Infeksi HIV yang lama dan tidak diobati tidak tampak merusak mutu air mani. Hal ini berdasarkan laporan yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility, edisi September 2008.

“Data ini melegakan dalam arti bahwa menunda pengobatan HIV pada pasien yang terinfeksi hingga jumlah CD4 mencapai kurang lebih 200 – yang memperpanjang pajanan terhadap infeksi yang tidak diobati – tidak berdampak buruk terhadap mutu air mani,” Dr. Elisabeth van Leeuwen dari Academic Medical Center, Amsterdam, Belanda mengatakan. “Oleh karena itu infeksi HIV yang terus berlanjut kemungkinan tidak tampak mempengaruhi kesempatan untuk memenuhi kriteria pada teknik bayi tabung.”

Dr. van Leeuwen dan rekan meneliti parameter air mani selama masa infeksi HIV yang alami pada 55 laki-laki tidak bergejala untuk menentukan apakah infeksi HIV kronis terkait dengan mutu air mani yang lebih rendah.

Selama median masa tindak lanjut 77 minggu, jumlah CD4 menurun dari 480 menjadi 400 dan viral load HIV meningkat dari 4,1 log menjadi 4,3 log, para penulis melaporkan.

Laporan menunjukkan bahwa tidak ada parameter air mani yang berubah setelah beberapa waktu.

Para peneliti mengatakan, jumlah CD4 tidak dikaitkan secara bermakna dengan semua parameter air mani yang diteliti tetapi viral load HIV dipastikan terkait dengan kepadatan sperma.

Selama penelitian, seluruh parameter air mani adalah dalam kisaran batas bawah nilai normal sampai normal berdasarkan kriteria WHO, para peneliti mencatat.

“Dalam kohort penelitian longitudinal yang melibatkan laki-laki yang belum menerima terapi antiretroviral (ART), kami menemukan bahwa waktu laki-laki tersebut terinfeksi HIV secara kronis, parameter air mani tidak terpengaruh oleh infeksi HIV,” Dr. van Leeuwen mengatakan.

“Baru-baru ini kami menerbitkan sebuah artikel tentang mutu air mani pada pasien yang diobati dengan ART, yang sebelumnya belum pernah memakai ART (naif-ART),” Dr. van Leeuwen menjelaskan. “Kami menemukan penurunan persentase sperma yang aktif bergerak setelah mulai ART, sementara seluruh indikator lain pada mutu air mani tetap stabil.”

“Oleh karena itu yang menjadi pesan utama adalah jangan mulai ART lebih dini pada laki-laki yang belum memakai ART sebelum laki-laki menjalani proses bayi tabung, karena terkait dengan persediaan kekebalan, ART dapat mengakibatkan penurunan sperma yang aktif bergerak,” Dr. van Leeuwen menyimpulkan.

“Hal ini mengkhawatirkan karena teknik bayi tabung di AS belum tersedia secara luas bagi pasangan serodiskordan (salah satu pasangan adalah HIV-positif),” Dr. van Leeuwen menambahkan.