Sejumlah ahli geologi internasional menyimpulkan bahwa pemicu semburan lumpur Sidoarjo disebabkan aktivitas pengeboran minyak dan gas bumi. Perdebatan soal pemicu semburan lumpur terjadi dalam pertemuan American Association of Petroleum Geologists di Cape Town, Afrika Selatan, 28 Oktober lalu.

Untuk pertama kalinya dua kubu sepakat untuk berdebat sebelum konferensi internasional tersebut dibuka. Perdebatan itu dipimpin Professor John Underhill, ahli geologi dari Edinburgh University.

Perdebatan berpusat pada data terbaru yang diambil dari sumur eksplorasi sumur Banjar Panji I selama 24 jam terakhir sebelum terjadi semburan lumpur. Professor Richard Davies dari Durham University Inggris mengatakan, data itu menunjukkan adanya tekanan berlebihan yang menyebabkan retakan dan menyebar dari lubang pengeboran sampai ke permukaan tanah sejauh 150 meter sehingga menyebabkan semburan.

Namun, Rocky Sawolo, penasihat senior pengeboran PT Lapindo Brantas, mengatakan tekanan dalam pengeboran itu masih dalam batas yang diizinkan. Sedangkan menurut Dr Adriano Mazzini dari University of Oslo, retakan tersebut dipicu oleh gempa bumi 6,3 skala Richter  yang berpusat di Yogyakarta dua hari sebelum lumpur menyebur. Namun, klaim tersebut bertentangan dengan pendapat Dr Mark Tingay, ahli tekanan geologi dari Curtin University Australia. Tingay mengatakan, magnitude gempa tersebut terlalu kecil untuk memicu semburan lumpur.

Seperti dilansir BBC News, Sabtu (1/11), 42 dari 74 ilmuwan meyakini aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas menjadi pemicu terjadinya semburan lumpur di Sidoarjo. Sedangkan 3 ilmuwan meyakini gempa bumi sebagai pemicu semburan dan 13 ilmuwan lain percaya kombinasi gempa dan aktivitas pengeboran menjadi penyebab lubernya lumpur tersebut.

Semburan lumpur PT Lapindo Brantas terjadi Mei 2006 dan belum berhenti hingga saat ini. Akibatnya 30.000 orang kehilangan tempat tinggal.  PT Lapindo Brantas membantah semburan tersebut akibat pengeboran yang mereka lakukan dan menyalahkan gempa yang terjadi 280 kilometer dari lokasi pengeboran sebagai penyebabnya.