Banyak negara berkembang menghadapi kekurangan tenaga medis – mengakibatkan kekosongan layanan kesehatan di negara dengan beban tinggi HIV/AIDS, malaria dan TBC. Hal ini berdasarkan laporan Reuters.

Walaupun Afrika memiliki 25% beban penyakit dunia, Afrika hanya memiliki 3% dari pekerja kesehatan sedunia. Afrika juga paling terdampak oleh perpindahan tenaga medis ke luar negeri di seluruh dunia. Selain itu, prevalensi tinggi HIV/AIDS di benua tersebut bahkan mengakibatkan kekurangan tenaga medis yang lebih besar yang meninggal akibat penyakit tersebut. Pasien HIV/AIDS di Afrika sering memakai klinik yang hanya dikelola oleh satu perawat dan beberapa asisten yang tidak terlatih, dengan dokter yang mengunjungi klinik setiap beberapa minggu sekali. “Seorang perawat yang merawat 400 pasien diberi honor tiga dolar AS per hari di Malawi,” sebuah keadaan yang mengakibatkan banyak pekerja medis di Afrika bermigrasi ke luar negeri atau bekerja di perusahaan swasta, Musa Massaquoi, dokter dari Medecins Sans Frontieres di Malawi mengatakan. Beberapa ahli penyakit internasional awal tahun ini menyebut mengambil pekerja kesehatan dari Afrika oleh negara Barat sebagai kejahatan internasional.

Di India, yang memiliki beban kasus HIV/AIDS tertinggi ketiga di dunia, orang sering tidur di luar klinik kesehatan sementara menunggu obat dan tes, aktivis HIV/AIDS Loon Gangte mengatakan. Gangte menambahkan bahwa tantangan untuk mendapatkan perawatan mengakibatkan beberapa pasien menghentikan pengobatan. India memiliki kekurangan tenaga medis secara bermakna, dengan satu perawat untuk setiap 1.000 pasien, dibandingkan dengan 11 perawat untuk setiap 1.000 pasien di Eropa. “Permintaan lebih besar dibandingkan persediaan,” Sunita Maheshwari, seorang ahli jantung pediatrik di Bangalore mengatakan.

Yehezkiel Nukuro, pejabat WHO mengatakan bahwa banyak negara berkembang menghadapi peningkatan kematian dan penurunan harapan hidup akibat penyakit yang dapat dicegah. Dia menambahkan bahwa sistem kesehatan di negara-negara tersebut adalah “di tepi jurang kehancuran akibat kurangnya tenaga terlatih.” Beberapa ahli mengatakan keadaan memburuk karena peraturan imigrasi yang baru di negara Barat memungkinkan tenaga medis dari negara berkembang bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja. Beberapa lembaga bantuan menyatakan keprihatinan mereka terhadap usulan skema “kartu biru” di Uni Eropa yang didukung oleh para menteri pada September 2008, akan menyebabkan lebih banyak migrasi petugas kesehatan dari negara berkembang.

Para ahli mengatakan “tidak ada jalan keluar yang mudah” untuk menghadapi perpindahan tenaga medis ke luar negeri, tetapi strategi pertahanan dapat mengurangi masalah,. “Mustahil untuk menyelesaikan atau menghentikan migrasi petugas kesehatan,” Nukuro mengatakan, menambahkan bahwa “komitmen politik dan komitmen internasional yang kuat, strategi yang inovatif … kemitraan dan aliansi serta investasi jangka panjang” merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kesehatan pekerja. Laporan WHO pada Juli 2008 merekomendasikan bahwa bantuan internasional untuk Afrika harus diarahkan pada peningkatan honor dokter dan meningkatkan pengupahan serta pelatihan tenaga medis. Laporan juga menyarankan penggunaan “telemedicine” untuk menghubungkan rumah sakit di Afrika dengan laboratorium dan para ahli di luar negeri melalui internet dan telepon. Di India sudah ada upaya-upaya untuk mengurangi beban dokter dengan melatih ibu rumah tangga untuk memberikan saran medis dan mengatur obat demam, tablet rehidrasi oral serta kit diagnostik cepat untuk kehamilan dan malaria. Naresh Dayal, Sekretaris Departemen Kesehatan India mengatakan bahwa strategi ini merupakan “intervensi kecil tetapi berpengaruh besar untuk mengurangi tingkat kematian yang tinggi pada ibu dan bayi.” Program serupa sedang dilaksanakan di beberapa negara Afrika, terutama di daerah pedesaan.