menjadi wakil rakyat.