Republik Maladewa, sebuah negara kepulauan yang terletak di sebelah barat daya Sri Lanka, dikenal dengan keindahan pulau karang-pulau karang yang membentuk gugusan dengan 26 pulau-pulau besar. Negara di Lautan Hindia, yang merupakan salah satu tempat wisata terbaik di dunia ini, ternyata bermasalah. Karena, rata-rata tinggi daratannya hanya 2,3 meter dari permukaan laut, diperkirakan dalam waktu yang tak lama lagi, seluruh pulau-pulau di Maladewa bakal tenggelam akibat pemanasan global.

Saat ini, untuk mencegah terjadinya kenaikan air laut di negara itu, tak ada jalan selain mengevakuasi penduduk di daerah tergenang ke pulau yang aman. Di Ibukota Maladewa, Male, telah dibangun tembok pelindung setinggi tiga meter yang dibangun selama 14 tahun dengan dana bantuan dari Jepang, untuk menghindari banjir, akibat naiknya permukaan laut.

Namun, masih dibutuhkan pembangunan tembok setinggi itu pada 193 pulau yang berpenghuni di negara ini. Pembangunan tembok-tembok ini sangat mahal. Satu bangunan tembok seperti yang dibangun di Male membutuhkan biaya sebesar US$ 63 juta atau sekitar Rp 693 miliar.

Tugas berat kini berada di pundak presiden terpilih negara itu, Mohamed Nasheed untuk melindungi 350.000 warganya dari ancaman tenggelam. Nasheed, yang baru saja menjabat sebagai presiden, tampaknya lebih memilih mencari pulau yang bakal menjadi Tanah Air baru negaranya, dibandingkan membangun ratusan tembok.

Dana untuk membeli tanah air baru itu bakal diambil dari pemasukan sektor pariwisata sebesar US$ 1 miliar. Juru Bicara Presiden, Ibrahim Hussein Zaki mengungkapkan, pihaknya tengah mencari pulau di sekitar India atau Sri Lanka karena memiliki kesamaan budaya dan iklim cuaca. Mereka juga melirik Asia Tenggara dan Australia sebagai pilihan lain. Badan Iklim PBB memperkirakan volume air laut di seluruh dunia akan naik hingga enam meter pada tahun 2100 sebagai imbas dari pemanasan global.