“Pada waktu menjajakan dagangan ke petani itulah saya sering tiduran tiduran diatas jerami sambil menerawang kelangit, seolah-olah berdiskusi langusng dengan Tuhan. Saya melihat burung elang terbang sambil berfikir; kelak saya juga ingin terbang seperti itu, disitu juga saya berfantasi untuk keliling dunia. Ada sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya: apakah 10 s/d 15 tahun mendatang saya masih tetap menjadi penjual pisang goreng? Kalau sudah begitu hati saya menolak!Tuhan…. saya tidak mau…. saya tidak mau….!”.

Itulah masa inkubasi bagi semua mimpi-mimpi Ahira, termasuk keinginannya untuk dapat berkeliling dunia. Pada satu sisi, mimpi itu adalah tanda-tanda yang akan menuntunnya untuk menemukan legenda pribadi, tapi pada sisi lainnya ia juga merupakan ujian atas iman dan keyakinannya. “Entah bagaimana saya selalu menuliskan mimpi-mimpi saya, ingin punya sepatu roda, ingin sepeda, ingin punya rumah besar dan punya banyak mobil, serta ingin keliling dunia. Semua daftar rincian itu selalu saya bacakan, pada waktu ngomong sama Tuhan diatas jerami, karena khawatir tidak dicatat, Tuhan jadi bingung karena saya banyak permintaan. Pada awalnya mama marah-marah karena saya sering menggunting gambar-gambar kota Paris, kota-kota di Eropa dan Amerika yang ada di kalender sebelum habis masanya. Gambar itu saya jadikan backround guntingan foto-foto saya, sehingga seolah-olah saya sudah pergi kesana, dan kemudian saya pasang dikamar. Jadi sebelum tidur saya selalu melamun melihat foto tersebut. Saya bayangkan, oh iya ya sudah ke Amerika, oh iya ya sudah ke Paris, dan kalau sudah melamun seperti itu baru saya bisa tidur. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang saat itu sedang sulit, kadang ibu saya menjadi frustasi, sedih melihat anaknya banyak keinginan dan bermimpi macam-macam. Suatu hari, saya diseret sama mama ke depan cermin; ngaca kamu, lihat dicermin, kamu itu siapa? Kamu ini bukan anak orang kaya, mama kamu ini hanya seorang penjual pisang goreng, papa kamu itu hanya seorang karyawan biasa. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh, yang penting kamu sekolah yang pintar. Pada kondisi seperti itu, kakek saya bilang; “Jika kamu punya cita-cita daripada ngomong ke mama kamu nanti malah dimarahin terus, lebih baik ngomong saja sama yang diatas! Kalau kamu minta terus setiap hari ke Tuhan, pasti dikabulkan.” Itulah awalnya, saya jadi suka tiduran diatas jerami untuk ngomong sama Tuhan.

Turning Point

Seperti kata sebuah lagu; tak selamanya mendung itu kelabu! Sang mama yang selama ini selalu menentang semua mimpi-mimpinya, suatu hari berkata; “Kalau kamu ingin berkeliling dunia, kamu harus bisa bahasa Inggris, kalau nggak bisa bahasa Inggris ya nggak bisa keliling dunia”. Bagaikan minyak menyiram bara dalam sekam, berkobarlah nyala antusiasme Ahira untuk mengambil kursus Bahasa Inggris. “Untuk bisa membiayai kursus saya esti melakukan pekerjaan ekstra dengan jualan es dan bahkan membantu bapak saya jadi kernet angktan umum secara paruh waktu. Sepulang sekolah dan jualan, saya memperoleh duit tambahan untuk membayar kursus Bahasa Inggris. Pada waktu masuk SMP, saya sering jalan-jalan ke Braga (nama sebuah jalan dikota Bandung) karena ingin ketemu bule untuk bisa praktik bahasa Inggris. Jadi kalau ketemu bule saya menawarkan diri untuk menjadi guide gratis. Dari situ, suatu kali ada seorang warga negara Amerika yang bersimpati, sehingga sering kontak dan terus berkomunikasi, sampai akhirnya bule itu mengadopsi saya menjadi anaknya, sampai sekarang.

Singkat cerita, pada saat lulus SMA, sya sudah lancar berhasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Korea. Meski begitu saya masih dalam pencarian jati diri. Misalnya setelah lulus kuliah, saya tidak mau hanya mendapat gelar, karena apa bedanya dengan ratusan ribu lulusan kuliah di seluruh Indonesia? Karena saya melihat fakta begitu banyak lulusan sarjana dari perguruan tinggi terkenal, tetapi masih menganggur, kalau toh sudah bekerja, kadang nggak nyambung dengan studinya. Dengan nilai Ebtanas tertinggi se-Bandung Raya, saya bisa diterima di Unpad, tetapi saya memutuskan masuk STBA. Pada masa-masa inilah saya mulai memberikan kursus Bahasa Inggris, mengajar orang-orang kaya yang memiliki banyak teman, yang kebanyakan punya pabrik tekstil dan pabrik plastik di Bandung. Penghasilan saya dari mengajar ekspatriat waktu itu Rp. 15 Juta / bulan, wah saya menjadi mahasiswa kaya. Tapi saya sadar, kalau saya nggak ngajar, maka saya nggak punya uang. Saya nggak mau seperti itu. Saya mau duit selalu mengalir seperti air yang mengalir terus, dengan sekali pasang paralon. Pada saat itulah saya mulai melihat internet, dimana internet memberikan peluang seperti yang saya inginkan, kalau saya ingin kemana aja; ke Australia, ke Amerika, ke Eropa, selama ada laptop dan koneksi online, maka bisa menjadi kantor saya. Dunia internet itulah yang dapat mewujudkan keinginan saya untuk terbang tanpa perlu khawatir pada masalah uang. — continued —