Ucapkanlah istighfar saudaraku, berdzikirlah selalu saudaraku, doakan keberkahan selalu menyertaimu, doakan engkau dianugerahi hati yang lembut, selalu ingat pada Penciptamu saudaraku, setiap detik waktumu, setiap helaan nafasmu.

Beginilah jadinya jika engkau terus memelihara pemikiran sekulermu. Antar saudara mu dengan alasan tugas dan profesionalisme kerja yang tidak dibarengi dengan keimanan, engkau tega saling bunuh, saling caci saling benci.

Lihatlah saudaraku, buka matamu lebar-lebar, buka pikiranmu, apa yang terjadi di Tanjung Priok, merupakan tragedi berdarah yang kesekian kali di bumi Indonesia ini. Tidakkah engkau berfikir mengapa ini terjadi? Tidakkah profesional kerja dan kepatuhan pada perintah pimpinan sudah menjadi Tuhan baru bagimu? Diatas segalanya sehingga engkau sanggup mengatakan “sami’na waato’na” pada Tuhan barumu, mampu menggerakkan tanganmu untuk memukul saudaramu sendiri? mampu menggerakkan kakimu untuk mengejar saudaramu yang lain yang sedang ketakutan? Mampu memfokuskan pikiranmu untuk hanya membunuh saudaramu yang sedang lemah tak berdaya? Astaghfirullahaladziim.

Inikah potret sebenarnya negeri ini? potret dimana pimpinanmu menjadi Tuhanmu? potret dimana uang menjadi Tuhanmu? Potret dimana pekerjaan menjadi Tuhanmu? Potret dimana kepentingan sesaat menjadi Tuhanmu? potret dimana institusi menjadi Tuhanmu?

Tidakkah engkau lihat kita sedang mengundang murka Allah saudaraku? Tidakkah engkau lihat bumi pertiwi ini menangis tersedu-sedu? Tidakkah engkau lihat penduduk langit mengurut dada dengan perbuatanmu?

Peristiwa Tanjung Priok adalah segelintir peristiwa biadab dari begitu banyaknya peristiwa biadab dinegeri ini. Sementara engkau berkoar-koar bahwa engkau adalah bangsa beradab? Dimana keberadabanmu saat engkau dihadapkan pada kebutuhan perutmu? Dimana keberadabanmu saat engkau dihadapkan pada perintah membunuh saudaramu yang keluar dari mulut pimpinanmu?

Patutkah engkau dikatakan beradab? Patutkah negeri ini berbangga dengan penduduknya? Dan patutkah Allah SWT menurunkan Rahman dan Rahiimnya untuk engkau dan negeri ini?

Bagaimana bisa seorang saudara membunuh saudaranya yang lain hanya karena masalah yang sebenarnya bisa didudukkan dan dibicarakan? Terkecuali kita diserang oleh negara lain untuk menjajah negeri ini, maka halal bagimu untuk membunuh agresor tersebut.

Begitu pentingkah Walikota dan perangkatnya bagimu? Begitu pentingkah Gubernur dan perangkatnya bagimu? Begitu pentingkah Presiden dan perangkatnya bagimu? Begitu pentingkah Pelindo dan BUMN lainnya bagimu? Begitu pentingkah Kapolri dan perangkatnya bagimu? dibandingkan perintah Allah SWT dan Rasulullah saudaraku?

Apakah engkau berfikir mereka yang memberimu rezeki sehingga nyawapun berani engkau pertaruhkan, hati nuranimu berani engkau khianati, akal sehatmu berani engkau campakkan, keimananmupun engkau cabut dari ruhmu? Sekali-kali tidak saudaraku, bukan mereka yang memberimu rezeki dan kenikmatan, hanya ALLAH AZZA WAJALLA yang memberikan semua itu padamu, dan engkaupun mendustakan-Nya?

ASTAGHFIRULLAHALADZIIM

Mari saudaraku, mari angkat tanganmu mohon ampunan-Nya, mari saudaraku, mari sujudkan kepalamu menyembah-Nya, mari saudaraku, mari keluarkan airmata penyesalan dari kemusyrikan dan kebiadaban yang telah kita perbuat, Allah SWT maha Rahman maha Rohiim, Maha pengampun, mari saudaraku, tiada yang lebih indah dari perdamaian, persaudaraan, rangkullah saudaramu yang lain, peluklah dia dengan keiikhlasan, pandang matanya dengan pandangan kasih sayang, kembalilah pada khittahmu saudaraku, bahwa engkau hanyalah seorang Hamba Allah, tugasmu didunia in hanya utuk menyembahNya