Tak pernah ada yang mengira, gadis kecil penjual pisang goreng yang sehari-hari menjajakan dagangannya dikampung-kampung pinggiran kota Bandung itu mampu mendobrak keluar dari berbagai kungkungan keterbatasan, sehingga kelak berhasil sukses seperti sekarang. Tak sanak saudara, ataupun kedua orangtuanya bisa membayangkan, gadis tomboy yang dahulu sering dipanggil dengan sebutan Ujang-Hira (panggilan untuk anak laki-laki) itu bakal menjelma menjadi seorang super-affiliate (seorang yang paling ahli menjual via internet), yang sempat mencapai peringkat 4 dunia, dengan penghasilan mencapai USS 5000 per hari. Tapi itulah yang terjadi, alam telah memilihnya menjadi saksi atas kekuatan maha dahsyat dari sebuah mimpi. Sekaligus menjadi bukti, bahwa segala sesuatu yang dapat diimpikan manusia, pasti bisa pula diwujudkan, betapapun mimpi tersebut sebelumnya tampak begitu liar dan mustahil.

Inilah kisah tentang sebuah mimpi yang jauh melampaui zamannya, dan aktualisasi potensi seorang anak perempuan yang mengalahkan berbagai keterbatasan, kekurangan, dan kemiskinan. Seperti layaknya sebuah legenda, cerita megah itu menampilkan Anne Ahira sebagai tokoh utamanya. Sang pendiri Asian Brain, sebuah sekolah Online Marketing yang memiliki puluhan ribu siswa itu, menginspirasikan suatu pergulatan dan perjuangan hidup yang secara esensial mirp dengan yang dilakukan oleh R.A. Kartini, melalui surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar.

Keberhasilannya memenangkan pergulatan hidupnya itulah, yang bukan saja mengubah taraf hidupnya dan keluarga, tetapi juga membuat ia memperoleh penghargaan dari Menteri Negara Koperasi dan UKM sebagai satu dari sebelas UKM yang turut mengubah Indonesia. Dan sejak saat itu dia sering dipanggil Pak Menteri Suryadharma Ali, untuk mengajar dan memberikan inspirasi kepada sejumlah UKM dan Koperasi. Hingga pada puncaknya, Ahira bahkan diminta untuk memberikan presentasi di Forum APEC, dihadapan para delegasi dari 26 negara.

Begitulah kekuatan magis sebuah mimpi dalam mengubah arah sejarah kehidupan. Mimpi yang sering muncul dalam bentuk hasrat, keinginan kuat yang konsisten sehingga ingin selalu kita tunaikan, adalah bahasa Tuhan dalam menunjukkan arah yang mesti kita tuju. Dahulu, pada saat kita masih belia, mimpi seperti itu terlihat begitu jelas dan terasa sangat mungkin terjadi. Kita semua tidak takut untuk bermimpidan mendambakan segala yang kita inginkan dapat terwujud. Tapi sayang, dengan berlalunya waktu, suatu daya misterius mulai meyakinkan kita, bahwa mustahil rasanya untuk mewujudkan semua mimpi tersebut. Tapi sebaliknya, begitu seseorang mampu dan tahan untuk terus menggenggam mimpi dan hasrat yang bersumber di dalam jiwa alam semesta, maka segenap alam semesta akan berkonspirasi untuk membantu meraihnya.

Demikianlah kesaksian seorang Anne Ahira, yang sejak kecil telah memilki banyak mimpi dan fantasi yang sangat “liar”, khususnya jika diukur dari keadaan ekonomi orang tuanya. “Pada saat saya berumur 7 tahunan, bapak saya kena tipu sehingga seluruh gajinya harus disetorkan ke bank!. Karena itu seluruh anggota keluarga harus bekerja. Setiap pagi saya berangkat ke sekolah membawa tas yang berisi buku dan pisang goreng, untuk saya jual disekolah, kadang saya titipkan ke warung. Pulang sekolah saya berjalan kaki sejauh 3 km melewati sawah-sawah, untuk menjajakan pisang goreng yang tersisa kepada petani. Sepanjang perjalanan, pesan ibu terus mengiang;kalau kamu tidak berjualan pisang goreng kita nggak ckup makan dan kamu nggak bisa nerusin sekolah. Kondisi itulah yang kemudian menempa rasa tanggung jawab saya”, ungkap Ahira, saat mengenang masa kecilnya yang serba susah. — continued —