Introduksi budidaya nyamplung (Calophyllum inophyllum) kepada petani dengan iming-iming harga jual yang menguntungkan merupakan langkah yang menyesatkan bagi petani saat ini. Hal ini pernah terjadi pada introduksi jarak pagar (Jatropha curcas) yang kemudian mengalami kegagalan di sejumlah daerah.

Dikemukakan Wisnu Martono, peneliti bidang energi yang tergabung dalam Masli (Masyarakat Akuntansi Sumberdaya Alam dan Lingkungan), diperlukan penelitian yang lebih mendalam termasuk aspek skala keekonomian baik di tingkat petani maupun industri, sebelum memperkenalkannya kepada petani.

Dalam hal ini, menurutnya, harus dibedakan keekonomian pada skala industri dan skala petani. ”Industri punya kemampuan untuk mengolah semua bagian biji nyamplung menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, sedangkan petani hanya tahu menjual bijinya saja. Inilah yang harus dipertimbangkan,” kata Wisnu.

Lebih ekonomis

Belakangan ini disebut-sebut biji nyamplung secara finansial menguntungkan dalam penjualannya dan menghasilkan bahan bakar nabati (BBN) yang murah. Biji nyamplung yang diperkirakan kadar minyaknya 40 persen dinilai lebih ekonomis daripada jarak pagar.

Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan seliter minyak jarak dibutuhkan sekitar 4 kilogram biji jarak. Adapun untuk menghasilkan seliter minyak nyamplung hanya dibutuhkan sekitar 2,5 kilogram biji nyamplung.

”Namun, dalam hitungan yang lebih mendetail, hasilnya jauh di atas harga solar tanpa subsidi. Jadi, secara ekonomis belum dapat bersaing dengan solar,” ujar Wisnu.

Tatang Hernas Soerawidjaja dari Institut Teknologi Bandung mengatakan, nyamplung berpotensi menjadi komoditas unggulan Indonesia. ”Indonesia adalah negeri tropis bergaris pantai terpanjang di dunia. Karena itu, tidak ada negara yang bisa menandingi potensinya dalam membudidayakan nyamplung sebagai pohon pantai dan tahan air asin,” ujarnya.

Biji nyamplung diketahui berpotensi menghasilkan minyak yang setara dengan minyak tanah atau kerosen. Selain itu, pohon nyamplung dapat berfungsi melindungi dan meneduhkan pantai serta berpotensi produktif menghasilkan minyak-lemak dan obat HIV atau kanker.

Menurut Tatang, sebagai negeri yang dikenal sebagai salah satu negeri berbiodiversitas terbesar di dunia, Indonesia hendaknya memanfaatkan bersama peluang tersebut untuk kesejahteraan masyarakat.

”Saat ini Malaysia sudah mengklaim nyamplung sebagai ”Malaysian tree”. Karena itu, kita harus menggalakkan upaya riset dan pengembangannya supaya realisasi komersialnya tak harus didahului bangsa lain,” ujar Tatang.