Remaja dengan riwayat penggunaan crack atau kokain secara signifikan lebih mungkin untuk terlibat dalam kegiatan seks yang tidak aman dibandingkan dengan remaja yang tidak pernah menggunakan obat-obatan ini, yang menempatkan diri pada peningkatan risiko untuk HIV, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Child and Adolescent Substance Abuse edisi bulan April 2010.

Para peneliti dari Bradley Hasbro Children’s Research Center melaporkan bahwa remaja dalam perawatan psikiatris yang menggunakan crack dan atau kokain setidaknya sekali adalah enam kali lebih mungkin untuk tidak menggunakan kondom secara konsisten, yang didefinisikan sebagai “kadang-kadang,” “pernah” atau “jarang.” Temuan menunjukkan bahwa kokain tampaknya memiliki lebih banyak pengaruh terhadap perilaku berisiko remaja dari faktor-faktor lain, seperti penggunaan alkohol dan mariyuana, yang lebih rutin dimasukkan ke dalam intervensi pencegahan HIV pada remaja.

Studi ini adalah salah satu yang pertama untuk melihat hubungan antara penggunaan crack dan kokain dan perilaku risiko HIV pada remaja. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan ini pada orang dewasa.

“Seks tanpa pengaman adalah cara yang paling umum untuk penularan HIV di kalangan remaja, jadi jika kita dapat mengembangkan gambaran yang lebih jelas tentang mengapa beberapa anak terlibat dalam perilaku seksual berisiko tinggi, kita akan lebih siap untuk mendidik mereka mengenai seks yang aman,’ kata ketua penelitian Marina Tolou-Shams, PhD dari Bradley Hasbro Children’s Research Center. ”Temuan kami menunjukkan bahwa intervensi masa depan terhadap pencegahan HIV harus mencakup konten yang spesifik untuk penggunaan crack dan kokain, seperti yang telah dilakukan untuk obat-obatan yang umum digunakan oleh para remaja, seperti alkohol dan mariyuana.”

Secara keseluruhan, hampir 280 remaja berusia antara 13 dan 18 tahun dari program terapi psikiatris mengambil bagian dalam studi ini. Para peserta memberikan berbagai diagnosa psikiatri, termasuk gangguan suasana hati, stres paska trauma dan gangguan perilaku yang mengganggu. Lebih dari separuh dari semua remaja adalah laki-laki, dan lebih dari tiga perempat adalah Kaukasia. Sekitar 13% dari remaja dalam penelitian telah melaporkan pernah mencoba crack atau kokain setidaknya satu kali.

Setelah mengendalikan faktor risiko HIV pada remaja yang dikenal, seperti jenis kelamin, ras, usia dan status psikiatri, peneliti menemukan bahwa hanya 47% dari remaja dengan sejarah penggunaan crack dan atau kokain mengatakan mereka menggunakan kondom “selalu atau hampir selalu”. Selain itu, 15% dari remaja ini memiliki sejarah penyakit menular seksual, hampir tiga perempat melaporkan penggunaan alkohol setidaknya sekali dan lebih dari separuh melaporkan pernah menggunakan mariyuana sebelumnya.

Sebagai perbandingan, 71% dari remaja yang tidak pernah menggunakan crack atau kokain melaporkan penggunaan kondom secara konsisten.

Tolou-Syams mengatakan adalah penting untuk melihat hubungan antara penggunaan crack dan kokain dan perilaku berisiko pada remaja dengan gangguan jiwa, karena penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa remaja dalam perawatan kesehatan memiliki tingkat perilaku seksual yang berisiko tinggi dan lebih cenderung terlibat dalam penggunaan zat.

“Penelitian kami jelas menunjukkan bahwa remaja dalam perawatan psikiatris juga menggunakan zat lain – dan bukan hanya alkohol atau mariyuana – dalam tingkat tinggi dan bahwa sejarah penggunaan obat-obatan harus diwaspadai dokter untuk berbagai risiko perilaku yang mungkin dilakukan oleh pasien muda mereka, “tambahnya.

Penulis menganjurkan agar semua dokter yang mengobati remaja – termasuk dokter anak, pekerja sosial dan psikolog – secara rutin membahas riwayat kesehatan mental, penggunaan zat dan kegiatan seksual pasien mereka, serta memberikan intervensi yang sesuai ketika diperlukan untuk mengurangi risiko HIV.

Penelitian ini didukung oleh hibah dari National Institute of Mental Health and the Lifespan/Tufts/Brown Center for AIDS Research (CFAR).

Tolou-Syams juga seorang asisten profesor psikiatri di The Warren Alpert Medical School of Brown University. Rekan penulis studi termasuk Larry K. Brown, MD, dan Nicholas Tarantino, BS, dari Bradley Hasbro Children’s Research Center dan Alpert Medical School, dan Sarah W. Ewing Feldstein, PhD, dari University of New Mexico.